ma kopi terlalu dalam, tatapan Bu Wulan terlalu de
andiwara tanpa tahu naskahnya. Dan ia tak tah
panas di termos, namun Pak Gandi sama sekali tak menoleh. Pak Martin menyesap kopi ha
Martin ingin ikut keluar, namun sorot mata sahabatn
an duduk tak jauh darinya. Di ujung sofa yang sama. Jarak mereka tak sampai satu me
baik?" ucap Bu Wulan pelan. Suaranya serak lembut, dan dala
coba tersenyum. "Baik... alha
ekosongan atau harapan. Ia tampak berbeda. Lebih diam. Dan justru karena itu, terasa lebih berbahaya. Diamny
g selalu beda, ya. Gimana, enak nggak, Pak?" tanyanya lagi, seperti basa-basi. Tapi bagi Pak Mart
ar biasa. Padahal seluruh saraf tubuhnya tegang seperti senar g
Suara nyamuk dari luar jendela dan det
rti mimpi yang belum selesai? Apakah Bu Wulan tahu isi mimpinya? Tidak mungkin. Tapi ken
ali ini, posisinya sedikit lebih dekat. Tangannya memegang cangkir
n. Tatapannya lurus ke depan. Tidak melih
Martin tak tahu harus menjawab bagaimana. Ya, dia capek. Tapi bukan karena aktivitas hari ini. D
urangi rasa canggung. "Bu Wulan, saya nump
lebih dulu, menyibakkan tirai menuju area dapur, lalu menunjuk kama
tah kenapa, terasa seperti adegan y
u yang warna catnya mulai pudar. Ia sempat menatap Pak Martin sekilas-entah mema
g terjadi justru sebaliknya: gairahnya menegang, dan sulit diredakan. Ia hanya butuh alasan untuk menjauh sebentar, demi menyembunyikan rasa malu jika
tipis, kerling matanya, bahkan gerakannya dalam mimpi tadi sore-semuanya masih berkelebat di benaknya. Begit
i air itu pun terasa hangat-atau mungkin tubuhnya yang sudah terlalu panas oleh darah yang mendidih. Betapa memaluk
masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergeser sedikit pun sejak ia masuk. Seolah menunggunya, memastikan
k, lalu mencoba tersenyum kaku.
menuju ruang tengah. Pak Martin mengikutinya dari be
tengah, pisang goreng mulai dingin. Semuanya tampak kembali
i menyusul. Dan beberapa detik kemudian, ter
Seperti dua orang yang baru saja akan merencanakan sesu
n salam perpisahan untuk momen yang gagal terjadi, melainkan semacam janji diam. A
ari kecanggungan yang nyaris tak tertahankan. Pak Martin segera berpamitan. Katan
a, Pak Martin merasa perlu menyebutkannya-semacam ala
ahan, bahkan tak berkata apa-apa. Tapi ada sesuatu di matanya-tatapa
membeli sesuatu. Mungkin ia sengaja memberi ruang. Ruang agar dirinya dan Bu Wulan bisa lebih leluasa. Sama seperti
eh ini. Permainan yang tak bisa ia tolak, tapi juga tak tahu ke mana arahnya. Dan yang
oleh skenario Pak Gandi, atau just
gatur semuanya. Dan apa yang selanjutnya aka
*
/0/25610/coverbig.jpg?v=be804ca94527adba217aa6371371afd3&imageMogr2/format/webp)