icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku

icon

Bab 1 terganggu setiap kali dia tersenyum sinis

Jumlah Kata:1030    |    Dirilis Pada: 09/11/2025

enangkan kegelisahan yang menumpuk sejak pagi. Hari ini bukan hari biasa. Bukan hari b

ga Marwanto: Elara dijodohkan dengan seorang pria asing. Seseorang yang tak pernah ia temui,

a menatap keluar jendela, kota Jakarta yang riuh seakan tak peduli dengan dram

kekanak-kanakan. Keluarga sudah memutuskan. Kiano pria yang baik, anak

harus hidup tanpa cinta. Aku... aku tak ingin." Suaranya men

tu bisa tumbuh, Nak. Tapi kesempatan

i mantra yang gagal menenangkan. Ia tahu, kata-kata itu tidak akan mengubah ken

sel yang menampilkan profil Elara. Ia tidak tahu harus merasa apa-penasaran, cemas, atau ma

eja kayu dengan irama gelisah. "Harusnya aku punya pilihan s

: senyum kecil yang menahan amarah, mata yang menatap seakan menantang dunia. Ada

a berdiri di aula megah, gaun putih menjuntai dengan elegan, tapi hatinya be

ajahnya datar, namun ada kilatan aneh di matanya-seola

am tatapan itu ada pertanyaan tak terucap: siapa sebenarnya pria ini? Dan Kiano, menatap Elara, ha

kan, diikat dengan sumpah yang terasa berat dan penuh kepura-pura

adi debat, setiap sentuhan menjadi peringatan. Mereka saling membenci dengan ca

membenci pria ini. Tapi mengapa aku merasa.

ara terlalu keras kepala. Terlalu percaya diri. Tapi

ka hidup bersama karena kewajiban, bukan karena pilihan. Semua orang di sekitar mereka mengangga

ntang acara keluarga berubah menjadi pertengkaran besar, dengan kata-kata yang lebih

terakhir kalinya. Tidak ada air mata, tidak ada p

ngkat, menatap Kiano dengan mata yang

nya datar, hampir sepert

i normal, atau setidaknya terlihat normal bagi orang lain. Tapi

umah keluarga, tapi di sebuah proyek besar di Jakarta. Elara kini menjadi kepala tim kreati

antungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Dan saat Kiano menatapnya, ada ki

ujar Kiano, suaranya tetap dingin, tapi a

mnya tipis, tapi matanya berb

seperti musik yang salah nada. Namun, seiring waktu, mereka mulai melihat s

ak pernah ia lihat sebelumnya. Kiano menyadari bahwa Elara bukan hanya wanita kera

n sesuatu yang tak pernah mereka duga: rasa rindu, rasa peduli, dan-ta

gi menjadi rintangan terbesar. Setiap senyum yang tulus disertai curiga, setiap perhatian disertai keraguan. M

o terjebak dalam lift kantor yang macet. Tidak ada ruang untu

kita berbicara," kata Kiano, sua

ang. "Mungkin... mungkin sudah waktunya ki

aksi dari momen rapuh itu-dua orang yang dulunya sa

ng dulu mengikat mereka perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang lain.

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku
Pacar yang Tak Pernah Punya Waktu untukku
“Dulu, Elara dan Kiano adalah dua orang asing yang dipertemukan oleh sebuah perjodohan mendadak. Tidak ada cinta, hanya kewajiban keluarga yang menuntut mereka menikah. Hari-hari mereka dipenuhi pertengkaran kecil, saling sindir, dan tatapan dingin. Saling membenci adalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami, hingga akhirnya perceraian datang sebagai pelepas dari semua beban itu. Elara pergi, membawa luka dan rasa kecewa. Kiano tetap dengan dunia yang sepi dan dingin, mencoba menutupi amarahnya dengan kesibukan yang padat. Lima tahun berlalu. Suatu hari, takdir mempertemukan mereka kembali-bukan di hadapan keluarga, bukan di acara resmi, tapi di sebuah proyek pekerjaan yang memaksa mereka bekerja sama. Elara menatap Kiano dengan campuran rasa ingin marah dan penasaran. Kiano, di sisi lain, tak bisa menahan rasa getir melihat senyum Elara yang kini lebih dewasa, lebih menenangkan, tapi tetap memicu amarahnya. Awal pertemuan mereka penuh ketegangan. Sindiran lama muncul lagi, canggung seperti musik yang salah nada. Namun, seiring waktu, mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain-sisi yang dulu tersembunyi di balik kebencian. Elara menemukan Kiano ternyata bukan sekadar pria dingin seperti yang ia ingat; ada ketulusan yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kiano mulai menyadari, bahwa Elara bukan hanya wanita pemberontak dan keras kepala, tapi juga sosok yang mampu memahami dirinya lebih dari siapa pun. Pertemuan demi pertemuan, konflik demi konflik, lambat laun menumbuhkan sesuatu yang tak pernah mereka duga: rasa rindu, rasa peduli, dan-tanpa mereka sadari-benih cinta yang mulai tumbuh dari abu kebencian lama. Kini, Elara dan Kiano harus menghadapi pertanyaan yang lebih sulit daripada perceraian mereka dulu: apakah mereka cukup berani membuka hati untuk cinta yang baru, ataukah kebencian lama akan kembali menguasai mereka?”