icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Gairah Liar Ayah Mertua

Bab 2 Part 02

Jumlah Kata:1213    |    Dirilis Pada: 15/06/2025

ihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan peras

embawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mun

perti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. Kontol ayah benar-benar berukuran

rung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung kontol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-

ekali di luar dugaanku. Sebenarnya aku ingin mengocok kontolnya tapi aku tidak berani. Ini adalah hal yang salah. Aku takut

dan langsung minta maaf. Dia langsung keluar dari kamarku.

habatku, Vita. Vita tidak menyangka b

ner

Aku beneran

kalo gitu

a yang

, juga punya hasra

a juga berna

Kalo ngga, ga mungkin dia n

daku? Seperti aku pada dia? Kalau iya, apakah mungkin akan berlanjut pada tahap yang lebi

itku, saat aku sedang memasak,

" sap

Yah?"

ggung. Kami tidak saling bertegur sapa. Bahkan aku

maaf. Ayah bener-bener khilaf. Ga

h. Ga usah d

rasa sungkan dan m

kiran terus. Ririn paham kok ayah s

u maafin

ku. "Lagian kan c

e

tu adalah hal yang biasa? Aku tidak bisa mengontrol omonganku. Mendengar it

ah. Dia langsung meningg

*

bungan seperti biasanya. Hanya saja, ayah sekarang sering terasa lebih terlihat bahagia. Entah karena apa, aku tidak tahu. Walaupun sebenarnya, jika mau diakui, sekarang aku juga sedikit merasa senang selama ada di rumah. Apalagi

mpatan untuk melakukan hal

rmain dengan teman-temannya. Karena tak ada orang, maka aku memberanikan diri hanya mengenakan handuk sehabis mandi menuju ke kam

.." pe

g berlari dari arah ruan

Ternyata yang datan

?" tanyaku dalam hati.

u. Awalnya aku heran karena tatapan ayah mencurigakan. Tapi akhirnya aku sad

ku dalam hati.

ulkan posisi handuk, namun tid

Tanpa ragu, ia yang membetulkan posisi handuk. Tentu saja ia me

apa pun dariku. Aku malah hanya diam saja seolah semuanya ini hal yang biasa. Aku seolah tidak sadar bah

u ini cukup kuat ya

idurkanku di kasur. Aku berusaha menutupi bagia

ku. Hanya deru nafas kita yang terdengar. Nafas yang kurasakan semakin membera

sih,

awab aya

canggung kembali hadir di antara kami. Ent

r tubuhku. Perlahan aku mulai menyadari bahwa tangan itu adalah milik ayah mertua. Tangan yang kasar khas seorang pe

erangsang. Anehnya aku menikmati setiap inchi dari pahaku yang dilalui oleh tang

il menggelengkan t

gannya. Ia tidak memaksa. Tangannya perlahan

nyata aku s

an kaitan handuk di dadaku. Lagi-lagi aku hanya diam saja. Ada apa dengan diriku? Apakah karena

npa sehelai benang yang menempel terpampang di depan ayah mertua. Tubuh

ng. Sempat kulihat juga ia seperti menelan ludah. Apakah begini kondisi

sam

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Gairah Liar Ayah Mertua
Gairah Liar Ayah Mertua
“Aku melihat di selangkangan ayah mertuaku ada yang mulai bergerak dan mengeras. Ayahku sedang mengenakan sarung saat itu. Maka sangat mudah sekali untuk terlihat jelas. Sepertinya ayahku sedang ngaceng. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi deg-degan. Aku juga bingung apa yang harus aku lakukan. Untuk menenangkan perasaanku, maka aku mengambil air yang ada di meja. Kulihat ayah tiba-tiba langsung menaruh piringnya. Dia sadar kalo aku tahu apa yang terjadi di selangkangannya. Secara mengejutkan, sesuatu yang tak pernah aku bayangkan terjadi. Ayah langsung bangkit dan memilih duduk di pinggiran kasur. Tangannya juga tiba-tiba meraih tanganku dan membawa ke selangkangannya. Aku benar-benar tidak percaya ayah senekat dan seberani ini. Dia memberi isyarat padaku untuk menggenggam sesuatu yang ada di selangkangannya. Mungkin karena kaget atau aku juga menyimpan hasrat seksual pada ayah, tidak ada penolakan dariku terhadap kelakuan ayahku itu. Aku hanya diam saja sambil menuruti kemauan ayah. Kini aku bisa merasakan bagaimana sesungguhnya ukuran tongkol ayah. Ternyata ukurannya memang seperti yang aku bayangkan. Jauh berbeda dengan milik suamiku. tongkol ayah benar-benar berukuran besar. Baru kali ini aku memegang tongkol sebesar itu. Mungkin ukurannya seperti orang-orang bule. Mungkin karena tak ada penolakan dariku, ayah semakin memberanikan diri. Ia menyingkap sarungnya dan menyuruhku masuk ke dalam sarung itu. Astaga. Ayah semakin berani saja. Kini aku menyentuh langsung tongkol yang sering ada di fantasiku itu. Ukurannya benar-benar membuatku makin bergairah. Aku hanya melihat ke arah ayah dengan pandangan bertanya-tanya: kenapa ayah melakukan ini padaku?”