icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Grafiti Dinding Hati

Bab 3 Kejutan

Jumlah Kata:2225    |    Dirilis Pada: 18/11/2021

irku akan m

linga Cahyo, tepat setelah lelaki berusia lima puluhan tahun itu

i ke rumahmu. Apa kamu sudah berada di rumah sekarang?" Terdeng

awab Johan dengan beberapa kata iya, Cahyo mengakhiri panggilan. Detik berikutnya, Cahyo terlihat mengemasi berkas-berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Ketika pekerjaan mer

ngan sekar

rjuang, Cahyo mulai merasakan napasnya kembali teratur. Nyeri di dadanya juga telah menghilang. T

makan malam dulu." Johan mengiringi Cahyo menuju meja mak

olak. Ia sangat ingin segera bertemu

han terdengar enggan mendengar

tepat waktu. Apa Citta

sendirilah yang justru abai dengan dirinya sendiri. Cahyo suka tidak jujur pada Citta, terlebih dalam urusan makan. Kebiasaan Citta yang tidak menemaninya makan dimanfaatkan Cahyo dengan baik. Se

tu saya menghabiskan

dak makan." Pak Edi

makan tadi

ang, Pak. Makan m

n bicara saja. Cepat

Andrew memberi kode pada Johan untuk k

a diri saya." Suara Cahyo yang sedikit bergetar karena panik berhasil menahan lang

ak Cahyo selama ini tidak pernah makan dengan teratur?" Tanya Andrew penuh selid

iri Cahyo. Sementara Johan menatap sahabatnya lekat,

lebih memilih meninggalkanku dan Citta." Cahyo bicara dengan berbisik kemudia

aku juga memi

?" Johan langsung me

u dengannya. Bulan depan ia akan genap dua puluh dua tahun, tapi hingga d

han mencoba menegaskan kalimat Cah

a. Sepanjang yang aku tahu, hany

rtanya dengan suara teramat li

is. Padahal, Citta terlalu asyik belajar sehingga lupa bersosialisasi dengan lebih banyak orang. Terutama laki-laki. Itulah kenapa Cahyo menyimpan kekhawatiran ber

ti di

eperti di neraka. Panas, penuh gejol

bertanggung jawab pada istri dan anaknya. Cahyo juga tidak memarahi Se

an apa yang telah diberikan Cahyo. Ia selalu mencari-cari kesalahan suaminya. Mengada-ada tentang kekurangan suaminya pada teman-temannya. Pun

irnya, Citta pun berinisiatif membuat puding. Puding buah-buahan menjadi pilihan Citta setelah melihat buah kalengan yang tertata rapi di meja dapur. Sambil menunggu puding mengeras, Ci

onsel dari dalam sling bag-nya. Ia hendak menelepon ayahnya, menanyakan ap

o, A

apa,

yah berbeda.

anik karena ayahnya tid

, Ay

. Tadi ayah baru bersin se

ar jawaban ayahnya. Ia benar-ben

h Om Johan sekarang, menjemput Ayah." Citta meraih tas kerta

yah mau pulang." Cahyo

alan, Yah. Sampai

.. t

membuat Cahyo terlihat panik. Dengan

Johan dan Andrew

sini." Cahyo menatap Joh

era mengangguk, tapi tidak dengan Andrew. Dokter itu merasa bahwa Citta sebagai satu-satunya ke

Cahyo mengikuti Johan disusul Andrew yang tampak berpikir keras.

ruang tamu. Obrolan ketiga orang dewasa itu pun seketika terhenti. S

lliam sambil berdiri. Tanpa segan, Cahyo berjalan

liam menyambut uluran tangan Cahyo kemudian m

i bagaimana kabarnya?" Wil

uga b

permisi

posisi tubuhnya untuk me

ari duduknya kemudian menga

g kita makan.

menunggu William?" Cahyo m

menyusul."

ap Johan, meminta persetujuan sahabatnya. Johan dan A

ke

alam saku. Tepat ketika William menginjakkan kaki pada a

mbil menggerakkan tangannya, mena

hnya yang tegang. Citta benar-benar tidak menyangka ji

Jawab William d

agi dengan suara bergetar. Sungguh ia b

w. Silakan masuk." William menggeser tubuhnya un

uju meja makan. Citta yang berjalan tepat di belakang William merasa jantungnya berdebar

." Johan beranjak dari dudukny

meraih tangan Johan kemudian menciumnya ta

enak Citta. Selama ini pujian yang mengatakan bahwa ia telah dewasa tidak pernah bermakna positif karena ujung-ujungnya pertan

h tingkat tiga." Cahyo terlihat

hat Citta dan William muncul bersama. Rasanya

abnya tak lain dan tak bukan adalah William. Johan seperti sengaja mengatur tempat duduk Citta dan

." Protes William. Suaranya yang dingin dan datar

n. Seharusnya ia memilih sudut lain meja makan di mana ayahnya duduk. Akibatnya Citta kembali terserang gugup ketika memotong puding buah berbentuk lingkaran itu. Alhasil delapan bagian puding yang dipotongnya

us. Wajah Citta langsung merona menerima pujian dari J

i tertuju pada William. Laki-laki itu kemudian memotong bagian ujung puding menggunakan garpu. Se

Ujar William sambil

kai puding buah.

pa, Will?" Tanya Cahyo cepat. Wi

Entahlah saya sendiri sang

yang Citta pilih untuk men

ing atau tidak? Citta sibuk b

ll. Kalau kamu mau ia bisa me

atas tawaran

ndak mengatakan sesuatu pada papanya, namun ke

kan serbet makan yang berada di pangkuannya ke atas meja. Ia kemudian berjal

yang serta merta mengh

Pinta Johan. William hendak menolak perinta

Om. Saya bisa

ah malam. Kam

am mengatakan kata demi kata dengan penekanan yang kentara.

nta tolong sopir

an Mobil Papa atau mobilmu sendiri." Johan masih teguh pada pe

suaranya. William mendengus melepaska

wabnya sambil berlal

am duduk di belakang kemudi. Cahyo yang merasa sang

uka memaksa." William berkata

k Citta maupun William tidak ada yang b

ng?" Suara Cahyo dari arah

m, Om." Jawab

tkan genggamannya pada kemudi. Citta yang sedari tadi

nya. Citta membuat kesimpulan sendiri set

Bisik Citta. Willi

enak punya banyak teman yang bisa d

dan gaya hidupnya. Yang pasti, kini giliran Citta yang wajahnya pucat pasi mendengar jawaban William.

tkan, Will. Batin Citta samb

ti-hatian, Citta mengambil ponsel dari dalam tasnya. Jemarinya begitu linc

h memastikan pesannya terkirim, Citta mematikan p

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Grafiti Dinding Hati
Grafiti Dinding Hati
“Ini adalah kisah tentang pengabdian, pengorbanan, dan cinta yang terlambat hadir. Magang menjadi sekretaris kedua William Rustenburg memang tidak mudah. Citta Buwana harus rela menjadi sasaran amarah William karena dianggap tidak cakap dalam bekerja. Di mata William, semua pekerjaan yang dilakukan Citta adalah salah. Amarah William semakin menjadi ketika ia mengetahui rencana perjodohan yang telah dibuat oleh papanya bersama sahabatnya. Sebagai bentuk protes, tak jarang William memarahi Citta di hadapan Johan. Namun bukan Johan namanya jika ia tidak bisa menaklukkan putra semata wayangnya, William. Akankah William dan Citta tunduk pada perjodohan yang telah diatur oleh orang tua mereka?”
1 Bab 1 Prolog2 Bab 2 Dua Sahabat3 Bab 3 Kejutan4 Bab 4 Keinginan5 Bab 5 Rencana Para Ayah6 Bab 6 Magang7 Bab 7 Sekretaris Kedua8 Bab 8 Kesalahan9 Bab 9 Pindah10 Bab 10 Parah11 Bab 11 Jodoh yang Telah Diatur12 Bab 12 Kompak Menolak13 Bab 13 Marah Luar Biasa14 Bab 14 Takjub15 Bab 15 Janji16 Bab 16 Selamat Jalan17 Bab 17 Tumpukan Duka18 Bab 18 Sengit19 Bab 19 Apartemen20 Bab 20 Cinta yang Lain21 Bab 21 Tunduk dan Patuh22 Bab 22 Apa Boleh Buat23 Bab 23 Persiapan Pernikahan24 Bab 24 Kejutan Setelah Wisuda25 Bab 25 Pesta Pernikahan26 Bab 26 Nikah di Bawah Tangan