icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 3 

Jumlah Kata:617    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

rbuka. Angin musim gugur New York

roda Elara Davina Wijaya keluar ke trotoar. Ia berhenti, melepaskan jasnya, dan menyam

am kerah jas itu. Baunya seper

hari ini? pikirnya, benar-benar bi

an komentar internal Elara Davina Wijaya dan mendorong kursi

embuka pintu belakang dan menundukkan

wajah Kris. Pupil matanya membesar. Ia m

gu depan ia akan merusak rem untuk melunasi utang lintah da

k membantunya berdiri. Ia membeku. M

kan tangannya untuk meraih

tangan Kris dengan tam

ya Wijaya. "Aku yang

a memerah. Ia menundukkan kepalanya, men

Davina Wijaya dan yang lain di belakang punggungnya. Ia mengangkatnya de

a Wijaya me

erdebar sebelum kepanikan kembali melanda. Tidak,

Ia membanting pintu berat itu hingg

elesat di layar, mengirim pesan terenk

nyalakan mesin. Ia melihat ke kaca s

sabuk pengaman cukup erat hingg

hati. Ular beracun Gisela Hadikusumo m

i cermin. Suaranya datar. "Tidak.

ia memasukkan gigi dan berga

a menghela napas p

teng pribadinya. Gisela Hadikusumo tidak bisa

palanya ke belakang kursi, memejamkan mata. Ponselnya bergetar di paha

r kawat berisiko tinggi baru-baru ini ke tempat perjudian lepas pantai yang dikenal. Itu a

dara di bagian belakang Maybach men

encakar langit Manhattan. Kris memarkir mobil dan

menarik Elara Davina Wijaya keluar

a menatap Kris dengan mata sepert

cat pasi. "B-

erapa inci dari wajah Kris, menunjukkan laporan bank. "Apakah aku perlu mema

ruk ke lantai beton, ter

berdiri membeku. R

benaknya berputar. Apakah ia

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”