Dante Fox
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Dante Fox
Dilindungi Bos Militer yang Kejam
Romantis Ibuku selalu memperlakukanku seperti barang dagangan, memaksaku kencan dengan pria kaya yang terang-terangan merendahkan profesiku sebagai perawat.
Hingga suatu malam, sebuah kode darurat militer memanggilku kembali ke rumah sakit.
Di ruang ICU, seorang pembunuh bayaran menyamar sebagai dokter, menodongkan pisau bedah ke leherku, dan mendorongku jatuh dari tangga.
Nyawaku nyaris melayang jika saja Kolonel Baskara Adiwijaya tidak mengorbankan tubuhnya untuk melindungiku hingga bahunya terluka parah.
Namun, saat aku pulang dengan leher berdarah dan tubuh gemetar karena trauma, ibuku sama sekali tidak peduli.
Ia malah berteriak dan memaksaku pergi menemui pria kencan buta itu untuk meminta maaf karena telah meninggalkannya di restoran.
Di depan umum, pria brengsek itu menertawakan luka sayatan di leherku, menyebutku pembohong murahan, lalu mencengkeram lenganku dengan kasar.
Ibuku yang mengetahui hal ini justru menyalahkanku, mengatakan aku pantas dikasari karena tidak tahu cara mengambil hati pria yang bisa menafkahi.
Aku baru saja lolos dari maut dan masih diburu oleh pembunuh bayaran, tapi keluargaku sendiri dengan kejam membuangku ke neraka demi uang dan reputasi.
Tepat saat aku merasa benar-benar hancur dan putus asa, sosok Kolonel Adiwijaya muncul membelah kerumunan.
Ia mengusir pria itu, menatapku dengan mata abu-abunya yang tajam, dan menyatakan bahwa aku kini berada di bawah perlindungan militernya.
Hari itu juga, aku menandatangani akta nikah bersamanya, membanting kertas sah itu tepat di depan wajah ibuku yang pucat pasi, dan melangkah keluar dari rumah beracun itu untuk selamanya. Anda mungkin suka
Satu Malam Bersama Bos Miliarderku
Paco Pizzi Selama tiga tahun, aku mengorbankan segalanya untuk mendukung karier pacarku, sementara aku rela hanya menjadi asisten junior yang tak terlihat.
Hingga suatu pagi setelah malam amal yang kacau, aku terbangun di atas seprai sutra di ranjang penthouse milik CEO perusahaanku yang dingin dan ditakuti, Ezra Wijaya.
Malam itu, pacarku, Indra, mengabaikan semua panggilanku dengan alasan ketiduran. Di saat aku dihantui rasa panik karena Ezra menjebak dan memaksaku menandatangani kontrak pernikahan demi menstabilkan sahamnya, sebuah kebenaran lain menamparku. Aku melacak lokasi ponsel Indra dan menemukan titik biru itu tidak berada di rumahnya, melainkan berhenti tepat di gedung sahabat baikku, Liana.
"Aku lembur malam ini, Sayang," pesannya dengan manis.
Padahal dia sedang tidur dengan sahabatku sendiri. Tiga tahun kesetiaanku dibalas dengan pengkhianatan paling menjijikkan oleh dua orang yang paling kupercayai. Hatiku hancur, berubah menjadi rasa dingin yang menusuk tulang.
Mengapa mereka tega mempermainkanku selama ini? Di saat aku merasa terekspos dan tidak punya siapa-siapa lagi, Ezra justru menyodorkan sebuah kesepakatan yang tak mungkin kutolak. Dia mengetahui rahasia terbesarku, dan dia menawarkan akses langsung ke Senator Pratama—pria berkuasa yang telah menghancurkan hidup ibuku dua puluh tahun lalu.
Aku membuang bunga pemberian Indra ke tempat sampah, lalu menatap pria paling berkuasa di New York itu.
"Aku ingin akses ke Keluarga Pratama. Itu syaratku."
Malam ini, berbalut gaun sutra zamrud dan menggenggam erat tangan Ezra di karpet merah, aku menatap wajah pucat pasi mantan pacar dan sahabatku yang terkejut melihatku. Pembalasan dendamku baru saja dimulai.