icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Balada Sang Pemuas

Balada Sang Pemuas

icon

Bab 1 Rencana Gila

Jumlah Kata:1182    |    Dirilis Pada: 09/04/2022

dre dalam hatinya, saat mendengar usul yang dita

h Pak Nelwan, atasannya. Juga disetujui dua rek

unjungan pimpinan pusat yang menetapkan kantornya

tage milik perusahaan di salah satu Pesisir Pulau Jawa. Tentuny

itu, justru Andre lah orang yang paling berun

mana

or pusat, kemudian orang yang menggantikan Pak Nelwan adalah Andre. Seluruh rek

elwan langsung mengangkat gelas yang hanya diisi air mineral. D

da kantor yang dipimpinanya. Pak Nelwan sangat menyadarinya jika semua pencapaian prest

ak dapat ikut serta dalam liburan itu, karena telah memiliki janj

p dapat mengikuti liburan dengan rombongan kantor itu bersama istrinya. Ini dap

ongan walaupun nantinya kami mengadakan sebuah ga

perjanjian apa?" tanya Pak Nelwan samb

ak pernah membuat perjanjian apapun tenta

, untuk membuang kejenuhan atas rutinitas kita, bagaimana jika nanti selama liburan

elwan meminta penjelasa

di atas ranjang, dan atas dasar perjanjian awal tentunya kita tidak bol

kita semua selalu setia dengan istri kita masing-masing. Ini hanya murni tenta

a-bawa namaku!' Andre kembali mengumpat dalam hati. Namun ketika dirinya ingin menampik usul Ric

pat ketika menyadari sulit baginya untuk mengelak dari permainan gila yang sepertinya sudah sangat

seru Yudis tiba-tiba. Dia ingin memastikan Ricko mengajak istrinya yan

icko ditambah

emiliki daya tarik tersendiri dari tubuhnya yang selalu tertutu

alu sayang untuk dilewatkan, tapi...' seru Andre d

kan kalau memungkinkan dapat sedikit berkenalan dengan selangkangan wanita

Di samping untuk menghindari timbulnya pertengkaran suami istri, saya rasa ada tantangan tersendiri bagi kita unt

lanya. Apakah Ricko yang menjadi temannya sejak bangku SMP itu me

dia mengakui keindahan tubuh istrinya, saat memelototi tubuh Nadia yang dibalut keb

memberikan persyaratan tambahan. Bapak

hah

rtawa, Andre pun tersenyum kecut mengingat istri sah Pak Ne

pakaiannya yang selalu mengekspos daerah terlarang, dan pastinya masih sangat layak pakai. Hanya saja yang membuat tidak kuat

esepsionis kantor yang terkenal montok dan murah hati kepada kamum lelaki dalam ha

kah kita melakukan permainan ini dengan diam-diam? Bisa saja saya berhasil mendapatkan tubuh Bu Sofia dengan meminjam kam

eskipun dirinya memang memiliki hasrat yang sama untuk menunggangi tubuh montok istri Pak Nelwan itu, ta

au kamu juga ingin mencicipi Angel silakan saja. Tapi jangan salahkan saya bila nanti membuat is

um menyambut tawaran Pak Nelwan tetapi

untuk menyambut pertempuran yang panjang besok lusa!" Pak Nelwan menyudahi rapa

u saat liburan saja kan?" Semua tersenyum dengan pertanyaan Aditya ya

yang dinikahinya satu bulan setelah lulus dari bangku SMA. Pastinya Adit tidak berbeda dengan Andre yang merasa keberat

a tentunya kita tidak ingin rumah tangga kita atau pun rumah tangga rekan kita b

^

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Balada Sang Pemuas
Balada Sang Pemuas
“BACAAN KHUSUS DEWASA Siapapun tidak akan pernah tahu, apa sesungguhnya yang dipikirkan oleh seseorang tentang sensasi nikmatnya bercinta. Sama seperti Andre dan Nadia istrinya. Banyak yang tidak tahu dan tidak menyadari. Atau memang sengaja tidak pernah mau tahu dan tidak pernah mencari tahu tentang sensasi bercinta dirinya sendiri. Seseorang bukan tidak punya fantasi dan sensasi bercinta. Bahkan yang paling liar sekalipun. Namun norma, aturan dan tata susila yang berlaku di sekitranya dan sudah tertanam sejak lama, telah mengkungkungnya. Padahal sesungguhnya imajinasi bisa tanpa batas. Siapapun bisa menjadi orang lain dan menyembunyikan segala imajinasi dan sensasinya di balik aturan itu. Namun ketika kesempatan untuk mengeksplornya tiba, maka di sana akan terlihat apa sesungguhnya sensasi yang didambanya. Kisah ini akan menceritakan betapa banyak orang-orang yang telah berhasil membebaskan dirinya dari kungkungan dogma yang mengikat dan membatasi ruang imajinasi itu dengan tetap berpegang pada batasan-batasan susila”