icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka

Bab 2 

Jumlah Kata:804    |    Dirilis Pada: 30/07/2025

i rasa sakitnya tidak seberapa dibandingkan dengan beban penghinaan yang menghancurkan. Aku ditarik seperti binatang

n lakukan ini," aku m

gin tahu yang tidak wajar dan kepuasan yang kejam. Beberapa dari mereka mengangkat ponsel m

. Dia mendapatkan apa ya

berada di da

uara yang terasa begitu final. Anjing-anjing Doberman, yang terganggu oleh keributan itu, mulai menggonggong, geraman mereka

aku menangis, suaraku hilang

mata kosong yang sama. Dia adalah patung penghak

da kecil yang halus di saku seragam murah yang kukenakan. Sebuah manik-manik lapis lazuli, hadiah dari nenekku.

i ke tahun-tahun yang kuhabiskan untuk mencoba mendapatkan cinta Brama. Aku pikir aku bisa melelehkan sikap dinginnya d

istematis, sepotong demi sepotong, sampai tidak ada yang tersisa. Rasa sakit fisik, ketakutan yang terus-menerus, rasa malu di depan umum-semuan

ti Wijaya, berdiri di atasku, wajahnya berkerut dalam topeng kebencian murni. Aku

enuh racun. "Kau pingsan hanya karena sebenta

ung di atas perapian. "Brama ingin kau bersujud

lah satu pelayan menjambak rambutku dan menekan kepalaku ke ba

kku, kata-kata itu

asati. "Apa itu terdenga

alir di pelipisku. Aku mengulangi kata-kata itu, suaraku menjadi gema k

menemukanku di samping tubuhnya, wajahnya pecah bukan karena kesedihan, tetapi dengan kemarahan yang mengerikan dan dingin. "Kau a

menepati

rti denyutan yang jauh. Aku menghitung setiap benturan, sebuah litani p

rpet putih bersih. Aku pusing dan mual,

ambang pintu. "Aku sudah melakukan apa yang kau minta,

a, tetapi hilang secepat kemunculannya. Dia berjalan ke sebu

dikmu?" tanyanya, su

rapan beradu denga

umlah ini. Minumlah ini, dan ak

lalu ke wajahnya yang

mbunuh sepertimu tidak akan pernah bisa punya anak. Untuk m

satu-satunya hal yang dianggap suci oleh seorang wanita, kemungkinan m

yang dingin dan penuh tekad. Ini adala

pilihan sa

ku akan melak

botol itu. Aku membawanya ke bibirku

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
Cintanya, Penjaranya, Putra Mereka
“Selama lima tahun, suamiku, Brama Wijaya, mengurungku di sebuah panti rehabilitasi. Dia mengatakan pada dunia bahwa aku adalah seorang pembunuh yang telah menghabisi nyawa adik tiriku sendiri. Di hari kebebasanku, dia sudah menunggu. Hal pertama yang dia lakukan adalah membanting setir mobilnya ke arahku, mencoba menabrakku bahkan sebelum aku melangkah dari trotoar. Ternyata, hukumanku baru saja dimulai. Kembali ke rumah mewah yang dulu kusebut rumah, dia mengurungku di kandang anjing. Dia memaksaku bersujud di depan potret adikku yang "sudah mati" sampai kepalaku berdarah di lantai marmer. Dia membuatku meminum ramuan untuk memastikan "garis keturunanku yang tercemar" akan berakhir bersamaku. Dia bahkan mencoba menyerahkanku pada rekan bisnisnya yang bejat untuk satu malam, sebagai "pelajaran" atas pembangkanganku. Tapi kebenaran yang paling kejam belum terungkap. Adik tiriku, Kania, ternyata masih hidup. Lima tahun penderitaanku di neraka hanyalah bagian dari permainan kejinya. Dan ketika adik laki-lakiku, Arga, satu-satunya alasanku untuk hidup, menyaksikan penghinaanku, Kania menyuruh orang untuk melemparkannya dari atas tangga batu. Suamiku melihat adikku mati dan tidak melakukan apa-apa. Sambil sekarat karena luka-luka dan hati yang hancur, aku menjatuhkan diri dari jendela rumah sakit, dengan pikiran terakhir sebuah sumpah untuk balas dendam. Aku membuka mataku lagi. Aku kembali ke hari pembebasanku. Suara sipir terdengar datar. "Suamimu yang mengaturnya. Dia sudah menunggu." Kali ini, akulah yang akan menunggu. Untuk menyeretnya, dan semua orang yang telah menyakitiku, langsung ke neraka.”
1 Bab 12 Bab 23 Bab 34 Bab 45 Bab 56 Bab 67 Bab 78 Bab 89 Bab 910 Bab 1011 Bab 1112 Bab 1213 Bab 1314 Bab 1415 Bab 1516 Bab 1617 Bab 1718 Bab 1819 Bab 1920 Bab 2021 Bab 21