icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Ratu Kerajaan Niskala

Bab 2 Kanjeng Ratu Dewi Arum

Jumlah Kata:706    |    Dirilis Pada: 02/07/2023

ri Candra Utari pada Ki Bimo, tabi

kepala. Wajahnya terlihat muram. Tangannya sibuk memilah beberapa h

tas tempat tidurnya. Sekilas nampak seperti seseorang yang tertidur pu

rang, Kanjeng Putri. Harapan saya satu-satunya pada ramuan yang tad

buncah dalam dadanya. Mengapa dia tadi tidak bersikap waspada saat membawa ramuan

kunyit seperti yang panjenengan perintahkan, bokor yang saya bawa ter

menepuk keningnya. "Akar tanaman sebagai bahan dasar ramuan itu

ak mampu dia tepiskan dari hatinya. Tak mampu pula dia angkat wajahnya u

i. Saya akan lakukan apapun demi keaembuhan ibu

. Hanya saya sendiri yang bisa mendapatkan akar tana

atas meja besar di sudut kamar. Mengemasi beberapa barang yang ada di atas me

ong, setiap pagi dan sore, tempelkan tumbukan dedaunan ini di kening Kanjeng Ratu. Sekitar t

Putri Candra Utari. Berjalan cepat menuju ke halaman depan keputren. Suara siu

uat wanita utama dalam pemerintahan Kerajaan Niskala. Sang Ratu Dewi Arum. Yang tengah

i Candra Utari segera menghapus air matanya. Mendonga

yang berat dan berjalan dalam tempo yang teratur. Langkah

tanya Raden Eka Kencono kepada Putri Candra Utari ya

i Bimo sedang mencari akar tanaman yang menjadi bahan dasar ramuan tersebut." Putri Candra Utari menghentikan kalimatnya sesa

rnya itu. Dia duduk di tepi pembaringan Sang Ratu dan mencium lembut kening D

dia mangkat, tak tahu lagi bagaimana aku harus menjalani sisa hidupku." Baru kali ini Raden Eka Kencono berkata dengan suara lirih.

parau. Lirih, hampir tak terdengar. Berusaha menimbulkan harapan b

r berputar-putar di atas

ngejar waktu," gumam Putr

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ratu Kerajaan Niskala
Ratu Kerajaan Niskala
“Menjadi anak dari seorang permaisuri, tidak lantas menjadikan Putri Candra Utari menjadi seorang putri raja yang memiliki kehidupan nyaman. Karena Sang Ayah, Raden Eka Kencono memiliki lima orang istri selir. Masing-masingnya memiliki putra putri kecuali istri selir ketiga yang bernama Ratu Alit Ratri. Ketika Putri Candra Utari telah memasuki usia dewasa, tibalah saat pengukuhan Sang Putri untuk menjadi pewaris utama pimpinan kerajaan. Dan saat itulah, berbagai macam konflik muncul secara berentet. Namun, Putri Candra Utari telah dididik oleh ibundanya, Ratu Arum, untuk menjadi seorang wanita yang teguh pada prinsip hidup. Dan bekal ilmu kanuragan yang dimilikinya tidaklah main-main. Putri Sekar Buana, Putri Lintang Alit, dan Putri Pupus Cantika adalah para putri dari istri-istri selir. Mereka bertiga selalu mencari peluang untuk menghancurkan kedudukan Putri Candra Utari sebagai Putri Mahkota. Bahkan hingga mendekati waktu pernikahan Putri Candra Utari pun, ketiga putri dari para istri selir itu masih membuat masalah. Merasa tidak betah dengan kelakuan para saudara tirinya, Putri Candra Utari memutuskan untuk sementara waktu keluar dari istana dan menambah ilmu kanuragan ke kampung Bebrayan. Kampung yang dikenal sebagai tempat asal para pendekar. Ada sebuah perguruan yang sangat terkenal di sana bernama Perguruan Langit Ageng yang dipimpin oleh Ki Bayu Seno. Seiring perjalanan waktu, akhirnya Putri Candra Utari mendirikan sebuah kerajaan kecil di desa terpencil yang berada tidak jauh dari kampung Bebrayan. Kerajaan itu diberinya nama Kerajaan Wulan Katigo. Yang pada akhirnya,tiga tahun kemudian kerajaan kecil itu memiliki kebesaran nama sebagai kerajaan yang makmur. Tepat di tahun ketiga itulah, terbetik kabar bahwa Kerajaan Niskala, kerajaan ayahnya, telah mengalami berbagai macam pemberontakan. Kehidupan ekonomi kerajaan tersebut sudah berada di ambang kehancuran. Putri Candra Utari berniat untuk membantu kerajaan Sang Ayah, tanpa mengungkapkan jati dirinya. Sang Putri selalu mengenakan topeng dan mengaku sebagai Pangeran Layang Jembar. Hingga berulang kali kerajaan Nirpala menemui kemenangan. Namun, di tengah-tengah setiap pertempuran yang dilakukannya, selalu ada sekelompok penyusup yang mengenakan tanda tertentu dan dipimpin oleh seseorang yang juga mengenakan topeng. Tak pernah ada yang mengetahui siapa dan dari mana prajurit bertipeng itu. Mereka datang dan pergi dengan tiba-tiba. Akankah Sang Putri dapat mencegah pengambilan kekuasaan kerajaan Niskala dari tangan orang-orang yang tidak berhak? Dan bagaimana Sang Putri menunjukkan jati diri dia yang sebenarnya? Lantas siapakah sesungguhnya para prajurit bertopeng itu?”