luas. Musik gamelan mengalun pelan dari pengeras suara, menghadirkan suasana teduh di teras be
duduk berdua. Jauh dari keramaian, mereka b
a Bu Mery lembut, sambil menuang
kamu. Kok bisa sih setenang ini set
pis. Matanya menatap permuk
in aku udah kebal. Mungkin j
. Apalagi si Rohman... Astaga! Satu istri aja belum cukup, sekarang
ak terdengar. "Tapi kamu tahu kan, aku nggak
rusan ngalah. Kamu itu cantik, cerdas, mandiri, disayang
an menyentuh pinggiran cangkir, seakan
an satu lagi... maaf kalau aku lancang. Tapi kamu pernah kep
an membesar
san tahun nggak hamil, nikah lagi, sebulan kemudian langsung isi. Mungkin selam
siapa pun atas takdirnya yang belum dikaruniai anak. Tapi ia juga tak pernah mempertimbangkan bah
ah Bu Mery-penuh simpa
n. Kamu cuma belum bertem
ang mulai meluruh dalam dirinya-seperti k
a. Tapi hari ini, rasanya aku dapet angin bar
ikku. Dan aku gak akan tinggal diam lihat kamu disia-s
terluka, satu yang memilih menjadi pelindung-berbagi keheningan yang bermakna
reka yang semula serius per
etengah, lalu melirik adik iparnya penuh
tak. "Kenapa na
alnya aku lihat cara dia mandang kamu... beda. Lembut
a mencoba tertawa, tapi gugu
.. suka ng
u sayang sama kamu. Dan kamu juga tahu, dia bukan anak sembarangan. B
"Tapi Dito masih muda, Mbak. Masih kulia
sama Mas Indra. Keyakinan itu soal hati. Kalau memang saling mengharg
an hanya menatap teh dalam cangk
ahu cara menghargaimu. Kamu berhak bahagia, Tan. Kamu berhak dicintai tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa
an perasaan memadati dadanya-malu, terharu,
ak tahu semua is
adik ipar kesayangan. Mukamu tuh, kala
Angin sore menggoyangkan daun flamboyan, dan entah kenapa, s
hati Bu Intan kembali gelisah. Jika tadi Bu Mery memberi re
dalam hatinya. Nama yang selama ini ia jag
tulkan cahaya dalam hidupnya yang suram. Bukan dengan kata-kata manis, tap
-jujur dari hati terdal
api' besar sel
dengan k
pedagang bubur ayam keliling. Mereka religius, bersahaj
an seorang perempuan nyaris lima puluh tahun, andai mantan is
u perusak masa depan an
sederhana, dapur yang hangat karena tungku menyala. Mungkinkah ia dit
as pelan terlepa
a setelah sekian tahun... ia mulai membayangkan kemungkinan baru. Bukan dengan harap
ngkin... kali ini, ia
iri pada Dito. Kakak iparnya sudah memberi restu, bahka
. Ia jarang pulang, dan kendala keluarga tak bisa diabaikan. Tapi bukan berarti tak bisa d
. Tapi bukankah semua perasaan perlu diuji? Bukan pada
ni, ia tak ingin hanya menunggu.
*
/0/24556/coverbig.jpg?v=e0382313514f34ff68f24fcc2520eda8&imageMogr2/format/webp)