Kaleb Hart
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Kaleb Hart
Kopi Es Tanpa Kafein
Romantis Suami saya adalah seorang profesor universitas.
Dalam perjalanan menjemputnya dari tempat kerja, saya merasa haus dan memintanya untuk memesan kopi untuk saya.
Ketika saya mendapatkannya, itu adalah kopi dingin tanpa kafein.
Saya tidak meminumnya dan membuangnya ke tempat sampah di kantornya. "Jared, aku tidak tahan lagi, aku ingin bercerai."
Dia terdiam, wajahnya penuh kebingungan. "Apa?"
Mahasiswa doktoral barunya, Diana Riley, mencoba menenangkan suasana. "Hanya kopi saja. Kalau tidak suka, jangan diminum. Tidak usah dibesar-besarkan, Bu Cooper."
Jared mengerutkan kening. "Kathy, kalau tidak suka, beli saja yang lain. Kenapa harus membuangnya?"
Saya berbalik dan berjalan pergi. "Aku akan benar-benar membawa surat cerai besok." Perhitungan Pahit Seorang Istri
Romantis Suamiku, Banyu, dan aku adalah pasangan emas Jakarta. Tapi pernikahan sempurna kami adalah kebohongan, tanpa anak karena kondisi genetik langka yang katanya akan membunuh wanita mana pun yang mengandung bayinya. Ketika ayahnya yang sekarat menuntut seorang ahli waris, Banyu mengusulkan sebuah solusi: seorang ibu pengganti.
Wanita yang dipilihnya, Arini, adalah versi diriku yang lebih muda dan lebih bersemangat. Tiba-tiba, Banyu selalu sibuk, menemaninya melalui "siklus bayi tabung yang sulit." Dia melewatkan hari ulang tahunku. Dia melupakan hari jadi pernikahan kami.
Aku mencoba memercayainya, sampai aku mendengarnya di sebuah pesta. Dia mengaku kepada teman-temannya bahwa cintanya padaku adalah "koneksi yang dalam," tetapi dengan Arini, itu adalah "gairah" dan "bara api."
Dia merencanakan pernikahan rahasia dengannya di Labuan Bajo, di vila yang sama yang dia janjikan padaku untuk hari jadi kami.
Dia memberinya pernikahan, keluarga, kehidupan—semua hal yang tidak dia berikan padaku, menggunakan kebohongan tentang kondisi genetik yang mematikan sebagai alasannya. Pengkhianatan itu begitu total hingga terasa seperti sengatan fisik.
Ketika dia pulang malam itu, berbohong tentang perjalanan bisnis, aku tersenyum dan memainkan peran sebagai istri yang penuh kasih.
Dia tidak tahu aku telah mendengar semuanya.
Dia tidak tahu bahwa saat dia merencanakan kehidupan barunya, aku sudah merencanakan pelarianku.
Dan dia tentu tidak tahu aku baru saja menelepon sebuah layanan yang berspesialisasi dalam satu hal: membuat orang menghilang. Anda mungkin suka
HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
ZEMIRA_FORTUNATUS Bacaan dewasa 21 tahun ke atas.
Kisah ini adalah sekuel dari novelku yang berjudul, Cintaku Bersemi di Masa Remaja.
Perjalanan cinta salah satu personil Geng ARJOFA bernama, Joseph Mikuel dan kekasih hatinya, Mary Violet.
Joseph, seorang CEO dari sebuah perusahaan ternama di Jakarta, JM Corp. Tak pernah menyangka jika Mary, kekasihnya saat SMA yang selama ini dicari-cari olehnya, karena pergi meninggalkannya tanpa ada kata putus, malah sedang melamar di perusahaannya sebagai sekretaris pribadinya.
Dengan kekuasaannya, Joseph pun meloloskan Mary sebagai satu-satunya kandidat yang melamar sebagai sekretaris pribadinya.
Mary pun sangat kaget saat mengetahui jika bosnya adalah Joseph, kekasihnya saat remaja dulu.
Mungkin Mary masih menyimpan perasaan kepada Joseph?
"Ataukah ada pria lain di hatinya?
"Bagaimana caranya cinta lama mereka yang belum kelar, dapat bersemi kembali?
Penasaran? Yuk ikuti kisahnya!
Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014.
Lima Tahun, Satu Kebohongan yang Menghancurkan
Delilah Suamiku sedang mandi, suara air yang mengalir menjadi irama yang akrab di pagi hari kami. Aku baru saja meletakkan secangkir kopi di mejanya, sebuah ritual kecil dalam lima tahun pernikahan kami yang kukira sempurna.
Lalu, sebuah notifikasi email muncul di laptopnya: "Anda diundang ke Pembaptisan Leo Nugraha." Nama belakang kami. Pengirimnya: Rania Adeline, seorang influencer media sosial.
Rasa ngeri yang dingin langsung menusukku. Itu adalah undangan untuk putranya, seorang putra yang tidak pernah kuketahui keberadaannya. Aku pergi ke gereja, bersembunyi di balik bayang-bayang, dan aku melihatnya menggendong seorang bayi, anak laki-laki dengan rambut dan mata gelapnya. Rania Adeline, sang ibu, bersandar di bahunya, sebuah potret kebahagiaan rumah tangga.
Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Keluarga yang sempurna dan bahagia. Duniaku runtuh. Aku teringat dia menolak punya anak denganku, dengan alasan tekanan pekerjaan. Semua perjalanan bisnisnya, malam-malamnya yang larut—apakah dihabiskan bersama mereka?
Kebohongan itu begitu mudah baginya. Bagaimana bisa aku sebodoh ini?
Aku menelepon Program Fellowship Arsitektur di Singapura, sebuah program bergengsi yang kutunda demi dirinya. "Saya ingin menerima fellowship itu," kataku, suaraku terdengar sangat tenang. "Saya bisa segera berangkat."