icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Penyesalan Suami Setelah Kematianku

Bab 3 

Jumlah Kata:452    |    Dirilis Pada: 08/12/2025

na

i rumah sakit. Handi secara pribadi menje

saudara dan teman-teman. Ketika Han

dengan Chika?" tanya seorang ke

kata yang lain. Chika menu

katanya. "Saya tidak

kan masalah," kata Chika

bir. "Riana itu c

ncintai Chika,"

lagi yang Riana bisa lakuka

lah bercerai,"

Sungguh ironis, sa

yalahkan saya. S

ya. Dia sibuk mengemas

aya selamanya. Tapi semua pekerjaan r

ungi saya, tetapi semua pend

kerabatnya. Kerabatnya memegang tang

p sebagai orang yang tidak seharusnya ada. Diamnya

di. Apartemen itu adalah tempat Handi

. Saya seharusnya menyadari sejak awal ba

asi barang-barangnya. Chika

eka begitu dekat. Seolah per

dar. Chika memeluknya lebih erat. Dia m

ik Chika. Chika mengklaim d

g dari orang lain. Cerita

tawa sinis atau se

enarnya lebih awal?" Handi bertanya.

pembicaraan dengan cerdik, menga

itinya. Chika mengatakan saya menyebarkan

jal. Semua itu bohong! Saya tidak memilik

yelidiki untuk mengetahui kebenarannya

hika. Dia mempermalukan saya di depan umum.

ukan saya direkam. Handi hanya dud

dak mendengarkan. Sekarang, Chika menyebutkan

rti mengapa Handi tidak mencinta

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Penyesalan Suami Setelah Kematianku
Penyesalan Suami Setelah Kematianku
“Tentu, saya akan menambahkan POV (Point of View) ke setiap bab sesuai dengan permintaan Anda, tanpa mengubah format atau konten lainnya. Di meja operasi yang dingin, napas saya berhenti selamanya. Suami saya, Handi, bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah jasad saya. Dia sibuk memeluk cinta pertamanya, Chika, merayakan keberhasilan transplantasi ginjal yang dia rampas paksa dari tubuh saya yang sekarat. Bagi Handi, kematian saya hanyalah harga murah demi keselamatan "bidadari" palsunya. Namun, karma datang lebih cepat dari dugaannya. Seorang perawat dengan sinis memberitahunya: "Selamat, Tuan. Anda baru saja membunuh istri Anda sendiri demi seorang penipu." Kebenaran terbongkar. Chika ternyata hanya mengincar uang asuransi kematian saya. Handi hancur. Dia meraung, mengemis untuk melihat makam saya. Tapi sahabat saya, Feri, sudah menyembunyikan jasad saya jauh-jauh. Yang Handi temukan hanyalah nisan bertuliskan "Istri Feri". Gila karena penyesalan, Handi menggali tanah dengan tangan kosong di samping nisan itu. Dia mengiris nadinya sendiri, berharap darahnya bisa menebus dosa. Sayangnya, bahkan kematiannya pun tidak lagi berarti bagi saya.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 8