icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cinta Sedalam Doa

Bab 3 BERJUANG BERKENALAN

Jumlah Kata:1918    |    Dirilis Pada: 09/06/2022

gginya seratus enam puluh duasenti, bertubuh ramping tetapi enak dipandang. Wajahnya oval tetapi

a perantau di kampungku ini. TetapiNaira sudah lahir di sini. Nenek dan kakeknya yang berasal dariBanda Naira, Provinsi Maluku. Maka untuk m

kembar. Adik kembar Naira duduk di kelas dua SD. Naira tinggal di kampun

ra satu kelas. Maka iajarang berpisah. Di kantin dan di dalam kelas selalu bersama. Jika disuruh oleh guru untuk berpisah karena beda kelompok, mereka a

*

atu kategori sepak bola. Aku sebagai kapten timmerasa gugup. Ini adala

n. Aku harus melawan seniorkusendiri. Tapi seminggu ini aku dan teman-teman kelas sudahb

ru di tahun ini. Tahun lalu tim sepak bola kelasku langsung kalah pada pertandingan pertama. Sekarang tim

ang. Tetapi bisa saja terasa sebentar jika kita tertinggal g

kan Reno di kotak terlarang. Berbuah pinaltiuntuk timku. Aku yang dipercaya menjadi algojo pinalti suksesmenyarangkan bola di sudut kanan atas gawang. Penjagagawang tidak sempat menghalau tendanga

n terbaik. Banyak anak-anak yang minta berfoto denganku. Baik yang laki-lakimaupun perempuan. Aku menun

tian khusus dari Naira. Aku berharap jikatimku memenangkan pertandingan maka Naira akanmenemuiku. Aku akan jadi idola selama sat

enangkanpertandingan final. Saat awal pertandingan dimulai aku melihatNaira bersama teman-teman di pinggir l

ku naik podium untuk menerima piala kategorisepak bola. Aku merasa di atas angin. Aku seperti pemain bola nasional. Aku su

ukategori lomba bernyanyi. Tetapi ia diwakili oleh temankelas

*

Tugas semakin banyak, ruangbermain semakin sedikit, pikiran dibebani dengan tugas dan tugas.

terbaik di rumahku tidak bisa dibanggakan lagi. Aku sekarang menjadisiswa biasa. Tidak lagi diidolakan o

Aku tidak berani menemui Naira langsung ke kelasnya. Jika Reno tahu aku senekat itu pasti aku akan jadi bahanomongan. Untun

ira tidak pernah sendiri, ia selalubersama teman-temannya. Jika ia bersama temannyakeberania

u pulang, aku berharap bisa bertemudengan Naira di parkiran. Tapi tidak pernah terwuj

menghilang. Kamu janjian sama gebetan ya?" Reno mengintrogasiku.

at aku mau ketemu Naira dan ternyata Naira bersama temannya aku langsung pura-pura ke perpustakaan. Membaca novel dan beberapa karya

ku. Aku simpan rasa suka dan kagumku ituserapi mungkin. Aku tidak ingin s

u berlari di lorongsekolah. Tanpa sengaja aku menabrak seorang siswi. Akuterjatuh. Tetapi siswi i

la itu ya?" Tanya siswi itu. Aku hanya diam. Aku t

ntu teman Naira itumerapikan buku-buku

u tidak apa?" Aku belum bisa merapikan d

ru-buru," kata-kata yang tidak beraturan itu k

tu?" Tanyaku bal

erdetakkencang. Naira mengagumiku. Aku belum perca

ar menjadi seberani itu. Aku tidak ingin menyia-nyiakankesem

arang aku tidak membawatelepon genggamku. Jadi aku tidak ingat nomornya," temanNiara melambai

patkannomor teleponnya Naira. Dadaku terasa mengembang. Akuberjalan dengan gagahnya menuju kelasku. A

u tidaksabar menunggu bel pulang berbunyi. Pikiranku t

Tentang hobi, warna kesukaan, makanan kesukaan, dan apa saja yang membua

uang kelas. Aku tidak sabarwaktu pulang tiba. Jam di tanganku terlihat enggan bergerak. Aku jad

ovel. Pelajaran bahasaIndonesia salah satu yang aku suka. Tapi untuk hari ini aku tidakbisa fokus. A

ekstrinsiknya. Aku mencatat tugas yang diberikan guru. Tidaklama kemudian bel pulang berbunyi. Aku melompat ke

kolah, seperti buku paket, buku catatan, pen, dan keperluan belajar lainnya. Ketua kelasmemim

o terlihat kesal. Aku menyalami guru dan langsung menuju tempat parkir. Ak

enakan arah jalan kami pulang pun berbeda. Jadi kami be

g. Teman-teman yang lain sudah pada pulang. Mereka mengambil sepeda motornya, menghidupkan, dan t

Sekolah sudah mulai sepi. Apakah teman Naira lupa denganjanjinya tadi? Pikiran yang aneh-aneh menghantuiku. Ak

aku terasa naik turun. Deg-degan tidak menentu. Keringat dingin mengalir di leherku. Aku melihat ke arah kelastidak ad

dan temannya. "Eeh, tidak. Tidak mengapa." Aku tidak karuan, sulit untukmengendalikan diri. Ada

ku. Aku benar-benar belum siap dengankenyataan ini. Aku berkhayal pertemuan

menunggu beberapa detik lalumenjabat tanganku. "Aku Naira Asqalani," senyuman Naira

ya!" ternyatatemannya Naira cerewet juga, ak

t kelasdulu," ujar Naira. Aku mengangguk. Suarak

g berkenalan dengan Naira," kalimat itu terbata-batakeluar dari mulu

. Teman Naira berdiri di sampingNaira. Menjadi saksi bisu pertemuan pertama antara

sadari. Aku begitu nekat. Nekat atautidak tahu diri. Aku benar-benar tidak tahu. Tapi aku

iara menulis nomor teleponnya di sana. Lalu ia memberikannya kepadaku. Aku men

tersenyum. Entah senyumanku itu senyuman paling termanisyang aku punya. Aku tidak tahu itu. Aku telah be

bersiul dan bernyanyi sepanjang jalan. Hari yang indah penuh warna. Lang

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cinta Sedalam Doa
Cinta Sedalam Doa
“Penyesalan hanya datang dibelakangan waktu. Penyesalanku atas tindakannya telah memutuskan cinta pertamaku, Naira Asqalani. Cinta yang sudah 3 tahun lamanya. Kemudian aku memilih untuk menjalin hubungan dengan gadis yang baru dikenal semasa kuliah, Qirani Albanjari namanya, juniornya di organisasi. Naira jatuh sakit. Ia terpuruk dan tidak bisa menerima kenyataan bahwasannya kami tidak lagi bersama. Naira tidak bersemangat menjalani kuliah. Perkuliahannya berantakan. Nilainya anjlok. Kini aku menjalani hubungan bersama Qirani dengan harapan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku berusaha sekuat tenaga membantu membuatkan skripsi Qirani agar pacarku itu cepat wisuda. Tapi air susu dibalas dengan air tuba. Selepas Qirani wisuda ia pulang ke kampung halamannya dan ia balikan dengan mantannya semasa SMP. Aku marah besar. Aku memutuskan hubungan cintaku dengan Qirani. Qirani malah senang. Aku kecewa berat, ia menangis dan bersedih. Aku mencoba mendekati kembali cinta pertamaku, Naira. Ternyata Naira sudah punya tunangan. Aku sungguh kecewa. Aku terpukul. Aku menyesal telah menyia-nyiakan cintanya Naira. Kemudian aku memutuskan merantau ke Pekanbaru karena tidak sanggup menyaksikan cinta pertamaku menikah dengan lelaki lain selain diriku. Di Pekanbaru aku memulai karirku dari nol. Aku bekerja di kantor pajak. Aku disukai oleh atasanku. Karirku meningkat dan aku mendapatkan promosi untuk naik jabatan. Banyak rekan kerjaku yang terus menggodaku. Ada Nuni, Ayu, dan Mona. Tapi aku tidak ingin pacaran lagi. Aku ingin mempersiapkan masa depan sebaik mungkin, baik dari segi karir maupun finansial. Aku jarang pulang ke kampung, Sijunjung. Aku menyuruh orang tua dan keluargaku ke Pekanbaru untuk melepas rindu. Hatiku enggan untuk menginjakkan kaki di kampung halaman. Naira telah menyakitiku dan memilih menikah dengan lelaki lain. Qirani juga telah mengecewakanku. Teganya ia kembali dengan mantan pacarnya. Waktu memang tidak berpihak kepadaku. Jika kisah ini bisa diputar ulang aku tidak ingin memutuskan Naira kala itu. Dan tidak akan pernah mencoba membuka hati untuk Qirani. Namun semuanya telah terlanjur dan aku harus menerima serta menjalani lika-liku hidup dengan kondisi apapun. Ternyata Naira gagal menikah. Reno sahabat lamaku menelepon dan mengabarkan berita itu kepadaku. Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus bersikap apa? Harus berbahagia atau harus bagaimana? Aku jadi sulit tidur. Aku berjuang dengan segala apa yang aku bisa. Mendekati semua teman Naira. Meminta bantuan kepada mereka meski hanya berujung jalan buntu. Aku menemui Naira ke rumahnya. Naira bersikap dingin seperti batu es. Aku terus saja berjuang dan telah menurunkan dan menahan egoku. Aku tahu selama ini aku telah menyia-nyiakan cintanya Naira. Sudah hampir setahun aku terus mayakinkan Naira dengan keseriusan cintaku padanya. Setiap salat aku berdoa kepada Tuhan agar dilembutkan hati Naira. Aku merubah sikapku dan pandanganku terhadap wanita. Aku berupaya memperbaiki diri dan rajin salat ke masjid. Aku berdoa kepada Tuhan agar dilembutkan hati Naira. Agar Naira bisa memaafkanku dan bisa menerimaku kembali. Aku hanya berharap kepada Tuhan. Dari kejauhan aku selalu mengamati Naira. Tetapi Naira masih saja memilih sendiri. Kini, aku sudah rela Niara bahagia dengan lelaki pilihannya. Aku kini sadar telah membuat Naira kecewa selama ini. Aku seumpama mendapatkan durian runtuh. Naira membuka hatinya kembali untukku. Aku berjanji tidak akan mengecewakannya lagi. Aku meyakinkan Naira. Aku bersungguh-sungguh padanya. Naira percaya kembali padaku. Kami akhirnya memutuskan untuk menikah setelah lika-liku cinta kami yang rumit. Aku menjadi lelaki yang beruntung, meski menikah pada umur yang tidak muda lagi. Naira hamil dan melahirkan anak pertama kami yang lucu. Anak perempuan berkulit putih dan bermuka oval. Kami hidup bahagia. Karirku semakin baik. Ekonomi keluarga juga ikut membaik. Aku bersyukur bisa menikah dengan Naira. Aku yakin Naira juga senang dengan kehidupan kami. Hingga pada akhirnya kami menjadi sepasang suami istri yang saling melengkapi.”