icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Bab 5 

Jumlah Kata:395    |    Dirilis Pada: 08/12/2025

na

i pada Handi. Dia langsung pergi. Handi berdiri di s

sebelum meninggal. Handi mungkin ter

lah bergegas menuju Chika.

engar kematian saya. Bahkan setelah saya mati, say

ntu sedikit terbuka. Handi berhen

an dan konflik. Chika bertanya apakah dia masih

tidak masuk. Handi mengerutkan keni

ke pintu. Dari dalam, terde

lang Chika memanggil polisi. Di

nan seorang pejabat tua. Handi terkejut.

akut. Chika membantah tuduhan itu

gungkapkan ibu Chika sudah

ng itu untuk membayar utang judi. Dia bilan

an bagi Handi. Keyakinan Handi h

kecelakaan" saya dan donor organ. Pria itu menga

a telah dimanfaatkan. Handi menyadar

jeritan dari dalam. Handi s

aku. Chika tergeletak di lantai. Kepala

akaan. Penagih utang itu kabur dari apart

engan dingin. Kebenaran teru

n yang dingin. Keadilan datang ter

Chika. Wajah yang dulu dia puja k

ara menjadi jauh. Dalam dunia yang runtuh i

Handi menyadari dia te

menunjukkan reaksi yang besar. Dia

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Penyesalan Suami Setelah Kematianku
Penyesalan Suami Setelah Kematianku
“Tentu, saya akan menambahkan POV (Point of View) ke setiap bab sesuai dengan permintaan Anda, tanpa mengubah format atau konten lainnya. Di meja operasi yang dingin, napas saya berhenti selamanya. Suami saya, Handi, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah jasad saya. Dia sibuk memeluk cinta pertamanya, Chika, merayakan keberhasilan transplantasi ginjal yang dia rampas paksa dari tubuh saya yang sekarat. Bagi Handi, kematian saya hanyalah harga murah demi keselamatan "bidadari" palsunya. Namun, karma datang lebih cepat dari dugaannya. Seorang perawat dengan sinis memberitahunya: "Selamat, Tuan. Anda baru saja membunuh istri Anda sendiri demi seorang penipu." Kebenaran terbongkar. Chika ternyata hanya mengincar uang asuransi kematian saya. Handi hancur. Dia meraung, mengemis untuk melihat makam saya. Tapi sahabat saya, Feri, sudah menyembunyikan jasad saya jauh-jauh. Yang Handi temukan hanyalah nisan bertuliskan "Istri Feri". Gila karena penyesalan, Handi menggali tanah dengan tangan kosong di samping nisan itu. Dia mengiris nadinya sendiri, berharap darahnya bisa menebus dosa. Sayangnya, bahkan kematiannya pun tidak lagi berarti bagi saya.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 8