icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Jangan Cintai Bosmu!

Bab 3 Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan keluar

Jumlah Kata:1928    |    Dirilis Pada: 03/08/2025

kan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pilihan yang Arga berikan sungguh kejam. Dipecat atau menjadi sekretarisnya, menjadi boneka yang akan ia perma

tercekat. "Saya akan jadi sekretaris Bapak! Tapi j

eputusan yang tepat. Sekarang, ada satu hal lagi." Arga melangkah mundur, mengambil jarak dari Naura, lalu me

ang muka, tak ingin menatap waj

ptop, dan kembali mengetik seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu bis

Arga untuk menyiksanya. Naura ingin protes, tapi ia tahu itu tidak ada gunanya. Ia sudah terperangkap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun,

belas dengan langkah gontai. Sekar lang

melihat wajah Naura yang masih terlihat tegang. "Kam

anya. Ia menceritakan semua yang terjadi, mulai dari ancaman Arga hingga p

tim keuangan, kan?" Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Dan dilatih sama Luna? P

am!" keluh Naura, menyandarkan kepalanya di

pi... kalau kamu dipindahkan, berarti kita tidak sat

tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku t

a Naura berdering. Ia

dari seberang. "Ini Luna. Bapak Arga ingin kamu segera

telepon. "Tuh kan, baru juga dibilang. Sudah dipanggil lagi," gerut

is. "Semangat, Naur

f, tidak jauh dari ruangan Arga. Begitu sampai, ia mengetuk pintu dan masuk setelah dip

a menatap Naura. Ia sibuk m

kursi di hada

gak, menatap Naura dari ujung rambut hingga ujung kaki. T

ing. "Saya tahu, Anda

uarga Wijaya. Dan saya yang paling mengerti apa yang Pak Arga inginkan. Kenap

tahu Luna sedang men

odanya, kan?" tuduh Luna, mata

Luna! Saya tidak pernah menggoda siapapun! Saya di

nya ke meja. "Dengar ya, gadis kampung. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan hati Pak Arga? Jang

aya tidak tertarik dengan atasan yang s

erani sekali kamu bicara begitu tentang

"Saya tidak peduli. Saya hanya

"Dengar ya, selama kamu jadi sekretaris Pak Arga, kamu harus patuh pada s

engaja menjelaskan hal-hal yang rumit dan tidak relevan, seolah ingin membuat Naura merasa bodoh. Naura berusaha

enuju kamar, mengambil jas Arga yang ia letakkan di kursi. Jas itu memang mahal, Naura b

aimana cara mencuci jas semahal ini. Ia takut merusaknya. Naura akhirnya memutuskan untuk mem

Arga di koridor, di aula, hingga perdebatan sengit di ruangan Arga. Ia juga memikirkan Luna yang jelas-jelas membencinya. Naura merasa sa

uka pagi-pagi sekali. Naura menjelaskan kronologi noda pada jas itu, dan petugas laundry berjanji akan mengerjakannya secepat mungkin. Naura harus menunggu

ampai tepat waktu, meskipun dengan napas terengah-engah. J

dah menunggunya di depan pintu ruangan Arga

Luna. "Cepat masuk! P

an Arga. Arga sedang duduk di kursinya, membaca

akkan jas Arga yang sudah bersih di ata

ngangguk. "Bagus. Mulai sekar

"Baik, Pak. Apa yang

rhadapan langsung dengan mejanya. Meja itu dulunya mil

dan beberapa instruksi. Ia menata

ata dengan nada arogan. "Jangan harap kamu bisa bersanta

ertemuan, hingga menyiapkan presentasi. Belum lagi urusan personal Arga yang Luna selipkan di antara tumpukan dokum

rotes Naura. "Saya tidak bisa

Ia melirik Arga yang hanya diam saja, seolah menikmati penderitaan Naura. "Saya akan pergi

dengan setumpuk pekerjaan. Naura merasa sangat kesal. Ia ta

masih terpaku, berdeha

arah. "Ini terlalu banyak pekerjaan, Pak! Saya

kretaris," Arga menjawab tenang. "Kalau kamu

di bawah meja. Ia harus bertahan. Ia harus mem

suaranya mengandung tekad.

ia sama sekali tidak punya pengalaman. Ia harus menelepon banyak pihak, mengatur jadwal Arga yang sangat padat, dan mempelajari semua dokumen p

ika Naura bertanya tentang sesuatu yang menurutnya dasar. "S

h. Jadwal ini tidak bi

ia tahu itu akan memperburuk keadaan. Ia harus menunjukkan ba

a di meja, sambil terus memeriksa email dan jadwal Arga. Ia bahkan tidak

lah. Pekerjaan ini jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Lap

dari laptopnya.

Pak. Masih ada beberapa ya

Arga santai. "Saya akan pulang dulu. Jangan l

angan tanpa menunggu jawaban Naura. Naura menatap punggung A

ura kesal. "Ini ben

suara ketikan keyboard dan sesekali suara Naura yang mendesah frustasi. Ia merasa sangat kesep

aris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pil

li fokus pada layar laptopnya. Ia harus men

ikan semua pekerjaannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku

i. Ia melirik meja Arga, yang juga sudah rapi. Ia

if sudah sepi. Hanya beberapa lampu yang menyala red

g dengan pikiran kalut. Hari pertamanya sebagai sekretaris Arga Narendra Wijaya adalah mimpi buruk. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi hari esok, dan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Jangan Cintai Bosmu!
Jangan Cintai Bosmu!
“Naura, seorang staf pemasaran yang cerdas namun sial, hanya ingin bertahan di kerasnya dunia kerja Jakarta tanpa menambah daftar masalah hidupnya. Tapi segalanya berubah dalam sekejap-hanya karena satu botol iced latte yang tumpah dan seorang pria asing yang tampaknya terlalu arogan untuk minta maaf. Ia tidak pernah menyangka, pria dengan jas mahal yang ia tabrak pagi itu ternyata adalah Arga Narendra Wijaya, pewaris sekaligus CEO baru di perusahaannya. Naura mengira insiden itu akan berlalu begitu saja, namun ia salah besar. Arga, yang merasa harga dirinya tercoreng, menjadikan Naura target pelampiasan amarah dan dominasi di kantor. Bukan hanya dipermalukan di depan umum, Naura dipaksa mencuci jas mahal Arga-sebuah simbol bahwa hidupnya kini berada dalam cengkeraman pria yang kekuasaannya tak terbantahkan. Namun, Arga tidak tahu bahwa Naura bukan perempuan yang bisa diinjak seenaknya. Dan Naura pun belum tahu bahwa di balik dinginnya Arga, tersimpan luka dan dendam masa lalu yang perlahan-lahan akan menyeretnya ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih dalam. Di antara amarah, gengsi, dan percikan perasaan yang tak diakui, hubungan mereka berkembang tak terduga-penuh adu ego, perang dingin, dan momen-momen menyesakkan. Tapi satu hal pasti: pertemuan mereka bukan kebetulan. Dan Naura? Dia harus memilih-mundur demi harga diri, atau bertahan untuk mengungkap siapa Arga sebenarnya... dan siapa yang selama ini memegang kendali atas hidupnya.”