icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Istri Cadangan

Istri Cadangan

icon

Bab 1 menjalani rutinitas tanpa curiga

Jumlah Kata:585    |    Dirilis Pada: 09/04/2025

elumnya, ia menjalani rutinitas tanpa curiga. Namun, ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya, sebuah perasaan yang s

edikit, dan tanpa pikir panjang, ia melangkah masuk. Ditemani suara derap sepatu hak tin

berhenti sejenak, mengernyitkan dahi. Tawa itu, tawa

berbisik pada

olah menghancurkan hidupnya. Reza, suaminya, terbaring di ranjang dengan Karina-wanita yang selama ini tinggal be

u menangis, perasaan sakit dan kecewa bercampur dalam dirinya. Ia meras

wanita itu tak tampak cemas sedikit pun, malah seolah menikmati setiap detik dari

i penyesalan, ia mengangguk perlahan. "Nadia, aku... aku mencinta

perti pisau yang menusuk tepat ke hatinya. Suaminya, yang selama in

dia akhirnya bisa membuka mulut, suaranya terde

Nadia? Kami saling mencintai. Reza telah memilihku, dan aku tidak aka

tu saja. "Kalian benar-benar tidak tahu malu." Nadanya semakin tajam. "Dan kau, Reza

ahnya dengan keputusan yang tegas. "Aku ingin menikahi Karina, Nadia. Aku ingin hidup be

ngarnya. Ada sesuatu dalam dirinya yang ingin hancur, tetapi ia menahannya. Ia h

bencian. "Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginka

lakukan, Nadia? Kita sudah membuat kepu

dur. Ia menatap mereka dengan penuh keya

pengkhianatan itu. Tetapi ia tahu, ini baru permulaan dari apa yang akan menjadi pertemp

hancur. Tetapi di balik rasa sakit itu, ada api yang mulai membara-api balas dendam y

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Istri Cadangan
Istri Cadangan
“Nadia berdiri terpaku di ambang pintu kamar tamu, tubuhnya membeku melihat pemandangan yang menghancurkan dunianya dalam sekejap. Di atas ranjang yang seharusnya hanya milik pernikahannya, Reza-suaminya-berbaring bersama wanita lain. Wanita itu adalah Karina, seseorang yang selama ini tinggal di rumah mereka dengan alasan butuh tempat sementara. Alih-alih merasa bersalah, Karina menatap Nadia dengan senyum penuh kemenangan. "Sekarang kau tahu, Nadia," ucapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Reza memilihku. Kami saling mencintai." Reza, yang seharusnya bersujud meminta maaf, justru mengangguk setuju. "Aku ingin menikahi Karina. Aku harap kau bisa mengerti." Darah Nadia mendidih. Penghinaan ini terlalu besar untuk bisa dibiarkan begitu saja. Ia mengangkat dagunya, menatap mereka dengan mata penuh tekad. "Kalian pikir aku akan menangis dan menyerah begitu saja? Jangan bermimpi." Dengan hati yang membara, Nadia berjanji pada dirinya sendiri-pengkhianatan ini akan dibayar lunas.”
1 Bab 1 menjalani rutinitas tanpa curiga2 Bab 2 Setelah kejadian3 Bab 3 suasana hati4 Bab 4 penasaran dan marah5 Bab 5 memperjelas kepanikan6 Bab 6 Gugatan cerai7 Bab 7 Tidak ada rasa bersalah8 Bab 8 menyajikan sarapan9 Bab 9 suasana yang suram10 Bab 10 membangun kepercayaan11 Bab 11 menguat dalam dirinya12 Bab 12 Di ruang pengadilan13 Bab 13 hidupnya sudah diambil14 Bab 14 permainan strategis15 Bab 15 Kebenaran yang Menghancurkan16 Bab 16 Serangan balik17 Bab 17 berhembus kencang18 Bab 18 sibuk kini tampak sunyi19 Bab 19 menyusun20 Bab 20 mengusir21 Bab 21 mencekam seiring berlalunya waktu22 Bab 22 disembunyikan23 Bab 23 rumah yang menjulang24 Bab 24 sangat nyata terpendam25 Bab 25 menjadi saksi26 Bab 26 hanya preambul27 Bab 27 berjuang untuk melawan28 Bab 28 beberapa hari terakhir29 Bab 29 diprediksi30 Bab 30 sudah terlalu jauh