icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Ayah Mertuaku, Musuhku

Ayah Mertuaku, Musuhku

Penulis: Samuel Andi
icon

Bab 1 begitu hampa

Jumlah Kata:1909    |    Dirilis Pada: 09/11/2025

menenangkan hatinya yang penuh luka. Sudah hampir sebulan suaminya meninggal, meninggalkan Laras sendirian di dunia yang terasa begitu hampa. Setia

nanyakan kabarnya, selalu memastikan bahwa ia makan dengan cukup, dan bahkan membantunya dengan urusan rumah tangga. Mereka i

ada sesuatu di matanya yang selalu membuat Laras merasa diperhatikan secara lebih mendalam. Awalnya ia mengira itu hanya perhatian biasa-peduli karena La

ulkan air hujan. Hatinya bergemuruh, campur aduk antara kesedihan, kesepian, dan rasa rindu yang tak bisa diungkapkan. Ia menyesal ka

teh hangat. "Aku buatkan teh hangat, biar kamu tidak kedinginan," katanya sambi

"Terima kasih, Rizqan... Aku... aku tidak ingin

buhnya. "Laras, jangan merasa seperti itu. Kami ingin kamu tetap kuat. Aku... aku juga ingin

kata-kata itu-perasaan yang selama ini ia sangka hanya imajinasinya sendiri. T

"Aku masih... belum siap untuk... perasaan baru. Aku masih merasa bersa

k ingin memaksamu. Tapi aku tidak bisa lagi menyembunyikan perasaanku, Laras. Aku... ak

g menyelinap-bukan karena tidak mencintai Rizqan, tapi karena ia merasa tidak p

s. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku. Kalau kamu tidak membalasnya

reka saling menggenggam, saling merasakan kehangatan yang selama ini terpe

, dan hatinya seperti menjerit ingin menolak, tapi tubuhnya justru bergerak tanpa sadar mendekat. Rizqan menunduk,

i. Laras menarik diri, menatap Rizqan dengan mata yang berlinang air mata. "

dak ada yang salah kalau kita saling menghibur. Aku tidak ingin mem

atu yang baru-awal dari perasaan yang tak terduga, yang mungkin akan membuat hi

Laras mulai menyadari, mungkin Rizqan bukan sekadar abang ipar yang baik. Ia mungkin adalah orang yang bisa menemaninya

m tangan Laras lagi. "Laras, aku ingin kamu tahu... aku tidak ingin terburu-buru. Kita bi

tahu jalan mereka tidak mudah. Ada rasa bersalah yang terus menghantui, ada tatapan keluarga

erasakan secercah harapan yang belum pernah ia rasakan sejak kehilangan suaminya. Ia memutuskan,

onflik batin. Ia tahu, perasaan ini mungkin terlarang, tapi juga nyata. Dan di sisi Rizqan, ia menemukan ketenangan yang

minya. Laras duduk di sofa, menatap teh yang baru ia seduh dengan tangan yang sedikit gemetar. Rasanya aneh, campuran

p. Laras tahu, sejak malam itu, hubungan antara dirinya dan Rizqan akan berubah-tidak lagi sekadar per

ius daripada biasanya. "Laras, kita perlu bicara," katanya sambil meletakkan g

up lebih cepat. "Tentang apa?" tany

ita tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Aku tidak ingin kita saling

ya berat. "Rizqan... aku masih merasa bersalah. Aku kehilangan suami, dan aku...

ingin menunggu selamanya. Aku ingin tahu apakah kamu... setid

tapi juga rasa ingin tahu yang lama ia kubur dalam-dalam. Ia tahu, jika ia me

mbuat tanah basah dan aroma dedaunan terasa segar. Saat ia melangkah pelan di ja

nya mendengarkan suara tetesan air dan angin yang berdesir di dedaunan. Ada kenyamana

a. "Aku... aku tidak pernah melupakan malam-malam ketika aku merasa kamu sendiri. Setiap kali aku melihat

yang ia buat selama ini. Ia ingin lari, ingin menolak, tapi tubuhnya tera

lagi. "Aku tidak ingin memaksa. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku ada di s

eluarga, ada tatapan masyarakat, dan tentu saja, kenangan suaminya yang selalu menem

uinya. Ia ingat semua momen bersama Rizqan-senyum yang lembut, perhatian yang hangat, tatapan yang memb

ngat terhadap Laras, namun ada juga yang memperhatikannya dengan tatapan penasaran. Laras mu

. "Aku ingin bicara lebih tenang," katanya. Laras mengikuti langkahnya, merasa canggu

m itu. Aku ingin kamu merasa nyaman. Aku ingin kita bisa perlahan-lahan membang

ul, tapi juga takut terseret terlalu jauh. "Rizqan... aku... aku takut. Takut kalau ak

ut. Tapi kita bisa hadapi bersama. Aku akan sel

ering tersenyum, lebih sering merasa hangat saat melihat Rizqan. Tapi ia juga merasakan teka

i di depan batu nisan, menunduk, dan berbicara dengan suara yang hampir tak terdengar. "Aku... aku masih

langkah yang ia ambil berikutnya akan menentukan masa de

ggu di rumah, menatapnya dengan cemas.

satu hal. Aku ingin mencoba. Pelan-pelan, tanpa memaksaka

"Aku akan menunggu. Tidak terburu-bur

anan ini tidak mudah, tapi untuk pertama kalinya sejak kematian suaminya, ia merasa ada hara

khawatiran, dan keinginan untuk selalu melindungi wanita yang mulai ia cintai. Ia tahu, perjalanan mere

tup mata, mencoba menerima perasaan yang tumbuh perlahan, sementara Rizqan menjaga jar

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Ayah Mertuaku, Musuhku
Ayah Mertuaku, Musuhku
“Setelah kematian tragis suaminya, Laras merasa dunianya runtuh. Namun, keluarganya, terutama mertua, memperlakukannya dengan sangat hangat. Mereka seolah ingin menutupi kesedihan Laras dengan perhatian yang tulus, membuatnya merasa sedikit tenang di tengah duka yang mencekam. Di antara mereka, Rizqan, abang iparnya, selalu hadir dengan senyum yang lembut. Laras selalu mengira itu sekadar perhatian keluarga, tapi lama-kelamaan ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda di setiap tatapan Rizqan. Ada kehangatan dan kepedulian yang tak biasa, seolah menyembunyikan perasaan yang lebih dalam. Malam itu, hujan turun deras, dan Laras duduk sendiri di ruang tamu sambil menatap hujan yang membasahi kaca jendela. Rizqan masuk, membawa dua cangkir teh hangat. "Ini, biar hangat," katanya, suaranya lembut dan nada yang lebih dalam dari biasanya. Laras menerima cangkir itu dengan tangan gemetar. "Terima kasih, Rizqan..." suaranya nyaris tak terdengar. Percakapan mereka mengalir begitu saja, ringan tapi penuh makna terselubung. Mereka tertawa, berbagi cerita masa lalu, dan tanpa disadari jarak di antara mereka terasa semakin dekat. Saat larut malam, hujan tak kunjung berhenti, dan suasana menjadi semakin intim. Rizqan duduk lebih dekat, menatap Laras dengan tatapan yang tak bisa disembunyikan lagi. "Laras... aku... aku tidak bisa membohongi perasaanku lebih lama lagi," ucapnya, suaranya nyaris bergetar. Laras menatapnya, hatinya campur aduk antara takut dan rindu. Tanpa sadar, mereka tertarik satu sama lain, dan malam itu, dalam kesunyian rumah yang diterangi lampu redup, mereka membiarkan perasaan yang lama tertahan itu meledak-menghapus duka sejenak dengan kehangatan yang terlarang tapi nyata.”
1 Bab 1 begitu hampa2 Bab 2 membuatnya teringat3 Bab 3 menyesakkan dadanya4 Bab 4 terungkap5 Bab 5 mengancam6 Bab 6 setelah malam yang penuh ketegangan7 Bab 7 Di sisi lain rumah8 Bab 8 merasa damai9 Bab 9 muncul dari arah rumah10 Bab 10 memberikan yang terbaik11 Bab 11 membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih kuat12 Bab 12 Suara serangga malam13 Bab 13 merasa bahagia14 Bab 14 membawa keranjang15 Bab 15 dekatnya yang menenangkan16 Bab 16 Hawa pagi17 Bab 17 sesuatu yang abadi18 Bab 18 danau kecil19 Bab 19 putus asa20 Bab 20 pemeriksaan berlangsung21 Bab 21 menyerahkan22 Bab 22 kecelakaan23 Bab 23 menandakan sesuatu24 Bab 24 Cinta mungkin telah menyatukan mereka25 Bab 25 mertuanya