Antonio Broom
2 Buku yang Diterbitkan
Buku dan Cerita Antonio Broom
Dari Pengkhianatan Tebing ke Cinta yang Tak Terpatahkan
Romantis Suamiku selama lima tahun, Marco, bilang dia akan membawaku piknik romantis di puncak tebing. Dia menuangkan segelas sampanye untukku, senyumnya sehangat mentari. Katanya, ini untuk merayakan hidup kami bersama.
Tapi saat aku sedang mengagumi pemandangan, tangannya menghantam punggungku. Dunia buyar, hanya ada langit dan bebatuan saat aku terhempas ke jurang di bawah.
Aku terbangun dengan tubuh remuk dan berdarah, tepat pada waktunya untuk mendengar suaranya dari atas. Dia tidak sendirian. Ada Chika, selingkuhannya.
"Apa dia... sudah mati?" tanya Chika.
"Jatuhnya sangat dalam," suara Marco terdengar datar, tanpa emosi. "Tidak ada yang bisa selamat dari situ. Saat mayatnya ditemukan, semua akan terlihat seperti kecelakaan tragis. Clara yang malang, jiwanya tidak stabil, berjalan terlalu dekat ke tepi tebing."
Kata-katanya yang diucapkan dengan santai terasa lebih kejam dari benturan apa pun. Dia sudah menulis obituariku, merangkai narasi kematianku sambil membiarkanku mati di tengah badai.
Gelombang keputusasaan menyapuku, tapi kemudian sesuatu yang lain menyala: amarah yang membara dan dahsyat.
Tepat saat pandanganku mulai memudar, sorot lampu mobil menembus hujan. Seorang pria keluar dari sebuah mobil mewah. Itu bukan Marco. Itu Julian Suryo, saingan paling dibenci suamiku, dan satu-satunya pria yang mungkin sama inginnya menghancurkan Marco seperti diriku. Aku Menikahi Paman Mantanku
Romantis Di hari pernikahanku, si pengganggu dari SMA dulu datang untuk mengacaukan acaraku dan membuat hidupku sengsara.
Aku percaya Carsten Morgan akan berdiri teguh di sisiku.
Namun, dia melepaskan tanganku dan berjalan dengan tegas menuju wanita itu.
Kemudian, ketika aku menggugat pengganggu tersebut dan mengungkap pelecehan masa lalunya, Carsten menekan kasus itu.
Dia bahkan menggugat balik aku atas tuduhan pencemaran reputasi terhadap pengganggu tersebut.
Dalam semalam, aku menjadi bahan tertawaan di Internet.
Di sebuah pesta, Carsten mencibir dengan penuh penghinaan, "Bekas luka di tubuhmu membuatku merasa tidak nyaman."
Dia menambahkan, "Menyerahlah. Aku punya paman yang kaya di belakangku. Kamu tidak mungkin menang."
Saat itu juga, paman yang dia banggakan melingkarkan lengannya di pinggangku.
Dia berbisik lembut di telingaku, "Jika aku bisa membuat mereka semua dipenjara, apakah kamu akan menjalin hubungan denganku?" Anda mungkin suka
Gairah Nikmat Kopi Susu
Juliana 21+
"Pantas belum jalan, ada maunya ternyata" Ujar Fany
"hehehehe... Yuk..." Ujar Alvin sambil mencium tengkuk istrinya.
Fany segera membuka handuknya. Buah dadanya menggantung indah, perutnya yang rata dan mulus, serta area kemaluannya yang ditutupi rambut hitam langsung muncul. Alvin segera memeluk Fany dan melumat buah dadanya dengan rakus.
"Pintu sudah dikunci? " Tanya Fany
"Sudah...." Jawab Alvin disela mulatnya sedang mengenyot puting pink milik Fany
"nyalain Ac dulu" suruh Fany lagi
Sambil melepas sedotannya, Alvin mencomot remote AC lalu memencet tombol ON.
Kembali dia melumat buah dada Fany bergantian kiri dan kanan, buah dada yang putih dan terlihat urat-urat merah dan biru di buah dada putihnya, membuat Alvin makin rakus melumatnya.
Sambil menrunkan celana pendek dan celana dalamnya, dia membuka kaosnya, lalu merenggangkan paha Fany, ujung kontolnya yang belum tegak sempurna diberi ludah lewat jari tengahnya di bagian kepala, lalu menggosok gosok pelan di bibir vagina Fany.
Fany mendesah dan merasakan mulai ada rangsangan di bibir kemaluannya, lalu tiba-tiba masuk batang berurat milik Alvin di vagina Fany yg belum begitu siap dan basah, pelan2 lelehan cairan membasahi dinding vaginanya, Alvin mulai menggoyang dan naik turun, Fanny memeluk bagian pinggul suaminya, pahanya dibuka lebar.
Tidak lama kemudian..... Antara Kerja dan Kenikmatan
Juliana Kupejamkan mataku, dan kukecup bibirnya dengan lembut, dia menyambutnya. Bibir kami saling terpaut, saling mengecup. Pelan dan lembut, aku tidak ingin terburu-buru. Sejenak hatiku berkecamuk, shit! She got a boyfriend! Tapi sepertinya pikiranku mulai buyar, semakin larut dalam ciuman ini, malah dalam pikiranku, hanya ada Nita.
My logic kick in, ku hentikan ciuman itu, kutarik bibirku mejauh darinya. Mata Nita terpejam, menikmati setiap detik ciuman kami, bibir merahnya begitu menggoda, begitu indah. Fu*k the logic, kusambar lagi bibir yang terpampang di depanku itu.
Kejadian ini jelas akan mengubah hubungan kami, yang seharusnya hanya sebatas kerjaan, menjadi lebih dari kerjaan, sebatas teman dan lebih dari teman.