icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Re(s)tart

Bab 4 Rindu

Jumlah Kata:1001    |    Dirilis Pada: 19/02/2022

lancar. Fauzan pamit untuk berangkat mengaji. Ia tidak meminta Ningrum unt

a," ucap Agus saat kelima anak itu berjal

Ada turnamen olah raga, kan? Kalian ikut bo

pten, haha," ucap Karvo sam

Pak Caca?" tanya Fauzan.

uh itu katanya Egi mau ikutan. Lompat tinggi, ada Ros

raga apa, Zan?" tan

terpikirkan untuk ikut turnamen antar sekolah sekecamatan. Sa

ngambil air Wudhu. Adzan maghrib pun berkumandang. Sete

du pada yang sudah tidak bisa ditemui begitu berat. Fauzan duduk di atas sajadah menunggu iqom

ng air mata. Fauzan menghela napas panjang. Bibir kecilnya berguma

erdiri. Shaf makmum sudah terisi penuh

ke arah kanannya. Di sana, bukan lagi sosok ayahnya yang berdiri menema

i fokus pada hamparan sajadah. Niat s

hela napas panjang. Nyatanya waktu belum menyembuhkan luka. Rindu itu semaki

saat ini, ia sudah tak kuasa menahan air matanya saat ingatan tentang ayahnya yang tersenyum. Senyum yang menyemangati Fauzan

ucap Fauzan dengan suara paraunya. Ustad Yoyo

atapan kasihan. Keempat temannya itu sudah be

yang langka. Sangat menyayangi Fauzan. Orang yang tegas dengan lemah lembutnya. Begitulah sosok Ridwan, sehingga Fauzan tidak mu

Ustaz Yoyo segera meminta Fauzan untuk

ang dan takzim. Teman-teman yang mende

kembali menerangkan hukum bacaan dalam Al-Qur'an.

ibaca berdengung. Jangan tertukar dengan idhar, ya. Coba Agus, ulang

tujuh tahun ada yang yang masih 'mengeja' atau baca iqro' satu sampai iqro' tiga. Mengajar anak-anak yan

andangkan azan. Semua murid sudah bersiap duduk

ni adalah kedua kalinya ia berangkat dan pulang bersama teman-temannya. Sebelumnya sel

R, belum?" tanya

tika," timpal Ijon sam

o. Kelima anak itu pun berlomba-lomba untuk

arvo dan dirinya berpisah. Fauzan me

m," jawab Ningru

eli se

tadi siang,"

anya Fauzan sambil b

Makan dulu kala

a, Fauzan bergegas menuju kamarnya untuk menyimpa

Fauzan sambil

grum sambil membereskan pir

h, nggak, Bu?" tanya Fauzan sebe

h. Ka

Tapi mulai besok,

a," jawab Ningrum

masih ada, pasti ayahnya akan mendukung pe

tugasnya. Ia mengerjakan tugas di dap

titah Ibunya saat memeriksa

ya salah

ja, yang teliti kal

ia menghitung ulang. Benar ternya

silnya segitu." Keduanya tertawa kecil, taw

tugas, barulah Fauza

tanya Ningrum saat Fauza

atu butir utuh buah semangka. "Besok saja,

ng memberi tanpa pamrih itu? Seseorang yang mampu membuat Fauzan cemburu. Nam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Re(s)tart
Re(s)tart
“"Dua hal kebahagiaan yang kupunya, telah kamu ambil. Apa itu belum cukup jika aku adalah selanjutnya?" tanya anak itu sambil duduk menengadah, seulas senyum terbit dengan tatapan mengejek. Ia sudah tak sanggup berdiri, tubuhnya penuh memar, kekuatan yang tersisa masih disimpannya untuk hari esok. Akankah ada hari esok? Entahlah .... Hari esok yang penuh misteri selalu diharapkan oleh mereka yang menginginkan masa depan. "Jika, ya? Apa yang akan kamu lakukan?" "Apa kamu akan kabur?" "Atau menangis seperti hari ini?" "Bocah tau apa? Harusnya kau bersyukur masih bisa hidup enak!"”
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Seorang Anak Yatim3 Bab 3 Orang Baru4 Bab 4 Rindu5 Bab 5 Marah6 Bab 6 Sosok Ayah 7 Bab 7 Patah Hati Pertama8 Bab 8 Akad Nikah Ningrum9 Bab 9 Kembali 10 Bab 10 Sepasang Sepatu Lusuh11 Bab 11 Nasi Jagung12 Bab 12 Sebelum Semua rasa Sakit13 Bab 13 Bukan Yang Dipentingkan14 Bab 14 Sendiri15 Bab 15 Ranting16 Bab 16 Kebohongan17 Bab 17 Bak Air18 Bab 18 Terlambat19 Bab 19 Terakhir20 Bab 20 Kabar21 Bab 21 Kehilangan Kedua22 Bab 22 Pertemuan Kembali23 Bab 23 Ancaman