icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Terlambat Menyesal: Adik Tiriku Kini Sang Pewaris

Bab 2 

Jumlah Kata:704    |    Dirilis Pada: Hari ini17:38

penuh kasih, Jelita menelan kembali kata-kata yang ingin disam

di rumahnya. Dia tidak akan peduli di mana dia berkul

eninggalkan rumah keluarga Mahard

ecercah kesedihan melintas di wajahnya. Totoro gempal yang memegang payung daun hijau untuk memayungi seoran

dan mematikan lampu tidur it

tuk pergi, sudah waktunya berke

di dinding. Di dalam rak-rak berpintu kaca itu tersimpan semua kenangan. Jimat-jimat keberuntungan yang dibaw

lam tas duffel. Tas itu perlahan terisi penuh, tetapi hatinya te

h buku harian yang menguning tergeletak di dalamnya. Halaman-halamannya dip

ini pembawa sial. Mereka bilang aku punya satu aya

lalu dengan lembut membelai kepalanya. "Gadis bodoh, kamu bukan pembawa sial," katanya s

getahui bahwa Baskara telah mendatangi sekolah dan diam-diam memperingatkan anak

ulisan tangan pensilnya menjadi lebih rapi

leh air mata. Halaman terakhir memuat sebuah catatan

kota ini. Setelah lulus, kamu bisa bekerja di Kumpulan Mahardika. Aku melindu

a suara ke atas buku harian

ulai merobek halaman-halaman dari buku harian itu. Dia juga merobek surat-suratnya. D

u ke dalam tas duffel dan menari

wah. Dia keluar dari kamarnya dan melihat Citra di ruang tam

p kencang, dan dia mem

Jelita! Aku akan tinggal di sini selama beb

men yang dipegangnya. "Liha

a dengan tali logam. Jam itu lucu, d

rang pengasuh pernah memberinya sendok logam untuk makan. Dia hanya mengalami ruam kecil, tetapi Baskara langsung memecat pengasuh itu saat itu juga.

ara memecah kesunyian. "Cepat ambil

gitu datar, gelombang kesedihan membanjiri dirinya. Baskara bukan hanya telah m

engambil kotak itu dan mengenakan jam t

k Ipar. Dan... teri

membuat keputusanku untuk

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Terlambat Menyesal: Adik Tiriku Kini Sang Pewaris
Terlambat Menyesal: Adik Tiriku Kini Sang Pewaris
“Selama sepuluh tahun, aku hidup di bawah perlindungan kakak tiriku, Baskara Mahardika. Dia adalah matahari di duniaku yang hancur. Namun, saat aku menyerahkan buku harian dan surat cinta di hari ulang tahunku yang ketujuh belas, dia meledak dalam amarah dan merobek perasaanku berkeping-keping. "Jelita Kusuma, apa kamu sakit? Aku ini kakakmu!" Tak lama setelah itu, dia membawa pulang seorang wanita bernama Citra Erlangga dan menyuruhku memanggilnya "kakak ipar". Sejak saat itu, pria yang berjanji akan selalu melindungiku berubah menjadi sosok yang paling kejam. Dia memberikan semua kelembutan yang dulu milikku kepada Citra, mengabaikan alergi parahku, dan membiarkan aku kedinginan di tengah hujan. Bahkan ketika aku difitnah mencoba merayunya, ibuku sendiri menelepon hanya untuk memakiku sebagai beban yang tidak tahu malu dan menyuruhku angkat kaki dari rumah itu. Sembilan puluh sembilan langkah berdarah yang kutempuh untuk mendekatinya ternyata tidak ada artinya. Cinta mendalam ini kini hanya menjadi api yang membakarku hidup-hidup, sementara dia sibuk merencanakan pernikahan mewahnya. Sekarang, aku mengerti. Aku harus memadamkan api itu sendiri. Delapan belas hari setelah menyerah pada Baskara, aku memotong rambutku yang sepanjang pinggang. Aku membuang semua kenangan tentangnya ke dalam tempat sampah, mereset ponselku, dan diam-diam naik pesawat ke kota yang berjarak ribuan mil jauhnya. Mawar tidak boleh basah kuyup, tetapi mulai hari ini, aku akan menjadi bunga matahariku sendiri.”