Putri_Pratama
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Putri_Pratama
Menikah Demi Perceraian
Romantis Sebastian Alvero Abraham, terjebak dalam sebuah ikatan suci pernikahan dengan Latasha Revalina Mahendra - gadis cantik yang memiliki usia delapan tahun lebih muda dari dirinya.
"Nikah sama kamu, berasa lagi cosplay jadi pengasuh bocil." - Alvero
"Bocil-bocil gini juga, gak kalah menggoda. Kayak mantan Uncle yang semok." - Revalina
Vero tidak pernah mengira, jika menikah dengan Reva yang acap kali bersikap seperti anak kecil, membawa kebahagiaan tersendiri dalam hidupnya.
Kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia rasakan, sebelumnya.
"Uncle mau punya anak berapa sama aku?" - Revalina
"Kalo ngomong kayak yang iya aja. Sok-sok'an nanya mau punya anak berapa, baru dicium aja udah panik setengah mati. Boro-boro unboxing, praktek bikin dedek bayi." - Alvero
Saat sedang bahagia-bahagianya menikmati biduk rumah tangga, alasan Reva bersedia menikah dengan Vero, akhirnya terungkap ke permukaan.
Bagaimana jika alasan tersebut membuat Vero kecewa?
Lantas, akan seperti apa nasib pernikahan seumur jagung mereka ke depannya? Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.