icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan

Bab 5 berkas-berkas utang Marsel

Jumlah Kata:638    |    Dirilis Pada: 11/04/2025

pertama kali datang kemarin. Di depannya, tumpukan dokumen mulai tertata rapi-berkas-berkas utang Marsel, fot

cangkir teh di tanganku bergetar sedi

a muncul, Ken. Setelah bertahun-tahun... setel

ena aku tahu kamu tidak bahagi

terd

perempuan yang pantas diseret

ris tanpa suara. "Aku bahkan engg

u belum pernah berhen

ar, langit mendung, seolah ik

i pintu membuatku b

utang. Bukan siap

u

rs

nya langsung terpaku pada Kenzo yang dud

anya parau. "Ki

Kenzo pun berdiri, tapi aku memberi

Setelah berhari-hari me

asuk tanpa diundan

e mana. Aku... aku enggak pernah niat nipu

da tanganku! Kamu gadaikan rumah yang bukan mili

gak punya pilih

lihan, Marsel. Selalu. Tapi kamu sel

mu pikir kamu bisa masuk lagi ke hidup dia

diri. Teg

kmu, kamu seharusnya melindun

n geram, tapi aku langsung

ian berdua-aku bukan barang. Aku bukan hadia

sadar aku bukan lagi perempuan

pelan, tapi jelas. "Sebelum aku panggil

h. "Kamu lebih

dak me

rumit. Karena jawabannya

siapa y

eras sebelum akhirnya berjal

mengusir suamiku sendiri. Tapi entah mengapa, buka

pernikahanku. Aku di sana, tersenyum dengan gaun putih. Marsel di sampingku

ar foto it

ar semua ilusi yang pernah

h satu penagih yang diam-diam direkam oleh timnya, berisi pengakuan bahwa Marse

a. "Kita akan ajukan gugatan pidana. Tapi k

rlalu lama hidup dalam luka.

ndangku

ga sama k

menangis me

anya balas

arena nggak men

il. "Aku nggak pern

kalinya, aku tidak merasa s

emilih untuk berdiri sendiri. Kenzo tetap menjadi tempat berpijak yang ba

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
Masa Lalu Yang Kau Tinggalkan
“Aku terhenyak, menatap Marsel dengan tatapan tajam penuh kemarahan. Baru setahun pernikahan kami, dan dia, suamiku, dengan santainya memintaku untuk menjual satu-satunya rumah peninggalan orang tuaku yang sudah meninggal. Rumah itu adalah kenangan terakhir yang tersisa darinya, tempat aku tumbuh dan merasakan kasih sayang mereka. Bagaimana mungkin dia memintaku untuk melepaskan itu? "Hilda," suaranya terdengar tenang, seolah tidak ada hal yang terlalu penting dari pembicaraan ini. "Kita butuh uang untuk investasi. Rumah ini hanya membebani." Aku menggigit bibir, berusaha menahan emosi yang berkecamuk dalam dada. "Tidak! Ini bukan tentang uang, Marsel! Ini tentang kenangan, tentang masa lalu yang tak bisa aku tinggalkan begitu saja hanya karena alasanmu yang... dangkal!" Aku melangkah mundur, menatapnya dengan mata yang mulai memerah. Marsel memandangku dengan ekspresi yang sulit kuartikan. Di satu sisi, aku melihat kekuatan, tapi juga ada ketidaksabaran yang kian terlihat. "Hilda, aku hanya berpikir praktis. Kita harus berpikir ke depan." Aku tertawa pahit. "Ke depan? Apa kau lupa? Rumah ini adalah warisan yang tak ternilai bagiku! Dan kau ingin menjualnya begitu saja?" Dia menarik napas panjang, seakan mencoba menenangkan diri. "Aku tidak ingin bertengkar, Hilda. Tapi kita perlu uang untuk merencanakan masa depan kita. Apa pun itu, rumah ini hanya menghambat langkah kita." Aku merasa dunia ini begitu berat, seolah seluruh hidupku sedang terancam runtuh hanya karena keputusan yang diambil oleh orang yang aku cintai. Tidak ada jalan tengah dalam hal ini. Bagaimana bisa Marsel, yang dulu begitu aku percayai, berubah menjadi seseorang yang begitu dingin dan pragmatis? Aku tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi antara kami, tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan pernah menyerah pada perasaan ini.”