Nadia meremas gaun panjang yang dikenakannya. Ia sangat gelisah tidak tenang, karena hal yang tidak diinginkan telah terjadi padanya.
Pernikahan yang seharusnya tidak terjadi, kini terjadi secara mendadak.
"Jangan bangga kau sudah menjadi istriku. Kau bahkan tidak berhak untuk mengatur-ngaturku," seru Allard, pemuda yang sudah menjadi suami Nadia.
"Kalau bukan karena orang tuamu ... Aku tidak sudi untuk menikahimu. Kau bukan wanita idamanku."
Tidak menjawab, Nadia diam dan menatapnya kesal. Ia sendiri juga tidak ingin menikah dengan laki-laki sombong dan bengis seperti Allard.
Ia cukup tahu, Allard adalah pemuda yang sombong dan kejam. Bahkan beberapa kali ia pernah menjumpai Allard, yang berganti-ganti pasangan.
Kalau ada pilihan lain, pasti ia memilih untuk kabur. Ia juga tidak sudi memiliki suami sombong seperti Allard.
Allard berdecak karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Nadia. Ia melepaskan pakaiannya dan mengambil handuk untuk dibawanya ke kamar mandi.
"Kalau aku lagi ngomong kayak gini ... Kau mendengarnya, bukan?!"
"Ya! Tentu saja aku mendengarnya. Aku tidak tuli, dan aku masih normal. Kalau kau tidak ada niatan buat menikahiku ... Lantas buat apa kau menikah denganku."
Nadia beranjak dari ranjang dengan menatap marah pada suaminya.
Belum genap satu jam acara ijab qobulnya, sudah diawali dengan pertengkaran.
Bahkan ia juga tidak peduli, kalau hari itu juga, pernikahannya akan berakhir.
Ia memang berharap pernikahannya dengan Allard segera berakhir.
"Aku juga tidak ingin menikah denganmu, Tuan Allahrd. Gara-gara pernikahan ini ... Hidupku jadi hancur. Aku bahkan tidak berpikir sama sekali untuk menikah dengan pemuda sepertimu. Di luar sana ... Aku juga memiliki kekasih yang jauh lebih baik daripada dirimu itu. Kau pikir ... Aku tidak pernah tahu seperti apa kelakuanmu di luar! Aku sudah cukup paham dengan kepribadianmu, Tuan Allard!"
Nadia benar-benar dibuat sakit hati oleh orang tuanya.
Papanya sudah terobsesi dengan uang. Bahkan, selama ini papanya banyak memiliki teman kolega bisnis properti.
Tapi ia tidak pernah tahu, seperti apa bisnis yang dijalankan oleh orang tuanya selama ini.
Brak!!
"Berani sekali kau melawanku. Kau tidak pernah tahu siapa aku yang sebenarnya. Aku peringatkan untuk diam! Dan jangan berulah denganku."
Allard menendang kursi yang ada di meja rias Nadia, dengan cukup keras, karena tidak bisa menahan emosinya.
Ia tidak tahu kalau gadis yang dinikahinya itu ternyata cukup berani melawannya. Ia bahkan berfikir, Nadia gadis polos dan cengeng.
"Dengar Nadia! Seorang perempuan ditakdirkan untuk patuh kepada suaminya. Seorang perempuan akan sangat berdosa ... Jika berani melawan suaminya. Kau pikir ucapanmu itu benar. Kau terlihat sangat kasar!"
Nadia membuang muka. Sok bijak Allard mengguruinya. Bahkan dia sendiri sudah sangat sombong dan angkuh pada semua orang.
Setelah mengomeli Nadia, Allard masuk ke dalam kamar mandi. Pemuda sombong itu sedikit membuat ketegangan yang membuatnya semakin muak.
'Aku nggak boleh terlihat lemah didepannya. Apapun yang terjadi ... Aku nggak boleh tunduk padanya. Aku tahu membantah suami itu dosa. Tapi kalau suamiku sudah kurang ajar seperti Allard, apa aku harus diam saja. Bukannya wanita juga berhak untuk membela diri.'
Nadia beranjak dari ranjang dan mengambil pakaian ganti. Dari acara ijab kabul, ia malas untuk mengganti pakaiannya. Ia masih berfikir, sejauh ini ia mematuhi orang tuanya, ia baru sadar sudah dimanfaatkan oleh orang tuanya. Bahkan Ayah kandungnya sendiri, tidak lagi peduli dengan perasaannya.
Nadia sebenarnya tipikal cewek pendiam dan penurut. Tapi upayanya untuk menjadi gadis yang penurut, telah dimanfaatkan oleh orang tuanya, demi mendapatkan uang.
/0/13947/coverorgin.jpg?v=f8b816da23fda6a8a32e06104ed4ce79&imageMogr2/format/webp)
/0/12530/coverorgin.jpg?v=be0f830b602d8f97ae5e967e9f4006f4&imageMogr2/format/webp)
/0/23223/coverorgin.jpg?v=13fafc757166bcc33aaec03226211df6&imageMogr2/format/webp)
/0/8979/coverorgin.jpg?v=3085bd68c195178d7936477ecca1a1a1&imageMogr2/format/webp)
/0/17105/coverorgin.jpg?v=40e37bfaac1da73a3d48e518acb5037d&imageMogr2/format/webp)
/0/16427/coverorgin.jpg?v=73d7cc3ea0bb732e2639d63352fa609b&imageMogr2/format/webp)
/0/2923/coverorgin.jpg?v=68d2838c3ce6df5b17da8ebe41d681e7&imageMogr2/format/webp)
/0/18041/coverorgin.jpg?v=0d8bf0ba9ca6361412f2db79daeed725&imageMogr2/format/webp)
/0/16637/coverorgin.jpg?v=c3d4169a78d92ec9a94f028d3a0c7015&imageMogr2/format/webp)
/0/4254/coverorgin.jpg?v=d84a0741127769f3d57e79c54cb9eefb&imageMogr2/format/webp)
/0/17244/coverorgin.jpg?v=410d268298fe64fbe66826b65da25921&imageMogr2/format/webp)
/0/16751/coverorgin.jpg?v=f612d8dba1185a003f2be71447074c8c&imageMogr2/format/webp)
/0/6665/coverorgin.jpg?v=95620bb7883df9f2de35ae8ace74a672&imageMogr2/format/webp)
/0/16096/coverorgin.jpg?v=15c0e24c8a7ad12a41541555859cb02b&imageMogr2/format/webp)
/0/17239/coverorgin.jpg?v=fb9051abfe928fe97b10451bd3259ec7&imageMogr2/format/webp)
/0/21120/coverorgin.jpg?v=fdd38c3480a108ed83ad83ab658c83c4&imageMogr2/format/webp)
/0/3729/coverorgin.jpg?v=bea84ce318fdd83ba0f93e1e04dff7f6&imageMogr2/format/webp)
/0/24914/coverorgin.jpg?v=d6ad7f73a65af1318f9044f14cb7a14c&imageMogr2/format/webp)
/0/17261/coverorgin.jpg?v=211dec2471a438566a136d1b977f0108&imageMogr2/format/webp)