icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Makin Tua Makin Binal

Bab 6 Binal

Jumlah Kata:1086    |    Dirilis Pada: 30/05/2025

luas. Musik gamelan mengalun pelan dari pengeras suara, menghadirkan suasana teduh di teras be

duduk berdua. Jauh dari keramaian, mereka b

a Bu Mery lembut, sambil menuang

kamu. Kok bisa sih setenang ini set

pis. Matanya menatap permuk

in aku udah kebal. Mungkin j

. Apalagi si Rohman... Astaga! Satu istri aja belum cukup, sekarang

ak terdengar. "Tapi kamu tahu kan, aku nggak

rusan ngalah. Kamu itu cantik, cerdas, mandiri, disayang

an menyentuh pinggiran cangkir, seakan

an satu lagi... maaf kalau aku lancang. Tapi kamu pernah kep

an membesar

san tahun nggak hamil, nikah lagi, sebulan kemudian langsung isi. Mungkin selam

siapa pun atas takdirnya yang belum dikaruniai anak. Tapi ia juga tak pernah mempertimbangkan bah

ah Bu Mery-penuh simpa

n. Kamu cuma belum bertem

ang mulai meluruh dalam dirinya-seperti k

a. Tapi hari ini, rasanya aku dapet angin bar

ikku. Dan aku gak akan tinggal diam lihat kamu disia-s

terluka, satu yang memilih menjadi pelindung-berbagi keheningan yang bermakna

reka yang semula serius per

etengah, lalu melirik adik iparnya penuh

tak. "Kenapa na

alnya aku lihat cara dia mandang kamu... beda. Lembut

a mencoba tertawa, tapi gugu

.. suka ng

u sayang sama kamu. Dan kamu juga tahu, dia bukan anak sembarangan. B

"Tapi Dito masih muda, Mbak. Masih kulia

sama Mas Indra. Keyakinan itu soal hati. Kalau memang saling mengharg

an hanya menatap teh dalam cangk

ahu cara menghargaimu. Kamu berhak bahagia, Tan. Kamu berhak dicintai tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa

an perasaan memadati dadanya-malu, terharu,

ak tahu semua is

adik ipar kesayangan. Mukamu tuh, kala

Angin sore menggoyangkan daun flamboyan, dan entah kenapa, s

hati Bu Intan kembali gelisah. Jika tadi Bu Mery memberi re

dalam hatinya. Nama yang selama ini ia jag

tulkan cahaya dalam hidupnya yang suram. Bukan dengan kata-kata manis, tap

-jujur dari hati terdal

api' besar sel

dengan k

pedagang bubur ayam keliling. Mereka religius, bersahaj

an seorang perempuan nyaris lima puluh tahun, andai mantan is

u perusak masa depan an

sederhana, dapur yang hangat karena tungku menyala. Mungkinkah ia dit

as pelan terlepa

a setelah sekian tahun... ia mulai membayangkan kemungkinan baru. Bukan dengan harap

ngkin... kali ini, ia

iri pada Dito. Kakak iparnya sudah memberi restu, bahka

. Ia jarang pulang, dan kendala keluarga tak bisa diabaikan. Tapi bukan berarti tak bisa d

. Tapi bukankah semua perasaan perlu diuji? Bukan pada

ni, ia tak ingin hanya menunggu.

*

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Makin Tua Makin Binal
Makin Tua Makin Binal
“Khusus Yang Sudah Tua dan Dewasa”