icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Ratu Kerajaan Niskala

Bab 5 Peringatan Dari Sang Raja

Jumlah Kata:730    |    Dirilis Pada: 02/07/2023

mata itu karena kekhilafan saya. Bertahun-tahun saya menjadi istri panjenenga

ama putrinya, Lintang Alit. Sekujur punggungnya bertorehkan darah yang men

hun-tahun bersama adikku hingga melahirkan Lintang Alit. Dan aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu." Raden

gantian dia menatap Raden Eka Kencono dan Putri Lintang Alit. Berusaha memperhatikan setiap detil gar

Putri Lintang Alit?" tanya Putri Candra Utari. Rasa penas

sepatah pun pertanyaan Putri Candra Utari. Tangan kukuh

Alit. Romo mengajakmu ke sini untuk memberitahumu tentang masa tah

i Raden Eka Kencono berkata tegas tanpa menunjukkan senyu

dengan sebaik-baiknya." Putri Candra Utari sediki

i Wulan dan Putri Lintang Alit, Raden Eka Kencono pun meningg

pemb

wab Putri Candra Utari sepenuhnya. Sang Raja sengaja melakukannya untuk memastik

ia berjalan menuju ke meja makan besar yang ada di sudut kamar. Sebuah tudung saji bulat terbuat dari rotan, dibuka oleh Dewi Candra

rjalan mendekati Dewi Candra Utari sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dewi C

menabrak dinding. Sigap Ki Arto dan Ki Bagong menangk

pengawas tahanan saat ini. Jika terjadi sesuatu pada pengawas tahanan atas ulah tahanan, maka kami berkew

nya yang sempat sedikit berubah letak. Lantas dia mengeluarkan

njadi lebih baik. Jika satu kali lagi kamu melakukan hal nista s

ut di depan Putri Lintang Alit. Dewi Wulan yang masih terus meringis

ini. Saya mohon pengampunanmu, Ananda." Dewi Wulan berusaha terus memohonkan ampun atas dirinya dan Putri

yangan tubuh ibunya, Dewi Arum, yang tengah terbaring lemah membuat Dewi Candra

si mereka berdua. Saya hendak menjenguk Patih Dimas S

?" ujar Ki Arto yang menatap Dewi

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ratu Kerajaan Niskala
Ratu Kerajaan Niskala
“Menjadi anak dari seorang permaisuri, tidak lantas menjadikan Putri Candra Utari menjadi seorang putri raja yang memiliki kehidupan nyaman. Karena Sang Ayah, Raden Eka Kencono memiliki lima orang istri selir. Masing-masingnya memiliki putra putri kecuali istri selir ketiga yang bernama Ratu Alit Ratri. Ketika Putri Candra Utari telah memasuki usia dewasa, tibalah saat pengukuhan Sang Putri untuk menjadi pewaris utama pimpinan kerajaan. Dan saat itulah, berbagai macam konflik muncul secara berentet. Namun, Putri Candra Utari telah dididik oleh ibundanya, Ratu Arum, untuk menjadi seorang wanita yang teguh pada prinsip hidup. Dan bekal ilmu kanuragan yang dimilikinya tidaklah main-main. Putri Sekar Buana, Putri Lintang Alit, dan Putri Pupus Cantika adalah para putri dari istri-istri selir. Mereka bertiga selalu mencari peluang untuk menghancurkan kedudukan Putri Candra Utari sebagai Putri Mahkota. Bahkan hingga mendekati waktu pernikahan Putri Candra Utari pun, ketiga putri dari para istri selir itu masih membuat masalah. Merasa tidak betah dengan kelakuan para saudara tirinya, Putri Candra Utari memutuskan untuk sementara waktu keluar dari istana dan menambah ilmu kanuragan ke kampung Bebrayan. Kampung yang dikenal sebagai tempat asal para pendekar. Ada sebuah perguruan yang sangat terkenal di sana bernama Perguruan Langit Ageng yang dipimpin oleh Ki Bayu Seno. Seiring perjalanan waktu, akhirnya Putri Candra Utari mendirikan sebuah kerajaan kecil di desa terpencil yang berada tidak jauh dari kampung Bebrayan. Kerajaan itu diberinya nama Kerajaan Wulan Katigo. Yang pada akhirnya,tiga tahun kemudian kerajaan kecil itu memiliki kebesaran nama sebagai kerajaan yang makmur. Tepat di tahun ketiga itulah, terbetik kabar bahwa Kerajaan Niskala, kerajaan ayahnya, telah mengalami berbagai macam pemberontakan. Kehidupan ekonomi kerajaan tersebut sudah berada di ambang kehancuran. Putri Candra Utari berniat untuk membantu kerajaan Sang Ayah, tanpa mengungkapkan jati dirinya. Sang Putri selalu mengenakan topeng dan mengaku sebagai Pangeran Layang Jembar. Hingga berulang kali kerajaan Nirpala menemui kemenangan. Namun, di tengah-tengah setiap pertempuran yang dilakukannya, selalu ada sekelompok penyusup yang mengenakan tanda tertentu dan dipimpin oleh seseorang yang juga mengenakan topeng. Tak pernah ada yang mengetahui siapa dan dari mana prajurit bertipeng itu. Mereka datang dan pergi dengan tiba-tiba. Akankah Sang Putri dapat mencegah pengambilan kekuasaan kerajaan Niskala dari tangan orang-orang yang tidak berhak? Dan bagaimana Sang Putri menunjukkan jati diri dia yang sebenarnya? Lantas siapakah sesungguhnya para prajurit bertopeng itu?”