/0/5299/coverorgin.jpg?v=f04d288bec7c84c404fec4565ec4f6e8&imageMogr2/format/webp)
Pada malam hari, hujan lebat mengguyur Tewo saat Bella Widian menuju Klub Mimpi. Seluruh tubuhnya basah kuyup, tetapi entah bagaimana, dia berhasil menjaga kue yang dipegangnya tetap kering.
Berdiri di depan pintu masuk ruang pribadi, Bella mengulurkan tangan untuk mendorong pintu.
"Vera, selama kamu menghilang selama tiga tahun, Laskar tidak pernah berhenti mencarimu, bahkan untuk sesaat. Dan sekarang, kamu akhirnya kembali!"
Mendengar kata-kata itu, langkah kaki Bella tiba-tiba terhenti.
Vera?
Vera Refandi, mantan pacar Laskar Kordinus?
"Bukankah Laskar ... sudah menikah?" tanya seorang wanita dengan suara yang terdengar lembut.
"Ah, Vera, kamu tidak perlu memedulikan wanita itu. Pada saat itu, ayah Laskar menggunakan nyawamu untuk mengancam Laskar, memaksanya untuk menikah. Jadi, Laskar menikahinya semata-mata demi melindungimu."
"Benarkah seperti itu yang terjadi?" Vera jelas tampak ragu.
"Tentu saja! Kalau tidak, kenapa Laskar menginginkan seseorang yang gemuk dan jelek? Lagi pula, Bella adalah anak yang lahir di luar nikah. Laskar menikahinya hanya untuk membuat ayahnya jengkel, tidak lebih dari sebuah balas dendam!"
Di luar ruang pribadi, Bella merasa dingin, kulit di wajahnya berubah menjadi pucat pasi dengan cepat.
Mengenang malam saat Laskar bertanya padanya apakah dia bersedia menikah dengannya, dia merasa begitu senang sampai tidak bisa tidur sepanjang malam. Dia mengira dirinya sangat beruntung. Namun ternyata, Laskar menikahinya hanya karena dia jelek, gemuk, dan lahir di luar nikah. Dia tidak menyadari sedikit pun bahwa dia hanyalah pion dalam rencana balas dendam.
Bella tidak dapat menahan tawa yang getir, dan tubuhnya sedikit goyah.
Dia mencengkeram gagang pintu sekuat tenaga, mencoba untuk menyeimbangkan diri.
"Omong-omong, sudah lima jam sejak Bella pergi, pastinya dia tidak akan kembali. Gemar Manis berada jauh di pinggiran timur kota, dan perjalanan pulang pergi saja akan memakan waktu lebih dari tiga jam. Lagi pula, tempat itu terkenal dengan antriannya yang panjang setiap hari. Tentunya Bella tidak akan cukup bodoh untuk pergi ke sana, 'kan?"
"Selama Laskar menyuruhnya, jangankan ke pinggiran timur kota, bahkan jika Gemar Manis ada di kota lain, Bella akan pergi ke sana. Siapa yang tidak tahu betapa dia mencintai Laskar? Dia sungguh menyedihkan."
Setelah mendengar kata-kata yang mengandung ejekan ini, Bella memasang ekspresi datar, menarik napas dalam-dalam, mendorong pintu ruang pribadi hingga terbuka, dan melangkah masuk.
Tatapannya dengan cepat tertuju pada sosok seorang pria yang penuh percaya diri dan menawan di tengah ruangan.
/0/21863/coverorgin.jpg?v=bccbf0a59fda46c56f6782b29d239b81&imageMogr2/format/webp)
/0/25397/coverorgin.jpg?v=0cb13dfc914c9b1b60a5b17518e53657&imageMogr2/format/webp)
/0/30898/coverorgin.jpg?v=35adc2cce304bc498ec5d115389029ad&imageMogr2/format/webp)
/0/16492/coverorgin.jpg?v=e0eb82b092970376d0c03ce9f8f19f1d&imageMogr2/format/webp)
/0/7204/coverorgin.jpg?v=326967781583554c572ccd7de2f5b06a&imageMogr2/format/webp)
/0/16383/coverorgin.jpg?v=48f19583495716405ff6084aa3ca3b79&imageMogr2/format/webp)