icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)

Bab 9 Dua Pilihan yang Sulit

Jumlah Kata:1196    |    Dirilis Pada: 13/07/2022

gsung main hakim sendiri seperti itu," bujuk Musto

di tangannya dan Silvi yang sama sekali tak mengerti atas apa yang terjadi den

a dengan raungan

ya ia berkata, "Diam! Jangan menangis. Kita akan per

sana tak tinggal diam. "Pergi ke m

an Abahmu sama saja. Diam! Ti

mendengar bentakan tersebut. Rasa penasarannya semakin membuncah. Ia sebenarnya sedih, tak enak hati, juga takut. Namu

lesaikan segalanya dengan kepala ding

arus tenang-tenang saja, gitu?" Karmila menggeleng, "tidak!" imbuhnya tegas. "Aku tidak sebodoh yang kamu kira. Aku di

bentak Mu

gitu emosi. "Memang seper

i tak menyangka jika istrinya

hanya bisa menyusahkanku, tidak pernah membahagiakanku. Aku ikut mengarit, ikut panas-panasan membuat batu-bata demi bisa membangun

itu sudah ada yang mengatur? Jangan terlalu takut berlebihan, Dek. Jangan kufur nikmat. Aisy

ipada aku dan Silvi. Jadi biarkan aku pulang ke rumah Emak. Aku masih punya orang

lotot. Tangannya gemetar, he

amu mau memukulku?" tanyan

eredam emosinya yang se

ti kamu sering memukul Ibu dari anak itu! Bukan

n, Karmila! Kamu sema

ah aku pelajari dari sikapmu selama ini. Mantan ist

ia

erkejut hingga tanpa sa

ilan dari putrinya itu dan l

us kemudian ia segera berlalu begitu

" panggi

Mustofa. Semua yang didengarnya ba

k memiliki seorang Abah rupanya bukan hanya sekadar ummi tirinya yang membencinya, melaink

ukuli Ummi? Bena

gubur segala keinginannya untuk tinggal bersama sang A

panggil

sya

terus b

ngg

bertekat untuk tidak akan lagi peduli dengan abah

aih tangan Aisyah dan kini memeluk erat

!" Aisyah

bah tidak akan

tuk waktu Abah yang sudah terbuang sia-sia. Aisyah tidak akan pernah muncul lagi di kehidupan Abah. B

angan pernah berkata seperti

ali tidak diinginkan

a meng

sering memukuli Ummi? Apa benar selama ini Abah tidak peduli pad

seperti itu!" Musto

itu tidak benar. Dia memang sering

kan, beralih memegang pipi Aisyah dengan lembut dan menatap taj

mau tinggal sama Abah, 'kan?" tanya begitu lembut

rnah terjadi," sahut Aisyah s

fa me

mengurus keluarga. Tapi, Abah mencintai Ummimu. Abah juga mencintaimu. Ab

bersama mereka. Mereka baik, tidak pernah jah

sangat mengerti, Nak. Maka dari itu beri

h tergetar. Ia menatap manik sang Abah. Ada

ada Aisyah. Benar katamu, Nak. Simbok dan Simbah sudah sepuh. Sudah saatnya kamu kembali kepada Abah. Abah akan mempe

erpaksa ia melakukan semua

t ketersediaan Aisyah un

e dalam dulu, ya, Nak? Nanti Ab

erbalik badan lalu berjalan denga

n sang Ummi tirinya selanjutnya, Aisyah hanya m

di saat itu ia pura-pura tegar, tersenyum seolah tidak pernah terjadi ap

tanya sudah sembab karena terlalu lama menangis, ia pun berbelok arah m

panggil Aisyah lirih sembar

danya bergemuruh. Napa

Ummi ap

nduan mendadak menyergapnya.

saja, 'kan? Aisyah ingin bercerita

di tenggorokan saja. Gadis kurus itu menunduk de

.," isak

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)
Aisyah (Kisah Pilu Gadis tak Beribu)
“Jika ibu sudah tiada dan seorang ayah tidak lagi peduli, maka pincanglah hidupnya. Dialah Aisyah, gadis piatu yang berjuang untuk menggapai mimpi dan cita-citanya. Merajut asa di tengah impitan ekonomi serta kejamnya krisis kasih sayang keluarga. "Tidak akan selamanya badai, mentari akan menyinari untuk menemukan pelangi." Sebuah pesan cinta yang ditulis oleh mendiang ibunya dalam buku catatan harian yang memang sengaja ditinggalkan. Apa sebenarnya yang terjadi? Bagaimana kisah perjuangan seorang Aisyah selanjutnya?”