icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Menantu Idaman Mama

Bab 5 Permainan Persepsi

Jumlah Kata:744    |    Dirilis Pada: 02/09/2025

Permaina

u sudut di lobi utama Fakultas Bahasa yang lebih p

endra & Alya Rahma" terpampang di papan pengumuman, lengka

nakan blazer kampus dan membawa map. Ia

ah hari 'pemb

Reza lagi?" bisik salah

kan mereka satu tim d

seminggu terakhir bahwa hubungannya dengan Reza tak lebih dari

paling berhasil adalah ungg

Mahendra in the upcoming national Mandarin

usi di ruang perpustakaan, sengaja difoto

tion t

ss. Grateful to have a

efeknya bahwa gosip mereka mulai mereda

baru dari asistennya mendar

rja tim. Tidak ditemukan komunikasi pribadi di luar

ning. "Terlalu bersih.

ya memang tahu bagaimana menyembunyikan sesuatu, berarti dia bukan s

, Sarah sedang duduk di ruang tamu bers

i jemput aku," katan

menoleh cepat. "Ferdi

ngobrol tentang karier. Dia juga bilang m

erpikir. "Dia ma

senyum. "Setah

eluarga Burhan. Mas Ferdi turun dengan jas abu gela

rjalan keluar rumah, mengenakan blouse puti

nya Ferdi sambil

h kecil. "Sia

Senopati. Di dalam mobil, Ferdi bertanya

apaku mulai tanya-tanya soal kamu. Dan Mama b

a. "Padahal kit

jawab Sarah cepat. "Dan

kuliah terakhir mereka. Keduanya tampak tenang di depan dos

eza menarik Alya

ya. "Kamu beneran tah

i cewek dingin yang bisa bikin semua

"Tepat. Kamu kayak..

"Aku cuma gak mau dihanc

pi aku gak mau kam

"Aku gak sembunyi, R

irna menerima undangan m

icara, Mirna," tulis B

Ferdi. Aku tak mau keput

unia mulai berputar. Aliansi mulai berub

rlalu menekan bisa me

yusun ulang

tertidur di ruang tamu, televisi masih menyal

i rambut neneknya. "Aku mulai

mu takut, berarti kamu masih punya hati.

terjadi, ia tidak bisa kembali ke masa lalu. Permainan sudah

yang lain, Alya

gin tidak d

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Menantu Idaman Mama
Bukan Menantu Idaman Mama
“"Mama, aku sudah bilang, aku yang akan menentukan hidupku sendiri." "Aku memilih Alya, bukan karena aku ingin melawan Mama, tapi karena aku mencintainya." Mirna menertawakan dengan getir. "Alya? Gadis yatim piatu itu? Cucu seorang nenek tua yang tidak punya apa-apa? Apa Mama tidak cukup jelas selama ini? Pernikahan ini harus, untuk masa depan perusahaan, bukan sekadar cinta bodoh!"”