/0/14679/coverorgin.jpg?v=c768c147056d564c34be55b532e7bb5e&imageMogr2/format/webp)
Ini hari ke 10 aku tinggal dan bekerja di rumah ini.Rumah yang sangat mewah dan besar berada di kawasan perumahan elite.
Aku di ajak ke sini oleh mbok yem, tetanggaku yang akrab dengan ibuku.Kata mbok Yem majikannya butuh seorang pembantu lagi karena bila mbok Yem sendiri kewalahan mengurus pekerjaan rumah.
Tadinya sudah ada pembantu satu lagi, namun hanya kuat 1 bulan lalu dia meminta pulang kampung tapi tak kunjung datang kembali ke rumah ini.Menjadi pembantu sebenarnya aku terpaksa, karena keadaan ekonomi keluargaku sedang sulit.Di tambah ayahku yang tengah sakit butuh biaya besar untuk berobat jalan.
Sedangkan biaya dari hasil pekerjaanku ketika masih di kampung masih kurang.
Dan gaji dari pekerjaanku di sini lumayan agak besar.
Karena majikanku sanggup membayar kami 3x lipat dari gaji pembantu pada umumnya.
Makanya aku bersedia kerja di sini.
Hari pertama sampai ke sembilan aku bekerja di sini, semua terlihat baik baik dan wajar2 saja.Bos pria bertingkah seolah acuh tak acuh padaku.
Bila ada keperluan dia memanggil mbok Yem, mungkin dia masih agak canggung bila ingin menyuruhku tak seperti bos wanita yang dari hari pertama sampai sekarang tak sungkan menyuruhku.
Namun di hari ini ( hari kesepuluh) bos pria mulai berani menyuruhku bahkan sampai menasehatiku soal pekerjaan yang harus aku lakukan, tapiii dia berani bila bos wanita tidak ada di dekatnya.
Bos pria mulai memperlakukanku dengan perlakuan yang sangat baik. Bisa di bilang "perhatian". Perlakuan nya pada ku sangat berbeda dengan perlakuan terhadap mbok Yem.
"Nur... Nur.. bi nur tolong kesini"
Panggil bos pria dari ruang tengah.
Aku yang sedang mencuci piringbergegas ke ruang tengah menemuinya.
"Iya tuan ada apa?"
Tanyaku agak gugup sambil menundukkan kepala.
"Kamu kalau saya panggil atau saya suruh jangan takut kaya gitu ya, bersikap seperti biasa aja nur. Kaya kamu sama mbok Yem. Kalo sedang ngobrol atau dengar orang bicara jangan nunduk ya"
Ucapnya menasehatiku.
Aku tatap wajahnya sambil menjawab
"Ba...baik tuan"
"Hmmm, ya udah tolong beresin tumpahan kopi saya tadi ga sengaja kesenggol"
"Oh iya tuan"
Aku ke belakang mengambil pelan dan ember.
Ketika hendak membersihkan noda di lantai bos pria menepuk bokongku entah itu di sengaja atau refleksnya karena aku menurutnya hendak melakukan kesalahan.
"Plakk"
bunyi tangan nya menepak bokongku. Sontak saja aku kaget.
"Aw..."
Aku langsung menatap tajam wajah bosku.
Dia langsung beralasan dengan sedikit membentak.
"Nur.. kalo lantai nya kamu pel, nanti lantainya jadi lengket nyebar ke mana mana nodanya, mending kamu lap aja.
Alasannya masuk akal juga, aku tak jadi berburuk sangka padanya.
Lantas aku ganti pelannya dengan kain lap.
Ketika aku sedang mengelap, bos ku sedang duduk di atas sofa wajahnya menghadap ke layar laptopnya namun sesekali dia mengarahkan pandangannya padaku.
Aku arahkan pandangan ku padanya dia langsung fokus kembali pada laptopnya.
Begitu seterusnya dia seperti curi curi pandang.
Setelah selesai mengelap, aku hendak pergi ke kamarku karena ini sudah waktunya aku istirahat.
ketika aku beranjak pergi dia memanggilku lagi.
"Nur, tolong kamu sapu ruang depan terus kamu pel, mau ada tamu penting malam ini?"
"Sekarang tuan?" Keluhku.
"Taun depan nur,. Iyalah sekarang."
/0/17999/coverorgin.jpg?v=7cd5b84b50adac83b77ee926361f65ce&imageMogr2/format/webp)
/0/6521/coverorgin.jpg?v=0dc886fcefd9b9ebecbf37d72dfccdf5&imageMogr2/format/webp)