Er
kulit saat aku terhuyung-huyung keluar dari The Obsidian. Aku tidak merasakan dingin. Aku tidak mer
lu pintar. Jalang. Sem
a itu.
asku. Nama itu melemparkanku kembali ke masa lalu, ke lantai linoleum dingin di asrama universitas, k
akhir. Sebotol pemutih "tidak sengaja" tumpah ke satu-satunya gaun formalku sebelum wawancara beasiswa. Mereka mengunciku di lemari petugas kebersihan yang gelap selama berjam-jam, tawanya menggema di luar saat napas panikku berubah menjadi isak tangis tersengal-s
ur dan ketakutan dari keluarga kelas pekerja yang tidak punya d
n, Andra Hu
bil setelah sesi belajar larut malam. Dia tidak pernah mendesak, tidak pernah mencampuri urusanku, hanya menawarkan kekuatan yang tenang dan kokoh yang sangat kubutuhkan. Dia mendengarkan, benar-benar mend
dapatkan beasiswa baru ketika beasiswaku dicabut tanpa alasan jelas. Dia melunasi utang medis ibuku yang mendadak dan me
menjadi pe
cinta dan rasa aman, telah memercayainya. Aku memperc
tertipu," suara ejekan Erv
ang bodoh. Benar-b
k mencoba bangkit. Aku hanya berlutut di sana di genangan air, air kota yang kotor meresap ke lutut celanaku, dan tertawa. Suara hampa dan hancur yang dite
gabaikannya. Kemungkinan itu rumah sakit, rekan kerja, atau-gel
rabanya dengan jari-jari yang mati rasa. Layarnya retak dan lic
geser layar untuk menjawab.
dari fasilitas panti rawatnya. "Erika? Ini tentang nenekmu. Beliau terkena stro
an. "Aku sedang dalam perjalanan," desahku t
sudah terisi. Pintu masuk kereta bawah tanah kebanjiran. Aku berdiri di sudut jalan, melambaikan tang
akang turun, memperlihatkan seorang pria berseragam militer rapi. Wajahnya bergaris te
rsi belakang, terengah-engah berucap, "Rumah
apanku di kaca spion tengah selama sepersekian detik, da
er itu suram. "Kami sudah melakukan semua yang kami bisa," katanya, suaranya
ku, wanita yang membesarkanku setelah orang tuaku meninggal, tampak begitu kecil dan lem
adar. "Erika, Sayang," parau suaranya,
capku tercekat, merema
Nenek mau melihatnya. Mau melihat pria
etar meraba saat memutar nomornya. Berdering sekali, dua kali, lalu beralih
rgerak cepat di atas layar. Nana sekarat. ICU Mou
p belum dibaca. Tanda centang abu-abu kecil itu menj
-kata itu terasa berat dan beracun di mulutku. "Dia terjebak rapa
a. "Anak baik," gumamnya, matanya p
yi bip teratur dari monitor jantung lenyap menj
pedih terkoyak dari jiwaku. Aku telah kehilangan bagian terakhir dari keluargaku. Aku telah keh
an dokumen, ucapan belasungkawa lirih, dan mati rasa yang begitu dalam d
rumah duka, rasa penasaran yang kelam menguasai diriku. Aku membuka ponselku, jemar
m pelukan Andra. Mereka berada di The Obsidian, sebotol sampanye berada di atas meja di antara mereka berdua. Andra tersenyum, senyuman langka dan memukau
t, saat aku dengan panik berusaha menghubunginya, dia justru sedang merayak
adi menangis dan hancur, menjadi hening. Rasa
ali. Aku berjalan menuju meja perawat, to
n dua panggi
ku. "Saya perlu menjadwalkan tindakan terminasi ke
endi, ini Erika Rahardian. Nenek saya baru saja meninggal dun
g kamu butuhkan. Pernikahanmu tiga minggu la
nnya dibatalkan. Saya akan mengambil cuti di luar tanggungan selama enam bulan setela
n terperangah di
rnikahan saya," lanjutku dengan tenang. "Namun sebelum saya pergi, ada had
/0/36676/coverbig.jpg?v=90b57e15943ae34ceef381000a9d5d76&imageMogr2/format/webp)