searchIcon closeIcon
Batalkan
Beranda / Gara Gara Utang
icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gara Gara Utang

Terjerat Nikmat Sesaat

Terjerat Nikmat Sesaat

Fajar Merona
Jangan pernah baper atau...
Romantis R18+KeluargaPengkhianatanHubungan rahasiaBudak seksualUrban
Unduh Buku di App

Aku menembus jalan terjal mengendarai sepeda motor. Kakiku berkali-kali harus memijak tanah untuk menjaga agar motor tetap stabil, membuat sepatuku berdebu tebal. Terjal, berdebu, dan kadang-kadang harus mendaki bukit berbatu kerikil yang licin. Seperti itulah medan jalan yang harus kutempuh.

Desa yang kulalui ini cukup terpencil. Tapi karena sebuah tugas mulia, aku harus menyusurinya dengan sabar. Kira-kira, setiap setengah jam sekali, aku harus berhenti sejenak, menyandarkan motor dan bertanya kepada penduduk sekitar.

"Pak, bisa tanya, dimana SD Negeri ya?"

"Apa masih jauh dari sini?"

"Nanti dari sini belok kemana?"

Itu adalah deretan pertanyaan yang aku ulang-ulang setiap kali berpapasan dengan penduduk sekitar. Petani, peternak bebek, dan ibu-ibu yang menenteng rantang, siapapun aku tanyai. Maklum, selain baru pertama menjelajahi daerah itu, aku kesulitan menemukan tempat yang harus kutuju karena sepanjang perjalanan, tidak banyak ancar-ancar yang bisa aku jadikan patokan. Hanya sawah menghijau, kebun, dan rumah-rumah penduduk yang tak banyak berbeda satu dengan lainnya. Karena takut nyasar lebih jauh itulah, aku harus rajin-rajin bertanya kepada penduduk sekitar yang berpapasan denganku.

"Oo, Nanti bapak terus kira-kira 500 meter. Di situ ada poskamling, belok kanan." jawab seorang petani yang sedang mengikat jerami.

"Berarti tidak jauh lagi," gumamku. "Terima kasih, Pak..." balasku kepada petani ramah itu.

Sebenarnya rada gondok juga sewaktu petani tua itu memanggilku dengan sebutan ’Bapak’. Aku masih 25 tahun, single, dan berperawakan seperti anak muda lazimnya. Tak berkumis, dan rambutpun masih hitam tebal. Aku sering melatih ototku ketika masih tinggal di kota. Seminggu dua kali, aku angkat barbel dan lari di atas treadmill. Tak heran, walaupun medannya berat, tenagaku tak terkuras. Aku masih kuat mencari tempat yang harus kutuju.

Pukul 8.35, aku menemukan SD yang kumaksud. Hmm, tipikal SD negeri di desa. Halamannya tidak terlalu luas dengan tiang bendera di bagian tengahnya, cukup untuk menampung belasan anak saat upacara. Gurunya pun pasti juga tidak terlalu banyak, tebakku. Walaupun kecil, halamannya cukup rapi. Bunga-bunga di tata di sekitar selasar sekolah. Aku tak terlalu mengamati kompleks sekolah itu terlalu lama karena hari mulai siang.

Buru-buru, di tengah kesunyian sekolah karena anak-anak sedang menjalani ujian, aku mencari kantor kepala sekolah, mengetuk pintu, dan menunggu siapapun yang keluar dari ruang bertuliskan ’Kepala Sekolah’ itu. Tak berapa lama, gagang pintu itu seperti ditekan ke bawah dan pintu coklat yang terbuat dari kayu itupun serasa ditarik dari dalam.

"Maaf, saya mencari Bu Irda," sapaku kepada seorang wanita yang membuka pintu itu.

Seorang wanita berpakaian dinas berwarna coklat, berdiri di hadapanku. Wanita itu sepertinya belum terlalu tua. Mungkin berusia 30 tahunan. Tubuhnya mungil namun wajahnya manis. "Oh ya, saya sendiri..." jawabnya dengan intonasi yang cukup jelas. "Kamu Alfred kah?" tebaknya.

"Benar, bu. Saya Alfred, utusan dari dinas kota." aku menjelaskan.

Tangannya yang halus menjabat tanganku. Bu Irda mengenakan kacamata berbingkai tebal sehingga menambah aksen manisnya. Hidungnya mancung dan ia memiliki alis yang lebat. Setelah mempersilakan masuk, ia berbalik dan saya menguntitnya dari belakang. Rambut hitamnya terurai hingga menutupi pundaknya. Benar-benar terawat!

"Kita sudah menunggumu," kata Bu Irda mengawali pembicaraan ketika kami duduk. Ia memberi kode kepada seorang lelaki tua yang melintas di luar ruangan. Orang itu berhenti sejenak dan langsung mengangguk.

"Kamu pasti haus, bentar lagi Pak Bardi bawain teh kok." ucapnya singkat.

"Oh, makasih, bu. Jadi ngrepotin." balasku pelan. Kami tertawa kecil berdua.

Suasana yang awalnya tegang, perlahan-lahan mencair. Aku membiarkan Bu Irda membaca dengan penuh selidik dokumen-dokumen yang aku bawa. Satu lembar berganti dengan lembar yang lain. Kadang-kadang, ia tersenyum sendiri. Aku tak tahu, mungkin ia geli melihat foto ijazahku yang masih tampak culun. Atau ia kagum dengan nilai-nilaiku yang bagus.

Ah, tak tahulah aku...

"Jadi intinya gini..." bu Irda memecah keheningan. Wajahnya yang tirus menatapku tajam-tajam. "Saya ucapkan terima kasih karena Mas Alfred mau kerja di sini, jauh dari kota..."

Aku mengangguk-angguk.

"Beberapa guru yang mengabdi bertahun-tahun di sini sudah pensiun dan Mas Alfred diharapkan bisa mengisi kekosongan mereka," Bu Irda menjelaskan.

Sambil kuseruput teh yang masih panas, Bu Irda menjelaskan panjang lebar tentang kondisi sekolah. Aku mendengarkannya dengan nyaman. Bu Irda sebenarnya belum cocok jadi kepala sekolah, kataku dalam hati. Ia bahkan terlalu manis untuk menjadi seorang kepala sekolah. Tapi biarlah. Seragam coklatnya malah membuatnya tampak anggun.

Baca Sekarang
Gara-Gara Taruhan

Gara-Gara Taruhan

Sischa Daniasri
Delapan pria yang masih perjaka tampan tiba-tiba saja disuruh menikah dengan orang tuanya masing-masing. Namun mereka tidak memiliki jodoh sama sekali. Ketika tahu masa lajangnya sudah ditentukan kapan berakhir oleh orang tua mereka. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka mencari wanita yang mau? A
Adventure HumorFantasiPerangkapCinta pada pandangan pertamaCEOMafiaLicikPria Sejati
Unduh Buku di App
Gara-Gara Cinta Satu Malam

Gara-Gara Cinta Satu Malam

Claire Park
Ellena Cameron, gadis muda yang frustrasi karena dikhianati kekasih, memilih untuk melepaskan keperawanan dan menghabiskan malam dengan pria asing, sebagai bentuk balas dendam karena takdir yang begitu kejam padanya. Saat dia berusaha melupakan kejadian tersebut, saat itu pula seseorang mengaku seba
Romantis R18+Hubungan rahasiaCEOUrbanTempat kerja
Unduh Buku di App
Jebakan Utang Mafia

Jebakan Utang Mafia

Adrian
Tepat setahun lagi, Evelyn Rossi akhirnya akan terbebas dari jeratan utang warisan kakek tirinya. Utang yang selama sepuluh tahun terakhir telah mencekik lehernya, menjadikannya tawanan tidak resmi di bawah kendali seorang Mafia yang memukau dan berbahaya: Riccardo Valentini. Pria dingin dan tampan
Romantis MenegangkanPengkhianatanKehamilanCEOKembarJeniusTampanBangkit KembaliIdentitas Tersembunyi
Unduh Buku di App
Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang

Aldi
Adhitama tak pernah memilih pernikahan ini. Dia hanyalah pion dalam permainan keluarga, dipaksa menikahi seorang wanita bernama Riani seorang janda yang nyaris tak ia kenal. Sejak hari pertama, Adhit sudah memasang dinding es. Ia bersikap dingin, menjaga jarak, dan berharap Riani mengerti: ia tak p
Romantis Cerita MenegangkanPengkhianatanHubungan rahasiaCEOKembarBeruntungKembaliKesempatan KeduaSombong
Unduh Buku di App
Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Pengantin Boneka Demi Utang Keluarga

Agus
Anya Pramudita, seorang gadis yang terpaksa menikah dengan Reza Wijaya, putra bungsu pewaris perusahaan terkemuka, Wijaya Corp. Orang tua Reza sangat mengagumi Anya, tidak hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kecerdasannya yang luar biasa. Mereka melihat Anya sebagai calon menantu idaman y
Romantis Cerita MenegangkanMisteriSukuCinta pertamaBalas dendamSelebritiCEOJenius
Unduh Buku di App
Gara Gara Utang novel gratis tanpa aplikasiDownload Gara Gara Utang novel PDF Google DriveGara Gara Utang gratis tanpa beli koin dan offlineGara Gara Utang
Yuk, baca di Bakisah!
Buka
close button

Gara Gara Utang

Temukan buku-buku yang berkaitan dengan Gara Gara Utang di Bakisah. Baca lebih banyak buku gratis tentang Gara Gara Utang novel gratis tanpa aplikasi,Download Gara Gara Utang novel PDF Google Drive,Gara Gara Utang gratis tanpa beli koin dan offline.