icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
Not Seen

Not Seen

Penulis: Anggun MVP
icon

Bab 1 01. Acuh Sekali

Jumlah Kata:1290    |    Dirilis Pada: 25/03/2025

a Imron dengan mas kawin 2

e

menjadi suami istri. Hanya sedikit orang yang menyaksikan pernikahan in

ri oleh kedua orang tuanya dan hanya dihadiri wali hakim dan beberapa saksi. Ia hanya ter

k menilik situasi di ruangan yang tak begitu luas. Ingin pasrah, namun kenapa kehidupannya begini? Udara dingin deng

ri seb

r

masak seperti ini s

an

ram, dasar anak tidak berguna!" Wajah wa

a menjadi kaku dan ketakutan. Ia tak dapat

r mengambilkan gar

r anak perempuan tersebu

n sampai keasinan!" cerca ib

kit demi sedikit, diaduk, kemudian dicicip. "Sudah tak as

samping istrinya. Ia sebagai ayah justru tak dapat membela anak k

mereka adalah menyaksikan saudarinya dicerca oleh sang ibu negara.

eolah-olah ayah kandungnya telah tiada dan menyisakan penderitaan bagi sa

kin banyak semenjak ia masuk SD. Harus menyiapkan sarapan, mencuci p

dan diberi uang jajan. Ayah diam-diam selalu memberikan uang jajan pada Naura dan mengoba

an syarat jika ingin menjadi suaminya tak boleh melarang atau membantah apapun yang dilakukannya. Ayah yan

iring juga mengelap lantai yang terkena tumpahan mangkuk ibu

pernah tersenyum ataupun tertawa, selalu

ih, ia pamit pada ayah

a membuatmu tersenyum," lirih ayah

k saja, kok." Senyum tipis ditu

ekal u

ah kemudian berjalan keluar pagar rumah

dapat mengekspresikan dirinya. Masuk ke dalam kampus dengan penu

ia pergi ke taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari kampus. Seb

i pelukannya, menatap jalanan yang dipij

aman yang panjang, ia duduk di san

redup, Naura bergegas pergi ke halte bus

pergi. Desa yang sangat nyaman dan tenang. Berbeda dengan keadaan rumah

ak, kakak dan adikmu sudah kelaparan!" Tatapan yang menyala itu membuat

selalu menundukkan kepala, hingga yang

ian sederhana, tak lupa ia mengenakan kerudung

ali mengupas sayuran juga mengiris, sikap gesitnya patut di

al lauknya saja. Makanan di nampan

rrt

rrt

terlihat gemetar, namun ia

e

e

rr

u meraihn

u," lirih Naura

akanya, pulang kuliah tuh jangan keluyuran, dasar anak tak tahu d

hu Naura hingga terjungkal ke depan

," umpatnya setelah mem

da gunanya d

lerai adiknya yang tak begitu

ia masuk ke dalam kamar. Segera

l

l

l

emua tubuhnya merunduk, mata la

ialan, tak berguna!

i telinganya membuat mata ta

angisnya

tok

nya datar, tetapi makna dari ucapannya membuat

t Naura sambil

, lama sekali?" tanya ib

bil menjawab, "tidak

hmu pulang dapur berantakan. Lamb

urus dan lecet segera merapikan meja makan yang

12 m

lau gajinya tidak begitu besar, tapi tetap

tok

pelan. "Naura, apa kamu sudah

di meja belajar mendengar ketukan pi

gan wajah berbinar

angan Ayah

elajar sambil

sudah

meng

gun karena makanan ini enak sekali," bisik ayah d

. "Kalau begitu, Naura

ya

anya mengedar melihat seisi kamar putrinya yang koso

mbawa makanan sisa pelanggan yang masih utuh. Beruntung sekali ayah bekerja di b

at dan jarang ia rasakan. Tangan ayah menyeka air mata yang perlahan menetes tan

mbung

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
Not Seen
Not Seen
“Seorang perempuan yang terpaksa menikah dengan lelaki yang diselamatkannya. Ibu dari perempuan ini tak menginginkannya lagi. Sengaja memaksa lelaki itu untuk membawa pergi anak perempuannya. Walau hanya memiliki 1 anak perempuan, tapi sang ibu tidak memperlakukannya sebagai anak kesayangan, malah menjadikannya seperti anak tiri yang ditinggal mati oleh ayah kandungnya dengan utang yang banyak. Padahal ayahnya masih hidup. Sang lelaki merasa berhutang budi, maka dari itu ia menikahinya dan membawa perempuan malang tersebut ke kota, tempat tinggalnya. Namun tak ada yang tahu, bagaimana pedihnya tinggal di kota bersama keluarga baru. Perempuan tersebut tidak mengetahui kehidupan seperti apa yang menunggunya. Rumahnya yang di desa bak neraka sebelum mati. Setelah dibawa pergi dari sana pun, alih-alih bahagia, ia malah harus menerima dinginnya hidup seorang diri tanpa ada yang menginginkannya.”