icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Anak Milik CEO

Bab 5 Kedekatan Regan dengan Aiden

Jumlah Kata:980    |    Dirilis Pada: 15/06/2023

dian di rumah Agneta. Anak itu, Regan. Ada perasaan lain yang dapat dirasakan oleh Davero, tetapi ia tak tahu apa yang terjadi. Sentuhan tangan mung

dan menghubungi seseorang

kehidupannya dan lap

up, Davero menenggak minumannya t

ni, sedangkan aku harus menyelesa

n?" gu

wakilmu di perusahaan! Aku datang sebagai

udah berpengalaman. Jadi wajar

engan santai sambil m

n ini, aku jadi tidak ada waktu untuk pacarku!" ucapn

bur Dave sambil kembali menuangka

ya Aiden, dia tidak terbiasa untuk berada

rtemu lagi dengan

gernyit, ia tidak yakin mengen

nah hadir di masa laluku,"

" tanya Aiden memperhatikan waja

tu karyawan di

eal

mengangg

mpit," kata Aiden sambil tertawa

pengawasan kita dan kau pasti tak akan mengenalnya

iapa gadis itu." Aiden menggosokkan t

huinya," gumam Davero kemudian mene

dari apartemen Davero. Di halaman, ia berpapasan denga

g akur," ujar A

ucap pria yang memiliki jambang

i. Ada apa?" tanya

kan bahunya. "Mungkin aku

ria yang tidak memiliki

eka pada sahabatnya yang begitu keras kepala dan dingin. Fakta lainnya, Kay dan Key memiliki banyak perbedaan dan mereka sangat benci dibilang mirip satu sama lain. Kay yang lebih memiliki perawakan tubuh ramping dan kekar, wajahnya juga ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar rahangnya. Sementara Key sering disebut pr

a kalian datang malam-ma

ya ada pekerjaan penting!" jawab Key

sudah. Masuk sana sebelum d

inap di sini, Ai

endiri. Untuk apa menumpan

ami masuk dulu dan sampai

ggalkan Aiden sendirian yang mela

*

n bermain ke tempat wisata yang ada di Jakarta. Regan sudah merasa

an tersenyum lebar. Namun, entah kenapa pikiran Agneta tidak bisa berada di tempat yang sama. Pikirannya melayang jauh, mungkin sekali memikirkan Davero. Yah, mungkin karena pria itu kembali mengusik pikirannya dan menyita segalanya. Agneta

Aiden mengecup

adar kemudian ters

cap Regan yang sudah d

Sayang? Biar Bunda b

us," ja

ias karena itu merupakan jus kesukaannya. "Baiklah, biar Ayah

und

Sayang?" ta

ang lagi?" tanya Regan dengan b

tanya Agneta ketus, itu membuat Rega

salah, Bund

nak pada Regan. Agneta hanya takut, sangat takut jika Regan ingi

tak berani bicara lagi sampai Aide

lagi, Jagoan?" tanya Aiden sambil me

capek

saja?" tany

saja, Aiden." Agn

Aiden sambil menggendong Regan

an keluarga kecilnya bersama Aiden dan be

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Anak Milik CEO
Anak Milik CEO
“~Saat melihatnya kembali maka saat itu pula aku tak akan pernah melepaskannya lagi~ Seorang wanita tengah berjalan menuju lift di sebuah gedung pencakar langit. Beberapa berkas berada di dalam pelukannya. Ia menekan tombol lift dan menundukkan kepalanya sambil mengentak pelan high heels hitam yang dipakainya. Ting! Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu lift terbuka lebar dan ia segera memasukinya tanpa pikir panjang. Ia menekan tombol angka sesuai lantai yang hendak ia tuju. Namun, seketika pandangannya tertuju pada seseorang. Suasana di dalam lift itu langsung terasa begitu mencengkam, seperti ada aura gelap dan menakutkan menyelimuti lift. Tentu itu bukanlah karena kehadiran hantu, tetapi makhluk yang lebih menakutkan. Wanita itu langsung menoleh ke belakangnya untuk memastikan apakah pandangannya keliru dan tatapannya beradu dengan mata abu gelap yang begitu tajam milik seseorang yang pernah ia kenal. Orang itu menyeringai kecil dengan tatapan lapar menelusuri seluruh tubuhnya, membuat sang wanita merasa sangat gugup dan ketakutan. "Se-selamat siang, Pak Davero," gumamnya dengan gugup. "Siang," jawabnya dengan suara serak. Pria tinggi nan tampan itu melangkahkan kakinya mendekati sang wanita, membuat sang wanita terperangah dan mundur perlahan. Pria yang dipanggil Davero itu tak menghentikan gerakannya. Ia terus melangkah memojokkan sang wanita hingga menyentuh dinding lift di belakangnya, ia terlihat ketakutan karena sang pria semakin merapat. "Lama tak bertemu," ucap Davero diiringi seringaian yang membuat bulu kuduk berdiri. Sang wanita tak bisa berkutik sedikit pun. Apalagi sebelah tangan pria itu menyentuh dinding tepat di samping kepala wanita cantik itu. "A-apa yang kau inginkan dariku?" tanya sang wanita dengan suara lemah, nyaris berbisik setelah mengumpulkan segenap keberaniannya. "Kau!" Seketika tubuh wanita itu menegang dan merinding karena mendengar bisikan penuh ancaman dan penekanan yang tak terbantahkan. Tanpa sadar wanita itu menahan napasnya karena rasa takut. "You're Mine!"”