“Setelah tiga tahun menjalani rumah tangga, Aluna memutuskan untuk hamil. Selain karena sang suami, Raka, yang terus memintanya, Aluna juga merasa kariernya kini telah berada di puncak dan waktunya tepat untuk membangun keluarga. Saat kehamilan itu benar-benar terjadi, Aluna bersemangat untuk memberikan kejutan. Ia berniat datang ke kantor Raka untuk mengabarkan kabar bahagia itu secara langsung. Namun, apa yang ia lihat di kantor benar-benar mengguncang hatinya. Di ruang kerja Raka, ia menemukan suaminya sedang duduk bersama seorang wanita berparas lembut, sementara seorang gadis kecil duduk di pangkuan wanita itu, tertawa riang. Hati Aluna hancur. Namun yang lebih menyakitkan adalah kata-kata yang keluar dari mulut Raka setelah ia menyadari kehadirannya: "Kita berpisah saja," ujarnya dingin, tanpa ragu sedikit pun. Aluna tak percaya. Bagaimana mungkin Raka, yang selama ini tampak mencintainya sepenuh hati, bisa berkata begitu dengan begitu mudah? Pertanyaan yang menghantui Aluna kini adalah: apa yang akan terjadi jika suatu hari Raka mengetahui bahwa ia telah menelantarkan darah dagingnya sendiri, sementara kasih sayangnya diberikan kepada seorang anak yang tak memiliki hubungan darah dengannya?”