icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 10 

Jumlah Kata:686    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

pipinya memerah padam. "A-apa

postur tubuhnya, dan berjalan cepat kembali ke mejanya untuk menyembunyikan keca

r bola matanya di b

hati. Suatu hari menamparku, ha

Bakri, Asisten Eksekutif Utama Aditya Wijay

ya selama lima tahun. Dia sang

dokumen hukum untuk pengambilalihan terb

n sofa, menatap Budi. Gelombang k

ahwa bulan depan, Direktur Keuangan-yang diam-diam bekerja untuk Gisela Hadikusumo-akan

ahalnya. Dia membeku. Ujung emasnya menekan kertas begi

udi, tetapi pikirannya berputar dengan kemarahan yang heb

tatapan tajam itu. "Bos? Apak

di atas kertas yang robek dan mengembalikan map itu. "Tidak ada kesalahan.

nnya langsung bekerja. "Dimengerti

at rendah. "Dan Budi... tempatkan tim bayangan pada Direktur Keuangan. Laca

yadari ada pengkhianat. Dia mengang

kembali di sofa,

iki Direktur Keuangan? Apakah Budi diam-diam melaporkan sesuatu kepadanya sebelumnya?

ir kopinya, menyesapnya untuk menyembunyikan wajahnya. Dia tidak

umah pribadi di meja

enelepon. Rahangnya mengat

an tombol

emenuhi ruangan. Suaranya melen

eriak melalui speaker. "Gisela Hadikusumo dipermalukan di perjamuan hari ini! Kali

ntor beruba

at. Teror naluriah dari kehidupan masa lalunya-diteriaki, d

at, meringkuk menjadi bola k

tlak. Jika kita kembali ke puri, Gisela Hadikusumo akan menemukan cara un

enaknya. Darahnya membeku, lalu mendidih dengan kemarahan pro

rmat anak sedikit pun. "Ibu. Kami akan kembali malam ini. Tapi kami ti

sebelum dia bisa berteriak lagi, Aditya Wij

dan perlahan berlutut, menurunkan tinggi badannya h

angan besarnya yang hangat di atas jari-j

utlak. "Jangan takut. Aku di sini. Tidak ada yang akan menyentuh sehelai

ata panas menetes di pipinya. Badai akan datang, tetapi untuk pert

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”