ini tergeletak di samping tempat tidurnya seakan menantang untuk dibuka lebih jauh, seperti sebuah teka-teki yang belum terpecahkan. Dia bisa merasakan beban yang sangat
a bingung, tidak tahu harus memilih jalan mana. Adrian masih berusaha mendekatinya, namun semakin ia mencoba
lasan untuk tidak bisa bertemu atau tidak bisa memberikan penjelasan. Bahkan ketika mereka berada dalam satu ruangan yang sama, ada sesuatu yang menghalangi ke
sahaan itu, seakan-akan menjadi kegiatan biasa yang tak menyentuh hatinya. Meskipun ia berhasil membangun sebuah kerajaan bisnis yang kuat, hatinya tak lagi bisa merasakan keba
Liv, malam itu terasa begitu kelam. Hatinya seperti sebuah ladang yang tandus, yang tak bisa tumbuh a
jat. Ia menatap layar yang menunjukkan nama Adrian di sana. Dengan
engar lebih tegang dar
n. Tentang kita," suara Adrian terdengar terburu-buru
papun yang dia katakan. Namun, ada sesuatu yang membuatnya tetap terjaga, ingin mendengar apa yang akan terjadi sel
nya Adrian, suara
a ragu lagi. "Di luar, bukan di tempat bi
menghela napas panjang. "Baiklah, ak
ada datar. "Untuk mengungkap semua rahas
a Adrian, suara lebih lemah dari sebelumnya, dan sebe
ya menghadapi semua kebingungannya. Dengan langkah-langkah yang berat, ia berdiri dan mengambil jaket dari gantungan di dekat p
presi yang sulit dibaca. Ada ketegangan yang menggantung di udara, dan untuk pertama kalinya, Liv me
datang," katanya, suaranya agak gugup. Ada k
u? Aku... aku merasa seperti aku tidak mengenalmu lagi," jawab Liv, suaranya sedikit pecah, namun ia t
an terdengar serak, seakan menahan sesuatu yang sangat berat. "Aku tidak bisa memberi
yak hal, Adrian. Terlalu banyak. Aku tahu tentang keluargamu, tentang bisnis yang kau jalani, dan tentang semua rahasia yang kau sembunyi
u. Tapi aku tak bisa, Liv. Aku takut kau akan terlibat lebih dalam dalam dunia ini-dalam du
"Aku sudah terluka, Adrian. Hati ini sudah hancur, karena aku te
rus kulakukan. Aku... aku terjebak dalam segala hal ini, Liv. Dan semakin aku mencob
h mematahkan setiap bagian dari dirinya. Dia mencintai Adrian, tapi dia juga merasa dikh
terdengar. "Aku... aku butuh waktu. Waktu untuk berpiki
an, namun ada juga ketakutan yang tersirat
pa berkata-kata lagi. Setiap langkahnya terasa semakin berat,
/0/23850/coverbig.jpg?v=7573a5d26df9554f975033bfc1fd3aed&imageMogr2/format/webp)