icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dirka & Viona

Bab 8 08 - Reuni Aneh dan Perasaan Wanita

Jumlah Kata:2162    |    Dirilis Pada: 05/02/2022

kan h

s ranjang tampak mengerang sambil sedikit

iona membu

h terlihat kabur. Matanya tampak masih perlu penyes

ndang ke s

mana?' b

ingung, melihat lingku

rasa asing melihat kamar in

a dirinya bisa berada di sini. Ju

adalah pria itu.' Terli

uinya. Bersamaan dirinya mengingat itu. Viona berubah

ubuhnya. Dia berpikiran, mungkin dirinya sudah

ternyata masih melekat semua di tubuhnya. Dia juga m

alau ternyata kesuciannya sudah direnggut oleh pria itu

Yunita baru saja sam

alan memasuki gedung khusus anak-anak

ah rak-rak yang berisikan banyak m

membeli semua, tapi apa ini

main dengan mainan baru mereka. Sambil makan jajanan k

yang tampak sedang mengobrol dengan Ayu

eh, dan langsung menyapanya. "Oh, kak Yu

a memanggil Yunita dengan sebutan Yuni. It

saja sampai,

unita. Sosok perempuan hiperaktif yang ad

pakaian yang sama persis dengan Yunita. Yang membedakan hanyala

ang berna

n wajah bersinar, berlari ke arah Yunita seolah me

saat mendengar teriak

meluk Yunita. Sebenarnya Yunita ingin menghind

Namun, "Susan, Hentikan ulahmu ini!" Yunita sebaliknya juga ber

jadi biarkan aku memelukmu," ucap Su

Yunita juga menent

dak mengurangi hiperak

usaha menahan tawa

sung menatap dengan mata melo

nnya. Terlihat wajah geli sebelumnya, berubah

ia malah tampak kagum dengan tingkah yang tampak malu

lalu seperti i

erti inilah mereka berdua k

pati anak-anak, membuat dia jarang bertemu dengan kedua sahabatnya ini. Di tambah Yunita dan Susan memiliki tugas yang juga men

celetuk Ayu, dengan senyum di wajah

biasa, nona Ayu berani mengatakan itu secara gamblang di depan kak Yuni

u dengan wajah sangat ganas. Seperti macan

dekat dengannya!

balas Ayi sambil cengengesan. Tidak ada

payah menjauhkan Susan, yang tamp

,' batin Yunita, dan langsung mengam

seperti bolpoin. Namun sebenarnya itu

at melihat Yunita tersenyum

angsung menempelkan peman

ak kaget, hingga akhirnya dia

ya diam juga,

Yuni.' batin Lingga. Tidak tahu bagaimana dia harus mengekspresikan ini, tapi yang jelas

engan Lingga. "Eh, apa tak ma

izin," balas Yunita

t Ayu dengan senyum

atau menyesal sama sekali. Lalu berhenti tepat Lingga. "Jadi, apa kamu tadi menerta

ihat Yunita melakukan itu, denga

tidak tertawa. Aku cuma menahan b

Yunita me

engan wajah pucat seperti

saku belakangnya. Tatapannya juga langsung berubah serius.

," balas Lingga

suruh Naya,

bai

mpat Adit sana, dan ba

g?" tany

jah lelah, tapi tangannya m

alam sekejap. "O-oke kak aku mengerti!

gsung berlari p

Sedangkan Ayu di sebelahnya malah terlihat tersenyum kecut,

lamanya itu. "Yunita, kamu masih

gan senyum canggung. "Kamu saj

kan matanya dengan Centil. Seolah tak mempa

senyum seperti itu juga ya, benar-bena

aku ditugaskan di sini, entah kenap

pnya. Ketegangan dan aura dinginnya di medan misi masa lalun

satu ini berubah menjadi seperti ini. Mengingat masa lalu wanita se

is itu." Walau ini adalah reuni setelah sekian lama, Yuni

bangun," berbalik dan melihat ke arah tangga. "Sudah dar

wajah Ayu, Yunita seolah paham apa mak

mu bisa bahasa

enoleh ke arah Yunita dengan wajah pen

ah bermasalah menjelaskan kondis

inya sebelum dia berangkat kemari, dia lebih dulu menuju sekolahan Vio

a, sekarang dia ceritak

Ekspresi wajah Ayu juga terlihat berubah-ubah, dari se

a wicara, ya," gumam Ayu sambil men

Yunita mengangguk

sudah tahu

a belum." Kini wajahnya tampak bermasalah. "Aku bermaksud

ebaiknya tidak terlalu terburu-buru mengabari tuannya masa

u dengannya?" tiba-t

amu mengantark

amping Yunita fan merangkul lengan kanannya

ah sama seperti saudara kandung. Bagaimanapun keduanya sejak kecil sel

ita. "Kenapa kamu tiba

engan tindakan Ayu yang

yum di wajahnya. "Bukankah kamu

itu?" Yunita entah kenapa merasa ter

yu sambil mengedipkan sebelah matanya, dan

san." Kecurigaan ini entah kenapa munc

s itu." Ayu terlihat sedikit jengkel

dak jengkel, saat mereka di sama

an berdua menuju ka

Viona. Tiba-tiba pintu terbuka bahk

njang, dia mendongak dan tampak kag

a Ayu dengan senyum

Ayu tentu tidak mempermasalahkannya. Lagi pula

a?" tanya Ayu sambil mem

yang menggunakan bisa bahasa isyar

teman saya ini Yunita," kata Ayu denga

nnya, tapi walaupun begitu dia tetap menanya

a,' kata Viona deng

lan denganmu, V

ngguk tersenyum ca

ngan orang yang baru dia lihat kemarin. Seharusnya ini tidak sopan, karena dia ada

menjadi kali pertamanya baginya berinteraksi denga

aya ini tidak bisa menggunakan bahasa isy

u, Yunita hanya bis

yang tiba-tiba meminta maaf padanya. Walau Viona merasa kalau di

nggap tempat ini

al itu sama sekali. Dia juga memberi tahu dengan bahasa isyara

kebingungan. "Apa katanya?

sa mendengar dan mengerti apa

oleh kearah Viona yang terlihat terse

ona,' kata Viona dengan isyarat. 'Dan terima k

ngisyaratkan itu dengan wajah merona m

ak ini sebenarnya san

a. Ini seperti Yunita yang sedang jatuh cinta pada Viona

anggil

eh ke samping menan

," pinta Yunita sambil me

kebingungan dengan temannya satu ini. Ja

annya," balas Yunita sambil meraih ke

karang memelototinya. Ayu paham bahwa

wanita di depannya itu. Ini pertama kalinya dia men

esuatu yang terasa mene

nyak orang karena kekurangan, yang susah berkomunikasi.

nah dia alami, hin

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dirka & Viona
Dirka & Viona
“Dirka hidup keluarga, apa yang tidak ada sekarang tanpa harta yang dimiliki oleh kedua orang tuanya. Bertahun-tahun dia hidup dan tumbuh dengan beberapa pelayannya, yang sangat setia kepadanya. Namun, bagi mereka semua sama seperti keluarganya, dan ia merasa cukup dengan hal itu. Walau ada rasa cemas diantara semua pelayannya yang sangat khawatir jika Dirka tidak memiliki keturunan yang menghargai semua asetnya. Disaat Dirka pergi kesuatu tempat, yang dulu sering dia kunjungi bersama kedua orang tuanya. sebuah tempat penuh kenangan yang tidak mungkin dialaminya lagi. Namun, siapa sangka. Sesampainya di sana dirinya bertemu dengan seseorang yang ingin melakukan nekat. Dirka tidak mengira jika orang itu ternyata seorang gadis. Namun, pertemuannya dengan gadis ini, mengingatkannya pada masalalu kelam yang pernah ia alami. Dirka mencoba berbicara, tapi gadis itu hanya diam. Merasa tidak mungkin meninggalnya sendiri. Dirka pun langsung membawakan gadis itu.”
1 Bab 1 01 - Dirka dan Gosip2 Bab 2 02 - Tuntutan bawahan dan Gadis3 Bab 3 03 - Penipu (Dirka) & Ditipu (Viona)4 Bab 4 04 - Tangisan dan Perintah5 Bab 5 05 - Sindir menyindir dan Informasi6 Bab 6 06 - Kesalahpahaman & Tugas7 Bab 7 06 - Pulang dan Pesta Gelap8 Bab 8 08 - Reuni Aneh dan Perasaan Wanita9 Bab 9 09 - Ungkapan dan Ide10 Bab 10 10 - Sarapan 11 Bab 11 Memory 12 Bab 12 Tawaran13 Bab 13 Rasa Penasaran14 Bab 14 Kediaman Heka15 Bab 15 Permintaan Egois dan Kerja16 Bab 16 Tempat yang tak Diinginkan17 Bab 17 Sahabat18 Bab 18 Dugaan