“Selama dua belas tahun, hidupku bukan milikku sendiri. Hidupku milik Davian Adhitama. Aku dijual kepada keluarganya saat usiaku enam belas tahun untuk membayar biaya pengobatan kanker ibuku, menjadi pendamping, sekretaris, dan akhirnya, kekasih sang pewaris takhta kerajaan teknologi itu. Lalu cinta masa kecilnya, Kania, kembali ke kota. Dia bilang akan menikahi Kania dan menawariku paket pesangon-beberapa miliar rupiah untuk dua belas tahun hidupku.”