icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon
KEPINCUT PAPA MUDA

KEPINCUT PAPA MUDA

Penulis: LucioLucas
icon

Bab 1 KPM - 1

Jumlah Kata:1650    |    Dirilis Pada: 12/07/2024

terlihat biru dengan gumpalan lembut berwarna putih yang menggantung serta sinar matahari yan

angsung dengan kawasan industry yang padat di kabupaten tetangganya. Komplek perumahan sederhana yang berada di ujung Barat kota, dengan fasili

ih. Pada pintu masuk terdapat papan nama besar yang menunjukkan nama sebuah Klinik Kesehatan. Sebuah klinik sosial

n Althea sejak kecil, tepatnya sejak Papanya meninggal tanpa mendapatkan perawatan karena keterbatasan biaya. Dan takdir berkata lain, setahun

njang yang disediakan untuk para pasien yang menunggu giliran diperiksa. Dilengkapi dengan me

an beberapa ruang periksa, dan beberapa yang lain di antaranya sedang melaku

ran. Mereka sudah berkawan karib sejak awal pendidikan kedokteran di Kota Pahlawan itu. Althea sendiri adalah seorang Dokter Spesialis Anak. Ia dan

a kisaran awal 20-an tahun. Tatapan kesal ia layangkan ke mereka bertiga bergantian. Saat ini prakteknya sedang ramai, dan ia kehilanga

ita itu berkata dingin dan angkuh. "Kamu pas

ngkat bahu.

adi Dokter begini itu karena uang Papaku. Kamu harusnya t

kter karena karena beasiswa, bukan karena uang Opa. Asal kalian tahu selama ini Mama aku yang telah

p sama sifat. Buktinya sekarang! Jelas-jelas kami cucu kandung Opa, tapi selalu kamu persulit kalau kami butuh sesuatu.

g meminta. Kini, ia sendirian dan tidak akan menyerah begitu saja. Tante dan para sepupunya ini memang tidak pernah bersikap baik, bahkan sejak dahulu ketika k

up kalian hanya berfoya-foya, nggak peduli pada kesehatan Opa! Mama aku yang telah merawat Opa, sejak kami dibawa kembali ke

kalian. Kalian hidup enak menggunakan uang Opa, dan baru datang setelah Opa mencabut hak waris kalian. Sekarang, a

enahi kera kaosnya dan maju. "Kak, tolong jangan emo

mu malah manggil dia, Kak sih." Si anak perempuan menarik leng

juang mengejar beasiswa dan menjadi mahasiswa berprestasi. Ia bangun karir Dokternya dengan keringat dan air matanya. la tidak akan melanggar sumpa

ergelangan tangan dan mengikat rambutnya. "Sebaiknya, k

ggak t

a! Taha

nnya dan berdiri berhadapan dengan A

nah diterima dalam keluarga besar kami! Kamu tidak tahu itu, 'kan? Mama kamu menikah dengan Papa kamu tanpa restu Opa, s

gipula itu adalah masa lalu, Opa bahkan sudah meminta maaf langsung kepadanya dan Mamanya di depan makam sang Papa. Dahulu memang Opa tidak se

i sini, atau aku p

ama kami!" Cal

u barengan, biar s

n terbuka, seorang pria berpotongan tegap dan berambut cep

k pasien. Dokter Althea, aku sudah panggil

tangan mamanya. "Jangan sampai di

dendam. "Aku akan datang lagi, sampai kamu m

akan kalah sama tukang ribu

menggumamkan sumpah serapah, mereka meninggalkan klinik itu. Clay memberikan senyu

memburuk setelah bersitegang dengan tante dan sepupunya. Bukan kali ini saja mere

h mau ditemuin Dok?" ucap si pria tadi yan

lan gini. Sial! Mereka ng

k percaya gi

nya emang Papa Mama aku menikah tanpa restu, tapi itu dulu. Sekarang bahk

kerjanya menuju jendela ruang kerjanya yang tidak tertutup. Ia membiarkan cairan dingin itu mengalir

bagaimana?" t

adapi orang-orang itu. Sejak kecil Mama sudah terbiasa menerima perlakuan k

an nada menghibur. "Jangan sedih lah, Dok. D

suatu. "Oya Dok, nanti malam ada jamuan makan malam para Dokter. Di Roof To

weekend selalu ada yang mengundan

, kami juga tadi dapat bingkisan syukuran Dok. Dokter nanti tinggal datang buat berseneng-s

knya saat ini sedang ramai, polusi udara sangat buruk sehingga banyak anak yang terserang ISPA. la tidak akan membiarka

benar membuatnya sakit hati dan sedih secara bersamaan. Ia tidak perlu mencari pembenaran, karena baginya sejak Opa menemukan mereka d

nang-senang dan menambah kolega Dokternya. Mungkin itu adalah cara terbaik untuk melupakan tentang kekesalan da

engobrol dan bersenda gurau dengan teman-temannya. Semakin banyak topik obrolan

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka
KEPINCUT PAPA MUDA
KEPINCUT PAPA MUDA
“"Anak-anak manis, kalian tidak apa-apa?" Kedua anak kembar itu mendongak, wajah mereka sudah dibasahi hujan dan air mata. Mendadak, kedua anak itu berteriak keras sambil memeluk Althea. "Mamaaaa...!!" "Wait... Mama? Siapa Mama?" "Eh, tunggu. Kalian siapa?" tanyanya bingung. "Oh, ada mamanya. Bagaimana kerja kamu jadi jadi orang tua, hah! Anak dibiarin hujan-hujan. Lihat, nih, saya hampir jatuh karena ngindarin anak itu!" Althea, seorang dokter muda mandiri yang tidak mengenal kata manja. Ia dibesarkan oleh orangtua tunggal, Mama-nya, setelah Papa-nya meninggal karena terlambat mendapat penanganan medis. Sang Papa adalah pekerja keras yang memilih meninggalkan kekayaan keluarganya dan hidup bersama Mama-nya. Setelah kepergian Sang Papa, Opa dari Papa-nya kembali datang untuk membawa Althea dan Mama-nya masuk menjadi bagian keluarga. Ketulusan dan kebaikan hati Althea dan Sang Mama membuat Opa-nya begitu menyayangi dan mempercayakan seluruh asset-nya untuk mereka kelola. Hingga di akhir hayatnya, Sang Opa mewariskan seluruh asetnya kepada keduanya. Hal ini menimbulkan konflik dengan Sang Tante serta sepupu-sepupunya. Kelembutan hati Althea membawanya bertemu dengan sepasang anak kembar yang telah ditinggal meninggal oleh Mama-nya sejak kecil. Rasa senasib karena harus hidup dengan orangtua tunggal, membuat Althea sangat memahami kesepian anak-anak itu. Terbukti dengan begitu mudahnya ia dekat dan sayangnya Althea pada kedua anak kembar – anak tetangganya itu. Kedekatannya dengan anak-anak itu membuat mereka merasa aman dan bergantung pada Althea. Siapa sangka, kasih sayangnya pada anak-anak itu membawanya pada kisah cinta yang tidak biasa namun tetap indah. Sementara itu Evander, duda keren beranak dua, tidak pernah menyangka bahwa usahanya untuk membentengi diri dari wanita demi anak-anaknya, justru dibuat kembali merasakan jatuh cinta seperti anak remaja oleh seorang wanita unik. Kisah cinta mereka tidak semulus jalan tol, juga tidak secantik taman bunga, tapi cukup menggemaskan dan penuh tantangan.”