icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Why not!

Bab 8 Pandangan pertama

Jumlah Kata:1233    |    Dirilis Pada: 01/12/2021

epan anak saya?" Amara berdiri bersedekap di hadapan

duda, anak satu. Gadis kecil yang waktu itu, kam

Amara

, sial. ucap Amara dalam hati. Ia ju

agi terikat sama siapa pun juga, jadi ya ...," Dani senyum-senyum. Ia berjalan kembali ke dalam

dengan dengan pria mana pun." Kembali Amara beruca

ghadap kembali ke Amara

engucapkan itu, kembali memutar tubuhnya menuju ke arah pintu masuk resto

i yang belepotan saus kepiting. Dani tersenyum melihat hal itu. Tak mengira, wanita cantik yang duduk di hadapannya adalah seorang ibu tunggal yang b

ITB? Sipil?" Dani

inggal Bari," celotehan Bari membuat Amara menatap

h ada yang temani, siapa tau, itu ... saya." Kembali, Dani begi

ean." celetuk

ara. "Bar, Bunda kamu sejudes ini, ya, orangnya?"

jak pisah sama Ayah, semua Bun

dah berlebihan, dan baru menyadari hal itu. Dani juga diam dan menatap Ama

n mencuci tangan. Lalu melakukan pembayaran pesanan mereka di kasir

serius, mau dekat dengan Bunda ka

u Bari lancang. Bari duluan, permisi." Bari beranjak. Ia mencuci

*

ari begitu tak enak hati. Amara mengabaikan, bahkan, langsung masuk ke d

dari samping. "Sori, Bun," suara Bari. Amara membuka perlahan kedu

a. Bari mengerat

h menempelkan waja

b Amara lalu melepaskan lenga

enjangnya menindih kaki Amara. "Sori," Bari justru se

undanya di giniin, sana!" Ama

ggak bisa tidur kalau Bunda

oleh kayak gitu, Bar. Kita nggak tau dia baik apa nggak, jujur apa

ulu, temenan aja," lampu temaram di kamar Amara

embali tersenyum. Ia memeluk Amara lagi, masih dengan p

an Bari lalu beralih ke kepalanya, diusapnya pelan. Barinya sudah dewasa, t

r .

m .

n ia. Kamu, sekarang udah punya pacar, jaga perasaan dia, jangan rusak dia, tread her like you tread me. Bari sedih, kan, kalau

gguk. "I lo

dur. Semua halang rintangan mereka jalani berdua, hingga perl

*

jam makan siang. Tak sengaja, mereka berpapasan di lobi.

Amara." Dengan pakaian kantor, Dani begitu berbeda saat berpakai

. Saya masih ada urusan di luar kantor, nggak bisa terima ajakan kamu, Pak Dani." Am

a?" tan

Keduanya masih berdiri berhadapan di l

rsenyum dan mempersilakan Amara berjalan lebih dulu. Amara pun berjalan, tanpa mengiy

g, petugas bank istirahat juga, k

uma taruh berkas aja, nant

i tersenyum, karena tak ada sanggahan apa pun dari Amara. "Ajakan makan siang say

oran jepang itu. Pria itu hendak memesan beberapa makanan, cukup banyak jika untuk makan siang kedua

" Sorot mata Amara begitu tajam menatap pria yang duduk

rtama, Amara?" tanya Dani sambil mena

k. Ken

opi dekat kantor saya, kamu lagi sama laki-laki yang mirip sama kamu entah siapa itu, yang kedua, saat kamu sama B

, saya suka kamu. Jadi, jangan susah payah bangun dinding pertahahanan begitu keras. Karena saya, yang ak

ama ucapannya?. uja

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Why not!
Why not!
“Amara, single parent berusia 35 tahun yang berubah menjadi pribadi egois, dingin, bahkan meremehkan setiap pria yang ingin mendekatinya hanya karena ia pernah gagal dalam pernikahan. Tuntutan hidup membuatnya berusaha keras untuk bangkit dan membuktikan diri setelah berpisah dengan mantan suaminya. Masalahnya, saat ini bukan hanya tuntutan hidup saja yang harus dihadapi Amara, tapi tuntutan dari putranya juga. Bayinya sudah tumbuh besar dan sangat merindukan sosok seorang ayah. Demi kebahagiaan putra semata wayangnya, jelas ia tak mudah untuk mengacuhkannya begitu saja. Hingga seorang pria penuh pesona tiba-tiba datang mendekat, membuat pertahanan Amara goyah secara perlahan seperti doa sang putra. Mampukah pria asing ini meluluhkan hati keras seorang Amara atau, justru Amara memilih tetap sendiri tanpa pendamping dan mencoba meyakinkan putranya?”
1 Bab 1 Cerai2 Bab 2 Pekerjaan baru3 Bab 3 Egois4 Bab 4 Bujukan Almer5 Bab 5 Berlalunya waktu6 Bab 6 Sedingin Es7 Bab 7 Saya Dani 8 Bab 8 Pandangan pertama9 Bab 9 Mendadak luluh10 Bab 10 Modus Dani11 Bab 11 PDKT 12 Bab 12 Kepergian mantan suami13 Bab 13 Jadian 14 Bab 14 Zeya, Putriku15 Bab 15 Penolakan Zeya16 Bab 16 Tiba-tiba melamar17 Bab 17 Cerita dibalik lamaran mendadak18 Bab 18 Kepulangan Sherin19 Bab 19 Sikap tenang Amara20 Bab 20 Berbohong21 Bab 21 Permohonan Sherin22 Bab 22 Melepaskan cincin 23 Bab 23 Big brother24 Bab 24 Keangkuhan Amara25 Bab 25 Gencatan senjawa dua wanita26 Bab 26 Kondisi Zeya 27 Bab 27 Tuduhan 28 Bab 28 Kesempatan kedua29 Bab 29 Its over 30 Bab 30 Why not!31 Bab 31 Lima tahun 32 Bab 32 Berjumpa kembali 33 Bab 33 Menjelaskan semuanya34 Bab 34 Me and my big brother35 Bab 35 Pantas bahagia36 Bab 36 Wedding day37 Bab 37 Hadiah untuk Amara