icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran

Bab 2 

Jumlah Kata:595    |    Dirilis Pada: Hari ini13:37

alui jendela kaca tebal ke mesin MRI besar yang menelan Elara Wijaya. Dia mengul

r di sakunya. Dia

am tertentu itu hilang. Dilap

umpalan dingin dan berat terbentuk di perutnya. Kecurigaan tentang

a keringat dari dahinya dengan tisu. "Bapak Wijaya, otak dan

er. Dia membalik-balik halaman, matanya memindai dat

uar ke lorong. Aditya Wijaya melangkah di

kata Adit

perawat bub

ke ruang VIP. Dia menutup pintu sampai te

berat dan duduk, menyilangkan kakinya yang panjang. D

dan menyelidik. "Apakah kamu menyebutkan sesu

memaksakan ekspresi kosong dan polos di waj

ku tidak sengaja mengatakannya dengan keras? Mus

m dingin mikroskopis menyentuh sudu

hkan suaranya. "Gisela akan menemuimu sor

al, menarik selimut putih hingga dagu

pulatif itu datang hanya untuk memeriksa apakah aku sudah mati! Dia ma

aporan tes paternitas palsu menghant

tai. Dia berjalan ke jendela, membelakangi Elara Wijaya. Dia menari

perhatikan pungg

mengkhianatinya, dan dia membantunya m

angkah berat. Rasa jijik yang biasanya memenuhi matanya saat di

aih ujung selimutnya. Dia menyelimutkannya

tnya menegang. Dia menatapnya

hari ini," katanya kaku. "Aku menyuruhnya t

membelalak. Dia

dalam hatinya. Kakak tiran itu tidak

dengar kata tiran. Dia memaksa di

eko air plastik dan menuangkan segelas. Dia menguji suhuny

natap air, meng

acuninya? dia

las. Dia mendorongnya ke tangannya. "Minumlah. B

Dia menyesap sedikit, hati-hati. Air hangat melapi

idak akan membiarkannya lepas dari pandangannya. Dia adalah gudan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
Dimanja oleh Konglomerat Dingin yang Bisa Membaca Pikiran
“Elara terbangun di ranjang rumah sakit dengan kepala yang masih berdenyut, disambut tatapan dingin Aditya yang menuduhnya berpura-pura demi menutupi kesalahan telah mencelakai Gisela. Namun, sebuah kejutan besar menghantam pikiran Aditya: dia bisa mendengar suara batin Elara dengan sangat jelas, sebuah rahasia yang mengungkap bahwa Gisela adalah seorang manipulator ulung yang telah menjebak Elara. Aditya mulai menyadari bahwa selama ini dia telah dibutakan oleh kepolosan palsu Gisela, sementara adiknya sendiri menanggung derita akibat pengkhianatan yang sistematis. Elara, yang masih terjebak dalam trauma masa lalunya, terus membatin tentang kehancuran keluarga mereka dan nasib tragis yang menanti jika dia tetap bungkam. Dada Aditya sesak oleh rasa bersalah dan kemarahan yang meluap; bagaimana mungkin dia membiarkan wanita ular itu merusak hidup keluarganya sendiri? Mengapa dia begitu bodoh hingga membiarkan kebenaran yang mengerikan ini bersembunyi di balik topeng malaikat Gisela selama bertahun-tahun? Aditya akhirnya menarik Elara dari cengkeraman keluarga mereka yang beracun, bersumpah untuk melindungi adiknya dan membongkar setiap konspirasi yang mengancam kehancuran Wijaya.”