itu megah namun sunyi. Tak ada suara selain dengung halus AC dan gelegak halus air dalam teko teh. Ia duduk
arasi. Ketukan itu berasal dari arah samping rumah. Pintu samping itu nyaris tak pernah digunakan
i pot-pot tanaman, tembok marmer, dan kamera CCTV di tiap sudut. Di sa
tu terden
tok..
ya memulas keheranan. Siap
a sempat mengintip lewat jendela kecil. Di luar,
udah. Lalu m
ajahnya dilingkupi jilbab yang tertata rapi. Senyumnya tenang. Ia tampak anggun dalam kesederhanaannya. Tidak salah lagi-itu Bu Wulan
suaranya nya
f saya menggangg
kuk, bahkan tak yakin apakah harus langsung menyilakan tamun
selesai. Dan juga soal pesan yang saya kirim.
tin mulai berde
k Gandi?" tanya
a. Saya juga tahu kok, Bu Tita sedang kelu
Ia tercekat. Tapi naluri sebagai tuan
an mas
dan mereka duduk bersisian, menyudut. Jarak mereka tak lebih dari sat
api niat itu buyar ketika tatapan Bu Wulan bersirobok dengan matanya. Tatapan itu tak menggo
listrik seolah me
u lancang?" tany
dak, Bu. Hanya saja saya... tidak menya
lai kehilangan hangatnya. "Saya hanya ingin jujur, Pak. Ada
kosong, menutup kegugupan yang makin
itu lembut, tapi anehnya terasa sepert
.. saya sedang memikirkan Ibu,"
ti saya. Sejak kemarin sebetulnya saya juga terus memikirkan Ba
g kini menatap lurus ke depan. Ucapan itu terdengar begitu biasa-seak
Bu, mak
enar Bapak dan Mas Gandi sudah
tempatnya. "Hah?
kin Pak Martin tahu. Tidak perlu
Itu candaan bodoh. Tidak mungkin
n terasa sangat menakutkan bagi Pak Martin. "Kal
nyaring. Matanya membul
gan makin tebal. "Bukankah tujuannya baik? Saling berbagi. Sal
m. Mulutnya terbuka tap
antui. Apakah semua ini diseriusi? Apakah pasangan itu m
a menancap langsung ke mata Pak Martin. Kini mata itu tidak setenang tadi-ada gelomban
tin ingin berdiri. Ingin pergi. Ingin menghilang. Tapi tubuhnya tak
njungan. Ini awal dari sesuatu yan
di dekatnya. Masih menatapnya dengan sorot yang sulit diartikan antara keberanian dan kehancuran
Mungkin karena sudah lama tidak bermain ya
a sekali..." sahut
Saya juga sama sudah lama tidak merasa
banget," jawab P
rapatkan tubuhnya ke
Cicak di dinding pun jangan sampai tahu," ucap Bu Wulan sambi
u sampai ada yang tahu," jawab Pak Ma
dan mengakangi selangkangan Pak Martin. Sang lelaki paruh baya itu pun tanpa diperintah langsung melepas kain sa
*
/0/25610/coverbig.jpg?v=be804ca94527adba217aa6371371afd3&imageMogr2/format/webp)