“"Tersenyumlah, itu perintah." (Saat SMP) "Pegang tangan aku!" -Kania- "Akan saya lakukan sesuai perintah." -Kenneth- (Saat SMA) "Peluk aku!" -Kania- "Akan saya lakukan sesuai perintah." -Kenneth- (Saat kuliah) "Cium aku!" -Kania- "Akan saya lakukan sesuai perintah." -Kenneth- (Setelah masuk kerja) "Tiduri aku!" -Kania- "Akan saya lakukan sesuai perintah." -Kenneth- "Apa kau gila Ken?!" -Kania- *** Sebelum ayah meninggal, beliau pernah berkata... layani keluarga mereka bahkan dengan seluruh tubuhmu. Korbankan semua yang kamu miliki bahkan dengan nyawa sekalipun. Dahulukan kepentingan mereka diatas segalanya dan kesampingkan perasaanmu. Hiduplah tanpa perasaan. Kepuasan mereka adalah prioritas. Sudah lama saya hidup dalam pemahaman seperti itu, hingga tak sadar.. saya telah menjadi manusia kaku yang jarang melibatkan hati dan perasaan. Bahkan gadis itu terang terangan mengatakan hal tersebut. Manusia besi, robot yang tidak memerlukan hati dalam memberikan kepuasan tuannya. *** Kenneth terus menatap Kania lama, ini pertama kalinya ia dianggap seperti itu oleh Majikannya. Gadis yang... ketika kamu ciptakan sebuah batas maka ia akan terus melanggar batas itu. Gadis yang tak pernah menyadari jika sikapnya itu telah mampu membuat sang manusia besi kembali memiliki hati....”