/0/24873/coverorgin.jpg?v=3bb5d9f52074eb9898689abd6ad7c196&imageMogr2/format/webp)
Lebih dari 200 tahun yang lalu, Bhumi Manggala di kisahkan hanya dikendalikan oleh satu kerajaan agung bernama Amarta Bumi. Pada masa pemerintahan Sri Narpati Balaputradewa, kerajaan ini menjadi begitu berkuasa. Banyak kerajaan kecil yang kemudian tunduk di balik kemegahan sayap-sayapnya. Hampir semua orang kala itu hidup dalam kemakmuran yang sesungguhnya. Rakyat merasa senang, para petinggipun menjadi tenang.
Tetapi, segala sesuatu yang nyaris sempurna, tidak seutuhnya terbebas dari masa yang kelam dan tercela. Karena sepanjang perjalanan sejarah Kerajaan Amarta Bumi. Justru di masa kejayaannya, telah terjadi suatu peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bertepatan pada Wuku Sungsang, Kerajaan Amarta Bumi telah di gegerkan dengan tewasnya seorang Adipati anggota keluarga kerajaan. Lalu tiga hari kemudian, tewas pula Sang Permaisuri.
Banyak yang menduga bahwa peristiwa ini merupakan sebagai bentuk dendam pribadi kepada Sang Prabu Balaputradewa. Tetapi banyak pula yang menduga bahwa peristiwa ini mungkin ada kaitannya dengan ilmu hitam. Karena layon Sang Adipati dan juga layon Sang Permaisuri, di ketemukan dalam keadaan yang membuat hati siapapun menjadi miris.
Sang Adipati yang bergelar Adipati Sukrasana, penguasa Kadipaten Mandura tewas dalam suatu perjalanan bersama para pengawalnya. Adipati Sukrasana merupakan adik ipar Prabu Balaputradewa, suami dari Sekar Kedhaton Amarta Bumi bernama Putri Amba. Layonnya ditemukan dalam keadaan hampir tidak utuh. Leher dan dadanya terkoyak, serta hati dan jantungnya di nyatakan hilang dari tubuhnya. Begitupun Sang Permaisuri yang juga diketemukan tewas dengan keadaan leher terkoyak di dalam kediamannya. Peristiwa yang terjadi dalam rentang masa yang tidak terpaut jauh ini, telah menimbulkan ontran-ontran di kalangan rakyat Amarta Bumi.
Hingga pada suatu malam yang sunyi, setelah satu sasih sejak peristiwa naas itu terjadi. Tepat pada malam purnama bulat sempurna. Hembusan angin yang dinginnya melebihi dinginnya angin bediding bertiup lebih kencang dibandingkan malam-malam biasanya. Kemudian diiringi oleh sergapan kabut tebal kelabu yang terasa merampas pandangan mata.
Di langit yang kelam, suara burung gagak terdengar melengking dan menyayat di angkasa. Betul-betul menimbulkan rasa tidak nyaman di hati siapa pun yang mendengarnya. Bahkan, di kejauhan terdengar beberapa ekor anjing hutan yang menyalak. Bersahutan beradu keras dengan suara burung gagak yang terus saja melengking tiada henti.
Tiba-tiba pintu-pintu gerbang tembok benteng kotaraja telah dihantam oleh kekuatan yang luar biasa. Melemparkan para prajurit yang tengah berjaga.
“Groaarrhh ...!!”
Belum sempat para prajurit yang bertugas nganglang malam itu mencerna dengan apa yang terjadi. Maka segerombolan sosok seperti manusia tetapi berkepala ajag, telah merangsek masuk ke dalam kotaraja dan kemudian melibas siapapun yang ada di hadapan mereka.
*Ajag = Anjing Hutan
“Cepat pukul kentongan!!” Seru seorang Bekel Prajurit kepada anak buahnya yang nampak berdiri dengan kedua lutut hampir bergetar, sedangkan tangannya menjadi lemas seketika.
Melihat anak buahnya yang nampak tidak berdaya, Bekel Prajurit itu akhirnya memukul sendiri kentongan sekeras-kerasnya. Mengejutkan seisi kotaraja yang baru saja terlelap ke alam swapna.
Di sebuah rumah, seorang laki-laki tua yang tengah terlelap di atas pembaringan, seketika terperanjat dan kemudian membangunkan istrinya.
“Ada apa, Kang?”
“Kamu tidak dengar, Nyi. Suara kentongan yang dipukul dalam irama nada titir? Pasti telah terjadi rajapati.”
“Tapi kenapa yang terdengar bukan saja suara kentongan yang di pukul keras-keras. Aku juga mendengar suara burung gagak dan anjing hutan yang saling bersahutan.”
Wajah laki-laki tua itu nampak tegang, rautnya menjadi nyanyang. "Duh, Gusti Hyang Widhi, semoga ini bukan pertanda buruk bagi masa depan negeri ini." ucapnya perlahan. Iapun melihat keluar dari sela-sela lubang kecil di balik dinding rumahnya. Nampak diluar sana kabut begitu tebal yang terasa menghalangi pandangan mata. Dan samar-samar terlihat pergerakan beberapa sosok tubuh yang terlihat menuju kearah Keraton Amarta Bumi. Tetapi, ada juga yang menerobos masuk ke rumah warga, dan terdengar dari dalam teriakan-teriakan yang sangat memilukan.
Terhenyak!
Laki-laki itupun bergegas mendekati salah satu sudut ruangan di dalam rumahnya, dan membuka sebuah pintu jalan menuju ruang bawah tanah. Sebagai seorang bekas prajurit, ia telah mempersiapkan tempat perlindungan dikala terjadi serangan ke dalam kotaraja.
Malam itu, malam yang bagaikan disengat petir di siang buta. Kecemasan segera menyeruak ke seluruh kotaraja Amarta Bumi. Para penduduk yang merasa nyawanya terancam, segera berlari salang tunjang ke berbagai arah untuk menyelematkan diri.
Sementara itu, para prajurit kerajaan mencoba menahan laju Manusia Ajag yang bergerak dampyak-dampyak dan bagai borok terus menyebar ke seluruh kotaraja. Meskipun telah diranjab hujan watang, tetapi para Manusia Ajag itu seperti kebal jenis senjata apapun. Bukannya tumbang, sebaliknya mereka malah bergerak semakin kencang.
“Aaakkhhh ....!!” terdengar jeritan memilukan dari salah seorang prajurit ketika salah satu dari Manusia Ajag itu menerkam dan dengan giginya yang tajam mengoyak lehernya hingga nyaris terputus. Membuat kawan-kawanya yang melihat hal itu bergidik ngeri. Apalagi para Manusia Ajag itu seakan terus berlipat-lipat jumlahnya. Dan mulai mengepung mereka dari berbagai arah.
Di langit kotaraja yang kelam, sosok perempuan buruk rupa berdiri di atas angin nampak tersenyum menyeringai. Di sekelilingnya beterbangan burung-burung gagak yang seolah memberinya kekuatan untuk melayang-layang di angkasa. Sedangkan sorot matanya menatap tajam sosok laki-laki paruh baya yang berdiri di atas Purawacitra (nama pintu gerbang utama Keraton Amarta Bumi).
“Balaputradewa. Aku datang untuk memberikan salam juga untuk menjemput ajalmu.” sahut perempuan berwajah mengerikan itu.
/0/10799/coverorgin.jpg?v=41ce858ca1c9af593b8bde43a5a64adf&imageMogr2/format/webp)