icon 0
icon Pengisian Ulang
rightIcon
icon Riwayat Membaca
rightIcon
icon Keluar
rightIcon
icon Unduh Aplikasi
rightIcon

BUKAN ANAK HARAM

Bab 3 AWAL PENDERITAAN

Jumlah Kata:1009    |    Dirilis Pada: 17/04/2024

mutuskan untuk tidak pergi ke sekolah dulu. Ia membuatkan adiknya sarapan. Lalu membersihkan rumah dan mencuci serta

ajahnya tampak begitu lelah. Dan, saat ia menatap Kart

u marah," kata Kartika pada Agung adiknya. Namun, belum sempat

aju-bajumu, lalu ikut Ibu!" p

bu?" tanya Karti

k tanya, cepat!"

nya itu. Dengan gerakan cepat, Sulastri menyambar tas jinjing dan mengisinya den

minah, dengar?!" kata Sulastri pada Agung. Agung hanya

t kesakitan. Sulastri menyetop taksi yang kebetulan lewat dan langsung mendorong Kartika untuk cepat m

pun langsung menarik tangan Kartika dan menyeretnya

tak lama setelah memencet bel, seorang wanita cantik

ihnya dan berpaling pada Kartika. "Kau tinggal di sini dan menurut kepada tante Sania," kata Sulastri datar. Belum lagi sempat Kartika berkata-kata tangannya s

risi pakaiannya. Ia tampak sedikit ketakutan, bagaimana ti

usiamu?" tanya Sania sambil

a 16 tahun, tante," jaw

menurut kepadaku. Asal kau tau saja, aku baru saja membelimu sebesar 50 juta rupiah dari I

ntu di rumah ini, Tante?" t

Tapi, bagus itu artinya Sulastri tidak berdusta. Jadi, aku bisa m

enghampiri mereka, "Ada apa sih, Mamiih? Teriak-

mess. Aku baru membayarnya 50 juta, jadi kau buat dia cantik," kata Sania.

al di poles dikit udah pasti langsung bersinar kaya bintang, e

angat cantik, namun bagi Kartika pakaian- pakaian itu begitu terbuka dan terlalu seksi. Dengan cepat, Teti mendudukkan Kartika di kursi,lalu ia mengambil alat- alat

an satin berwarna hitam dengan kerah Cheongsam. Dress itu sebenar

anya. Kartika dengan gu

gus sekali. Ini b

masa akikah yang pake?

ya di mana?"

dengan sekali tarik ia merobek pakaian yang K

oleh Teti. Melihat penampilan Kartika, Teti langsung bertepuk tangan. Tak lupa Te

t penampilan baru Kartika, Sania yang sedang bicara dengan sese

kan kerjaan eik

ar, ini nomor kamarnya. Inget di tunggu di lobby. Sekalian, ambil bayarannya. Inget hany

leh Sania bukanlah sesuatu yang baik. Perlahan

dan begini?" tanya Kartika lirih. Sania tertawa terbahak-bahak. "Kamu ini polos, benar-benar polos ya. Ap

t Ibu pulang beliau hanya menyuruh saya untuk mengema

k anak cantik, Ibumu sudah menjualmu kepadaku. Untuk apa? Untuk aku jadikan s

enjualnya. Air mata Kartika menetes seketika. Ia merasa lemas seperti tidak bertulang. Sania menyeringai, "Tidak perlu menangis, yang perlu kau lak

Buka APP dan Klaim Bonus Anda

Buka