icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Patah Hati Terlalu Dalam

Bab 6 memilih hidupnya

Jumlah Kata:867    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

masih terasa remuk. Menghadapi kenyataan memang bukan hal yang mudah, terutama ketika kenyataan itu menghancurkan segala yang pernah ia percayai. Nam

ini, apartemen itu terasa begitu asing, seolah bukan lagi milik mereka. Setiap sudut ruangan yang per

i saat merasa kebingungan. Tempat itu selalu memberinya kedamaian-sebuah pelarian dari dunia yang kadang terasa terlalu berat untuk dipikul. Ia duduk di sudut yang paling jauh,

g terus menghantuinya. Namun, meskipun ia mencoba untuk menenangkan pikirannya, gambar wajah Adrian yang penuh penyesalan terus muncul dalam benak

g harus ia buat bukan hanya tentang Adrian atau Amara, tetapi juga tentang dirinya sendiri. Tentang kebahagiaan

ngkir kopi lagi dan meletakkannya di hadapannya. "Ada yang bis

u, merasakannya hangat di tangannya, dan meminumnya sedikit. Rasa pahit k

ama yang tertera di layar membuat hatinya berdebar. Adrian. Ia menatap ponselnya beberapa detik, ragu apakah harus m

u tahu kamu masih marah, dan aku paham kenapa kamu merasa seperti itu. Tapi, ak

, Adrian?" Suaranya terdengar lebih dingin daripada yang ia rasakan. "Kau sudah memil

di, tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin kita kembali seperti dulu," jawab Adrian, terdengar begi

ya, tapi kamu tidak bisa mengubah kenyataan. Kenapa kamu tidak memberitah

awab. "Aku takut, Liv. Aku takut kehilanganmu. Aku tahu aku melakukan kesala

dalam dirinya, namun kali ini, ia tidak merasa bingung. Ia tahu bahwa ia harus tetap kuat. Ia harus memutu

ulu, Adrian," kata Liv pelan. "Aku tidak tahu apak

atakan itu. Aku akan melakukan apa pun untuk membu

uka mata kembali, ia tahu bahwa ada keputusan besar yang harus ia buat. "Aku tidak bisa teru

terarah ke luar jendela, menatap hujan yang semakin deras. Perasaan kosong dan hampa datang beg

pi, satu hal yang pasti, Liv tahu bahwa ia harus menghargai dirinya sendiri. Ia harus melepaskan seg

dirinya-keberanian. Keberanian untuk memilih dirinya, untuk memilih hidupnya,

tidak lagi takut. Dia tahu bahwa per

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Patah Hati Terlalu Dalam
Patah Hati Terlalu Dalam
“Livia Suryani, seorang CEO muda yang telah mengukir nama besar di dunia bisnis kecantikan, dikenal dengan merek skincare "Glow Essence", sebuah perusahaan yang telah mendominasi pasar dengan inovasi dan kualitas luar biasa. Livia, yang biasa dipanggil Liv, tidak hanya sukses secara profesional, tetapi juga memiliki kehidupan pribadi yang tampak sempurna. Ia bertunangan dengan Adrian Wira, pria tampan dan berkarisma yang menjalankan bisnis showroom mobil bekas yang juga berkembang pesat. Keduanya saling mencintai dan merencanakan pernikahan mereka dalam waktu dekat. Sejak awal, hubungan Liv dan Adrian memang terlihat seperti pasangan yang sempurna. Mereka saling mendukung, penuh dengan kasih sayang dan perhatian. Liv merasa sangat beruntung memiliki Adrian, yang selalu ada untuknya, baik dalam kebahagiaan maupun kesulitan. Namun, kebahagiaan Liv berubah drastis pada suatu hari yang tak akan pernah ia lupakan. Pada malam sebelum ulang tahun Adrian, Liv merencanakan kejutan spesial untuk tunangannya. Ia ingin menunjukkan betapa dalamnya cintanya kepada Adrian, dengan membuat malam itu penuh dengan kenangan manis. Liv mempersiapkan segala sesuatu dengan cermat, mulai dari dekorasi hingga hadiah yang istimewa. Namun, saat ia tiba di rumah Adrian lebih awal untuk menyiapkan kejutan, ia justru mendapati pemandangan yang membuat jantungnya berhenti berdetak. Melalui celah pintu, Liv melihat Adrian sedang bergulat dengan seorang wanita yang tidak asing baginya-Amara, anak tiri ayahnya yang baru beberapa bulan pindah ke kota. Keduanya tampak terperangkap dalam sebuah adegan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, saling berpelukan dan bergumul dalam keintiman yang begitu intens. Wajah Amara yang selalu tampak ramah, kini menunjukkan ekspresi penuh hasrat yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan dilihatnya. Liv merasakan dunia seperti runtuh seketika. Hatinya hancur, seolah ada sesuatu yang merobek setiap bagian dari dirinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Dengan tubuh gemetar, ia bersembunyi di dalam lemari dan merekam semua yang terjadi, berharap itu akan menjadi bukti atas pengkhianatan yang baru saja ia temui. Air mata mengalir tanpa bisa ia bendung, menyesali semua yang telah ia percayai selama ini. Setelah kejadian itu, Liv merasa seluruh dunianya hancur. Adrian, yang ia percayai dan cintai dengan sepenuh hati, ternyata memiliki sisi gelap yang sama sekali tak ia ketahui. Keputusan yang berat harus ia buat, dan dengan rasa sakit yang tak terlukiskan, Liv memutuskan untuk meninggalkan Adrian, mengakhiri hubungan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Namun, bukan berarti luka di hatinya langsung sembuh begitu saja. Dalam keadaan kacau dan frustasi, Liv pergi ke sebuah klub malam yang terletak di pusat kota. Ia ingin melupakan semuanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegilaan malam itu. Tanpa banyak berpikir, ia menenggak alkohol hingga tubuhnya terasa ringan dan dunia di sekitarnya semakin kabur. Keesokan paginya, Liv terbangun dengan kepala pusing dan tubuh yang terasa lemah. Ia membuka mata perlahan, hanya untuk mendapati dirinya telanjang, tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Kaget dan bingung, Liv berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, namun segala hal tampak kabur, seperti mimpi yang sulit dicerna. Saat ia hendak bangkit, matanya terbelalak melihat seorang pria tampan yang terbaring di sampingnya. Tubuhnya terbungkus selimut, namun tangannya masih melingkar erat di sekitar tubuh Liv, memeluknya dengan cara yang sangat posesif. Hatinya berdetak kencang, bingung dan ketakutan. Siapa pria ini? Apa yang terjadi semalam? Pria itu tampaknya tertidur dengan tenang, wajahnya yang tampan tampak begitu damai, berlawanan dengan kekacauan dalam diri Liv. Ia berusaha mengingat lagi, namun hanya menemukan kekosongan. Apakah ia mengenal pria ini? Atau mungkin ini hanya salah satu akibat dari alkohol yang ia minum semalam? Liv mencoba bangun perlahan, menghindari untuk membangunkan pria itu, namun takdir sepertinya memiliki rencananya sendiri. Pria itu terbangun dengan perlahan, membuka matanya, dan langsung menatap Liv dengan tatapan yang penuh misteri. Sebuah senyuman tipis terbentuk di wajahnya, namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Liv semakin bingung. "Selamat pagi," kata pria itu dengan suara serak, seolah baru saja bangun dari tidur yang sangat lelap. "Kau baik-baik saja?" Liv tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya memandang pria itu, mencoba mencari jawaban dari tatapan matanya yang penuh rahasia. Apa yang terjadi semalam? Mengapa ia terbangun di samping pria ini, yang bahkan wajahnya tidak pernah ia kenal sebelumnya? Saat pria itu menarik Liv ke dalam pelukannya, Liv merasa ada sesuatu yang aneh, seperti ada hubungan tak terungkapkan di antara mereka. Namun, pertanyaan terbesar yang ada dalam benaknya adalah, siapa sebenarnya pria ini, dan mengapa dia merasa begitu terhubung dengan Liv?”