icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Bukan Cinta Yang Kandas

Bab 2 Bukan de la Fontaine

Jumlah Kata:1632    |    Dirilis Pada: 12/06/2025

ia merasa gelombang kebingungan dari orang-orang yang dilewatinya. Gaun peraknya berdesir pelan, satu-satunya suara yang menemaninya dalam kepompong k

an yang sudah lama tidak ia rasakan. Tidak ada air mata. Air mata adalah untuk kesedihan atau kehilangan. Apa yang ia rasakan saat

saat pintu otomatis hotel bergeser terbuka. Kontras yang tajam dengan dinginnya pendingin udara dan atmosfer beku di ballroom. Aveline menghirupnya dalam-da

akan pintu taksi untuk

mat yang sudah bertahun-tahun tidak ia kunjungi, sebuah al

butkan nama arsitek di balik sebagian besar gedung itu. Menara Blackwood, dengan desainnya yang agresif dan tajam, tampak mendominasi cakrawala, sebuah monumen arogansi suaminya. Tidak jauh dari situ, Menara d

tersembunyi di balik pagar besi tinggi dan rimbunnya pohon-pohon tua. Ini bukan rumah, melainkan sebuah studio. Studio pribadi almarhum kakeknya, Adiwangsa de la Fontaine. Tempa

sah dan sejarah. Ia membuka gerbang yang berderit pelan dan berjalan di jalan setapak batu. Kuncinya masi

dar, dan sisa-sisa aroma tinta cina. Di dalam, cahaya bulan yang masuk melalui jendela-jendela besar menerangi siluet-siluet yang familiar: meja-meja gam

lindungannya. Ini ada

Dengan hanya mengenakan pakaian dalamnya, ia berjalan ke sebuah lemari tua di sudut ruangan. Di dalamnya, tergantung beberapa kemeja kerja kakeknya yang sudah usang. Ia mengambil satu, kemeja katun putih yan

ukan Nyonya Blackwood. Bukan pewa

erak dengan cepat dan pasti. Panggilan pertama

-malam begini?" suara serak P

nya tenang dan datar. "Saya ingin Anda menyiapkan surat gugatan c

bayangkan pengacara tua itu duduk tegak di tempat ti

a begitu klinis dan tidak memadai untuk menggambarkan jurang di antara mereka. "Tolong pastikan semua aset a

apkan drafnya besok pagi," jawab Pak Binsar

ata Aveline, lalu

i atasnya, terbentang sebuah sketsa lama milik kakeknya-sebuah jembatan. Goresan pensilnya begitu kuat dan penuh percaya diri. Kakeknya pernah berkata, "Seorang a

embangun

nya semakin dekat, lalu berhenti tepat di depan gerbang. Lampu depannya yang ta

h menduganya. Damian tidak akan

edoran keras di pintu. Bukan ketukan, mel

intu ini! Aku ta

Ia tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun,

cahaya teras. Jasnya sedikit kusut, dasinya sedikit miring-pemandang

engan pandangan jijik, lalu berhenti pada penampilan Aveline-kemeja kebesaran yang ia kenakan. "Apa yang kau laku

tidak mempermalukanmu, Damian. Aku hany

orang melihatmu pergi. Semua orang

ja. "Tidak ada 'kita', Damian. Yang ada hanya kau dan citramu. Dan malam ini

sedang bernegosiasi dalam sebuah rapat. "Dengar, aku tidak tahu kenapa kau begitu sentimentil soal pidato itu.

ing, dan tanpa kegembiraan. Tawa seseorang yang b

mengambil ide-ideku, kerja kerasku, malam-malam tanpa tidurku, lalu kau membangun monumen dari itu semua dan mendedikasikannya untuk hantu dari masa l

ah memintamu bekerja sekeras itu. Itu

linya. "Kau menempatkanku di perusahaanmu, di bawah namamu, di mana setiap prestasi

petisi saat kuliah. "Aku adalah seorang arsitek, Damian. Sama sepertimu. Sama seperti kakekku. Tapi kau tidak p

ak dapat memproses data emosional ini. "Ini tidak rasional, Aveline. Pikirkan bisnisnya

is. Aliansi. Bukan perasaan. Bukan pengkhia

gan tenang. "Dan aku sudah menelepon Pak Bi

ejut, kemudian menyipit karena

ke arah pintu. "Pernikahan kita sudah selesai, Damian. Sam

at di lidahnya. Sebuah penegasan kepemilik

ah fondasi kokoh yang tidak bisa ia goyahkan. Arogansinya tidak lagi memiliki kekuatan di sini, di dalam benteng warisan

antara hantu-hantu masa lalu yang baik, dan merasak

a yang berdebu, menyingkap kayu jati tua yang indah. Ia menemukan gulungan kertas kalkir yang masih baru di dal

baru menyelinap masuk melalui jendela, mengusir bayangan malam. Aveline mengambil sebuah p

an kuat. Bukan de la Fontaine, bukan Bla

ne Cre

ik garis pertamanya. Garis yang lurus, tegas, dan penu

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Bukan Cinta Yang Kandas
Bukan Cinta Yang Kandas
“Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Aveline de la Fontaine adalah mengikat janji suci dengan Damian Blackwood. Pernikahan mereka, yang telah berjalan selama tiga tahun, bukanlah didasari cinta, melainkan sebuah aliansi bisnis antara dua keluarga konglomerat. Namun, Aveline naif berharap Damian pada akhirnya akan melihatnya. Kenyataannya, hati Damian telah lama terkunci, hanya ada ruang untuk cinta masa lalunya, Clara. Demi sebuah harapan kosong, Aveline menekan ambisinya sendiri. Ia, seorang arsitek jenius lulusan terbaik, rela bekerja di bawah bayang-bayang perusahaan Blackwood, menyumbangkan ide-ide briliannya hanya agar nama Damian yang bersinar. Citranya di mata publik merosot dari seorang pewaris visioner menjadi istri yang menyedihkan dan haus perhatian. Titik baliknya tiba pada malam penganugerahan proyek terbesar tahun itu. Damian, di atas panggung, mendedikasikan penghargaannya untuk "inspirasi abadinya," Clara, sementara Aveline-yang sebenarnya merancang konsep kemenangan itu-duduk tak terlihat di antara penonton. Saat itulah Aveline sadar, ia telah membangun istana untuk pria yang salah. Tanpa menoleh ke belakang, Aveline mengajukan gugatan cerai. Ia mendirikan kembali firma arsitekturnya sendiri, merebut kembali nama "de la Fontaine" yang sempat ia tinggalkan. Ia tidak lagi mengejar cinta, melainkan mahakarya. Kesuksesan kembali memeluknya saat rancangannya untuk "Azure Spire," sebuah menara ikonik, mengalahkan proposal dari perusahaan Blackwood. Aveline kembali ke singgasananya, bukan lagi sebagai istri seseorang, tetapi sebagai arsitek yang karyanya dihormati dunia. Lantas, setelah membangun kembali mahkotanya dari puing-puing pengkhianatan dan membalas mereka yang meremukkannya, akankah Aveline membuka kembali gerbang hatinya yang kini dijaga kokoh oleh baja dan beton?”
1 Bab 1 Architectural Innovator of the Year2 Bab 2 Bukan de la Fontaine3 Bab 3 di studio kakeknya4 Bab 4 Ruangan itu dipenuhi gema bisikan5 Bab 5 mengorbankan keamanan6 Bab 6 Keputusan ada di tangan para juri7 Bab 7 Akankah Blackwood Corp menemukan cara lain8 Bab 8 Berita kemenangan hukum9 Bab 9 Pembangunan Distrik Maritim Inovatif Kertajaya10 Bab 10 lokasi proyek11 Bab 11 berupa mimpi di atas kertas12 Bab 12 Insiden sabotase13 Bab 13 Dengan suksesnya Distrik Maritim Inovatif Kertajaya14 Bab 14 warisan yang akan ia tinggalkan15 Bab 15 Arsitek Dunia16 Bab 16 Panggilan dari Masa Lalu17 Bab 17 Hubungannya dengan Aveline18 Bab 18 tsunami berhasil diselesaikan19 Bab 19 sebuah pengakuan20 Bab 20 warisan sejati tidak diukur dari apa yang kita kumpulkan21 Bab 21 Waktu adalah sungai yang tak henti mengalir22 Bab 22 membangun sesuatu yang akan melindungi