icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gundik Suamiku

Bab 4 Surat Apa

Jumlah Kata:1702    |    Dirilis Pada: 06/12/2021

Mas Ari masih di tempat semul

ju pintu yang langsung ter

unci. Mungkin Mbok

ontak berhenti tepat di keramik pembatas antara pintu dan teras. Cepat aku menoleh ke s

takutnya Mbok Darmi lupa. Maklum, Pak. Sekarang banyak maling." alibiku meyakinkan. Untung saja, t

itu. Aku mengangguk dan menyunggingkan senyuman. Tanpa curiga terhadapku, Pak Slam

empat tertahan. Menghun

Ari di mall tadi. Mungkin benda itu amat penting sekali

tengah berjalan dari arah dapur seke

tu garasi, Nya

kenapa 'kan?" kutanyakan hal itu. Ta

empat ke toilet. Setelah itu ke lua

k Darmi mengangguk. Lantas aku kemba

encari surat itu. Nihil, benda yang kuharapkan tak kunjung kutemukan. Bahka

tak ada hasilnya sama sekali. Apakah aku harus teran

ting adalah. Aku harus segera membalik nama rumah, perusahaa

la, Mas Ari sudah membelikan mamanya Rumah, mobil, dan sebuah toko sembako untuk sumber penghasilan. Tak hanya itu, Mas Ari juga setiap bulan memberi jatah uang pada orang tua juga

u. Mendingan aku amankan saja surat ruma

set sudah berada di tanganku termasuk surat kendaraan mobil kesayangan Mas Ari. Aku jadi terpikir, bagaimana jika sandi

ku. Dan kuncinya hanya ada padaku sekarang. Bahka

rah body, pikiranku pun ikut-ikutan gerah. Lebih baik aku mandi saja se

a belum pulang. Baiklah, akan ada kejutan

ras dengan warna kulitku yang putih bening. Wajah ini kupoles dengan make u

andakan Mas Ari sudah pulang. Bagaimana r

n cermin di meja riasku. Mas Ari datang mendekat, set

nyisir rambut hany

eduh itu memelukk

nih, junior berontak." bisiknya di ceruk

annya. Namun kutahan, agar ia tersiksa

ku mencoba melepaskan kedua tan

rengeknya manja. Bak anak keci

di dulu ya," uraiku lembut

ah aku mandi." perlahan ia melepas kedua t

giannya dengan s

mbali merengek seusai melangsungkan ritual mandinya. "kamu kok ganti baju? Mana linge

. Maaf banget ya," tukasku lalu mengerjapkan

rdengar syok. "argh! kenapa k

awabku kembali membuka mata. Mas Ari tak menjawab lagi. Ia

ecil buat kamu. Belum kejutan manis ya

n ia memilih memunggungiku. Aku tahu, seberapa besar rasa kecewanya terhadapku dan kejadian tadi. Namun, it

, Mas Ari berpamitan padaku. Ia bilang akan pergi ke kantor. Ini kesemp

a dan menciumnya lekat. Lelaki berpakaian rapi ini

Ia memundurkan tubuhnya dan perlah

Sebelum ia masuk mobil, Mas Ari melambaikan tan

aru akhir-akhir ini kuketauhi. Meski berat, secepatnya ia harus memilih, antara mengakhiri hubungan ini atau melanjutkan semua. Tapi, kurasa ... hatiku akan menolak.

Slamet memasuki halaman rumah ini. Lelaki paruh baya itu mengenakan

a ramah seusai mele

engkung sabit. "loh, kok, Pak Slamet ke sini? M

i, sekarang." tak salah lagi. Bila memang Mas Ari sengaja mengekangk

ak. Saya mas

ngatakan kalimat itu. Jadi makin sulit, dengan keberadaannya di sini. Mana bisa aku mengurus surat itu kalau

yuti beragam pertanyaan dan pening memikirkan cara un

h dia obat t

uriga lagi. Karena tiba-tiba mengantuk

arus serumit ini sih? Padahal ini kan rumahku sendiri. Te

esan taksi online saja. Dengan begitu, Pak Slamet

ewat pintu depan yang Pak S

tuk memanggil Pak Slamet ke belakang. De

Sekarang aku tengah mencari keberadaan Mbok Darm

ngan tangan melambai pada Mbok Darmi yang

Mbok Darmi datang meng

uh dia mengeluarkan semua barang-barang ya

." Mbok Darmi m

k." pintaku. Lagi

nggang ke kamar untuk mengambil tas yang berisi surat

lihat sekeliling. Ternyata Pak Slamet sudah diajak Mbok Darmi ke gudang yang

remote. Taksi online yang kupes

setelah mendudukan bob

ak?" tanya s

cara. Jika aku mengurusi surat ini sendiri, akan memakan waktu lumayan lama. Jadi, l

i mobil Mas Ari. Karena STNK-nya dipegang oleh Mas Ari. Jadi aku tidak bisa membalik

mu dalam bahaya." mataku sontak melebar mendengar perbincangan Pak S

a antara Marisa

intu pagar. Reflek mengatupkan mulut m

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka