Erwin endri yanto
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Erwin endri yanto
Aku Menyerah, Memilih Pergi
Romantis Naira, dengan ketulusan hati yang luar biasa, menikah dengan seorang duda beranak satu. Ia mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya untuk merawat putra suaminya, Arka, sejak Arka berusia tiga tahun. Ia berusaha menjadi istri dan ibu tiri terbaik, berharap bisa membangun keluarga yang hangat dan bahagia.
Namun, apa yang Naira dapatkan? Bertahun-tahun berlalu, usahanya sama sekali tak dihargai. Suaminya, Danang, tak pernah memandangnya sebagai seorang istri seutuhnya. Arka pun memperlakukannya dengan dingin, seolah Naira tak lebih dari seorang pelayan di rumah mereka. Hati Naira hancur berkeping-keping melihat sikap mereka yang acuh tak acuh.
Puncaknya terjadi pada suatu malam yang mengerikan. Naira diserang, nyaris mati terbunuh dan diperkosa. Dalam keputusasaannya, ia memohon pertolongan kepada Danang dan Arka, namun mereka hanya mengabaikannya. Mereka membiarkan Naira terkapar tak berdaya, tenggelam dalam keputusasaan yang mendalam.
Setelah malam yang kelam itu, Naira bertekad. Ia tak akan lagi membiarkan dirinya diperlakukan seperti itu. Dengan sisa kekuatan yang ada, Naira memutuskan untuk meninggalkan Danang dan Arka, yang telah menunjukkan kekejaman yang tak termaafkan. Anda mungkin suka
Kutandatangani Surat Cerai, Dia Kehilangan Segalanya
Jasper Night Selama dua tahun, aku memainkan peran sebagai istri yang sempurna, bodoh, dan penurut untuk miliarder Baskara Adiputra.
Namun malam ini, dia melemparkan draf perceraian ke hadapanku karena cinta pertamanya, Jasmine, telah kembali dalam keadaan sakit.
Baskara menatapku seolah aku adalah noda menjijikkan, memberiku kompensasi murah dan menyebutku pemburu harta yang tidak tahu diri.
Keluarganya ikut menghinaku habis-habisan di acara makan malam, sementara Jasmine dengan licik memalsukan kecelakaan mobil untuk menjebakku atas tuduhan percobaan pembunuhan.
Baskara membela wanita itu mati-matian, berteriak menyuruh polisi menangkapku, dan mengusirku dari pandangannya.
Dia mengira aku akan hancur, menangis, dan memohon untuk tidak dibuang. Dia sama sekali tidak tahu bahwa rekam medis Jasmine adalah pemalsuan tingkat tinggi, dan ada dalang yang mendanai penipuan ini dari balik layar.
Alih-alih menangis, aku menatap matanya dengan tenang.
"Aku ingin penthouse ini, lima persen saham perusahaanmu, dan tunjanganku digandakan."
Setelah memeras kekayaannya dan menandatangani surat cerai, aku kembali ke kamar, membuka brankas rahasia di balik lemari, dan mengeluarkan pistol Glock 19 serta laptop terenkripsiku. Waktunya berhenti bermain rumah-rumahan.