“Selama lima tahun, aku adalah bayangan Brama Wijaya. Aku bukan hanya asistennya; aku adalah alibinya, perisainya, orang yang membereskan semua kekacauannya. Semua orang mengira aku jatuh cinta padanya. Mereka salah. Aku melakukan semuanya untuk kakaknya, Yudha-pria yang benar-benar kucintai, yang membuatku berjanji di ranjang kematiannya untuk menjaga Brama. Lima tahun itu telah berakhir. Janjiku telah terpenuhi. Aku menyerahkan surat pengunduran diriku, siap untuk akhirnya berduka dengan tenang. Tapi malam itu juga, Cheryl, pacar Brama yang kejam, menantangnya dalam balapan jalanan mematikan yang tidak mungkin dia menangkan. Untuk menyelamatkan nyawanya, aku mengambil alih kemudi untuknya. Aku memenangkan balapan itu tetapi menabrakkan mobil, dan terbangun di ranjang rumah sakit. Brama menuduhku melakukannya untuk mencari perhatian, lalu pergi untuk menenangkan Cheryl yang pergelangan kakinya terkilir. Dia memercayai kebohongan Cheryl saat wanita itu berkata aku mendorongnya, lalu membenturkan tubuhku ke dinding begitu keras hingga luka di kepalaku robek dan berdarah lagi. Dia hanya diam menonton saat Cheryl memaksaku menenggak gelas demi gelas wiski yang sangat membuatnya alergi, menyebutnya sebagai ujian kesetiaan. Penghinaan terakhir datang di sebuah lelang amal. Untuk membuktikan cintanya pada Cheryl, dia menempatkanku di atas panggung dan menjualku untuk satu malam kepada pria lain. Aku telah menanggung lima tahun neraka untuk menghormati permintaan terakhir seorang pria yang telah tiada, dan inilah upahku. Setelah melarikan diri dari pria yang membeliku, aku pergi ke jembatan tempat Yudha meninggal. Aku mengirimkan satu pesan terakhir untuk Brama: "Aku akan pergi bersama pria yang kucintai." Kemudian, tanpa ada lagi yang tersisa untuk diperjuangkan, aku melompat.”