icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Pernikahanku, Bukan Denganmu

Bab 4 

Jumlah Kata:702    |    Dirilis Pada: 26/11/2025

dang Bina

k. Sebuah lelucon yang kejam. Ponselku berdering tepat pukul sep

Kian tegang dengan kecemasan yang

u, suaraku sendir

dengar. "Bagus. Hebat. Aku akan kirim mobil u

berbohong, menatap b

ian. Ini adalah gaun yang kutemukan berbulan-bulan lalu, sebuah pembelian rahasia, bis

dengar klakson mobil di luar. Pada saat ya

ar, ya Tuhan, ada se

menu

angan panik parah. Hiperventilasi, s

kesulitan, memainkan babak te

ah perintah, bukan pertanyaan. "Kamu harus ke lokasi acara duluan. Aku akan ke san

kami. Karena simpanannya mengalami se

ataku, suaraku ma

nikannya, dia merasakan ada yang tidak bere

ggak marah?" ta

ujur yang kukatakan padanya dalam beberapa bulan.

rtegun sebelum dia tergagap

. Binar yang selalu pengertian telah membantunya sekali lagi. Dia mungkin berpikir dia adalah pria pa

sekali ti

dang Kian

Amara, dengan segala dramanya, telah menampilkan pertunjukan yang hebat, tetapi beberapa tarikan napa

k apa-apa?" tanya Amar

a ngerti," kataku, mem

rnikahan Bali yang sempurna, pengantin wanita yang b

i pantai yang sangat indah di Nusa Dua. Tempat itu tampak luar

erabatku ada di sana, berkeliaran dengan canggung. Tapi deretan

un tamu. Tidak ada orang tuanya, tidak ada saudara pere

tajam dan asing, meray

sudah mengirimkannya belasan kali. Undangannya sudah d

u, ibu jariku menekan foto kontaknya dengan kasa

pon lagi.

Lagi

jahnya penuh kekhawatiran. "Di m

e sekeliling ruangan kosong, menatap jam di dinding

anku berdering.

ku, begitu kuat hing

dan panik tumpah ruah. "Kamu di mana? Kamu lupa sama pe

enang dan jernih seperti pagi di m

g samar. Dan lonceng. Lonceng gere

ini, Kian

kan angin pantai Bali. Itu adalah

di Pu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pernikahanku, Bukan Denganmu
Pernikahanku, Bukan Denganmu
“Lima tahun lalu, aku menyelamatkan nyawa tunanganku di sebuah gunung di Puncak. Insiden itu membuatku cacat penglihatan permanen-sebuah pengingat yang berkilauan, yang terus-menerus ada, tentang hari di mana aku memilihnya di atas penglihatanku yang sempurna. Dia membalasku dengan diam-diam mengubah rencana pernikahan kami di Puncak menjadi di Bali, hanya karena sahabatnya, Amara, mengeluh di sana terlalu dingin. Aku mendengarnya menyebut pengorbananku sebagai "drama murahan" dan melihatnya membelikan Amara gaun seharga delapan ratus juta rupiah, sementara gaunku sendiri ia cibir. Di hari pernikahan kami, dia meninggalkanku menunggu di altar untuk bergegas ke sisi Amara yang-sangat kebetulan-mengalami "serangan panik". Dia begitu yakin aku akan memaafkannya. Dia selalu begitu. Dia tidak melihat pengorbananku sebagai hadiah, tetapi sebagai kontrak yang menjamin kepatuhanku. Jadi, ketika dia akhirnya menelepon ke lokasi pernikahan di Bali yang kosong melompong, aku membiarkannya mendengar deru angin gunung dan lonceng kapel sebelum aku berbicara. "Pernikahanku akan dimulai," kataku. "Tapi bukan denganmu."”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 10